Mengikuti Keseharian Generasi Z Golongan Pertama

Oleh: Aulia Adam - 2 Agustus 2017
Dibaca Normal 7 menit
Dunia sedang bergerak dari tangan Generasi Milenial ke Generasi Z.
tirto.id - Ia punya banyak sekali julukan. Kadang orang memanggilnya Laz, Lazu, Ardi, Juar, Dek, atau Lala. Tergantung lingkaran pertemanan. Di kampus, oleh kawan-kawan seangkatan, ia dipanggil Dek Lazu atau Dek Ardi, sebab ia lahir paling bontot. Kawan-kawan sekolah dulu memanggilnya Lazu, sementara kawan-kawan dekat di organisasi kampus punya sapaan yang lebih variatif, semisal: Ardi, Juar, dan Lala.

Nama-nama itu kadang memang tercipta dari olok-olok, tapi bagi dirinya sendiri tak ada yang salah dari sapaan-sapaan itu. Ia tetap menoleh ketika dipanggil. Di rumah, ia dipanggil Ardi. Lahir dengan nama Lazuardi Pratama, ia anak sulung dari pasangan Melayu-Palembang yang merantau ke Pematangsiantar—dari Sumatera Selatan hijrah ke Sumatera Utara.

Meski masih di tanah Sumatera, bukan berarti keluarga kecil itu tak perlu beradaptasi. Palembang adalah kota terbesar di Sumatera Selatan dengan mayoritas penduduk Melayu. Sementara Pematangsiantar adalah kota terbesar kedua di Sumatera Utara, dengan mayoritas penduduk Batak.

Sedikit-banyak, ada perubahan habitat yang harus mereka hadapi. Ardi sendiri tak terlalu merasakannya. Ia baru berusia beberapa tahun ketika tiba di Pematangsiantar. Kelak, logat dan dialek Ardi ketika dewasa memang lebih kasar daripada orang Melayu yang tumbuh di tanahnya sendiri.

Ia lahir pada 3 November 1995. Pada 1995 pula, Pos Indonesia berubah bentuk badan usahanya dari perusahaan umum menjadi persero; MTV untuk pertama kali masuk ke Indonesia sebagai salah satu program di stasiun televisi ANTV; Nike Ardila mengeluarkan album Sandiwara Cinta; Bandung Raya mengalahkan PSM Makasar pada final Liga Dunhill di stadium Gelora Bung Karno; dan untuk pertama kali setelah tahun 1983, Indonesia kembali mengirim wakilnya—Susanty Manuhutu—ke ajang Miss Universe.

Di tahun yang sama pula sejumlah akademisi ITB—tergabung dalam Computer Network Research Group (CNRG)—membangun jaringan internet menggunakan Radio Paket. Usaha ini dikenal sebagai salah satu upaya memperluas jaringan internet di Indonesia. Sebelumnya, internet memang sudah masuk negeri ini sejak 1990. Namun, ia masih dinikmati oleh sejumlah kalangan saja. Baru pada 1994, Indonet hadir sebagai Penyelenggara Jasa Internet komersial perdana di Indonesia.

Tanpa disadari Ardi, peristiwa-peristiwa itu yang kelak memengaruhi masa pertumbuhannya.

Generasi Z Golongan Pertama

Jika Ardi sekarang punya pacar, mungkin pacarnya akan cemburu pada hobi menonton Ardi. Ia memang punya ketertarikan besar pada film. Jika sebagian orang menganggap film sebagai hiburan belaka, Ardi justru senang mengambil nilai filosofis dari sana, tak jarang mengulasnya di blog personal, dan membagikan opininya di media sosial atau grup percakapan yang isinya para pencinta film.

“Ada perasaan enggak enak kalau ketinggalan bahasan tentang film,” kata Ardi.

Ia memang punya hobi menonton yang akut. Dalam seminggu ia bisa pergi ke bioskop dua hingga tiga kali, kadang lebih. Tapi, di luar itu, ia bisa menghabiskan berjam-jam seharian setiap hari di kamar untuk menonton streaming atau film unduhan.

Ardi juga memakai jasa streaming lokal. Ia memilih HOOQ, jasa penyedia film-film secara streaming. Ia mungkin akan pakai Netflix, jasa streaming paling laris di dunia, jika pemerintah Indonesia tidak melarang bisnis itu masuk sini.


Pustaka film Netflix faktanya lebih komplet dari jasa streaming lain di Indonesia. Mereka bahkan memproduksi filmnya sendiri. Tapi, karena alasan pemakaian yang lebih mudah, Ardi akhirnya memilih HOOQ. Ia selalu memperpanjang langganan tiap bulan, kadang dua bulan ketika ada promosi. Harganya juga terjangkau.

Ia sebenarnya masih bisa memakai Netflix, tapi proses pembayarannya memang jadi lebih ribet.

“Aku juga enggak punya kartu kredit,” kata Ardi.

Rupanya, hobi menonton streaming ini sudah jadi perilaku jamak. Riset terbaru Nielsen, yang dirangkum selama enam bulan pertama 2017, menunjukkan kebiasaan menonton dari internet meningkat dibanding pada 2015. Sebanyak 53 persen dari orang-orang berusia 21 sampai 29 tahun menonton video di internet setiap hari. Sementara 47 persen dari usia 16 sampai 20 tahun menonton setiap hari.

Ardi bisa menonton 5 sampai 6 jam dalam sehari. Dua bulan terakhir waktunya memang lebih lengang, usai mengundurkan diri sebagai jurnalis di sebuah majalah swasta di Medan. Ia ingin fokus pada skripsi yang belum kelar sejak tahun lalu. Waktunya makin lengang ketika dinyatakan lulus sidang skripsi, 26 Juli kemarin. Selain menonton, sarjana muda ilmu komunikasi ini juga senang menghabiskan waktu dengan bermain gim sambil mendengarkan musik streaming.

“Biasanya ya sekalian. Sambil main gim, ya dengerin musik,” ungkap Ardi.

Hidup Ardi memang serba-streaming. Ia lebih akrab dengan internet ketimbang televisi, apalagi radio. Bahkan ia lebih sering belanja barang-barang pribadi di dunia maya, ketimbang di toko nyata.

Meski di indekosnya tidak ada wi-fi, tapi gaya hidup Ardi yang dekat dengan internet tak putus begitu saja. Setiap bulan ia punya anggaran pengeluaran khusus untuk beli kuota internet. Kira-kira Rp75 ribu sampai Rp90 ribu. “Kurang lebih bisa 18 gigabit dalam sebulan," tambahnya.

Sejak internet muncul, gaya hidup manusia memang berubah. Generasi pertama yang paling kena dampak disebut Generasi Milenial atau Generasi Y. Mereka ini lahir pada awal 1980-an sampai medio 1990-an. Ciri-ciri khusus mereka adalah gaya hidupnya begitu lengket dengan internet dan teknologi. Selama ini, Ardi pikir ia masuk kategori tersebut.

Nyatanya, ia bukan. Karena lahir pada 1995, Ardi justru masuk ke generasi berikutnya yang disebut Generasi Z atau Generasi Internet.

Generasi ini memang punya definisi umur yang beragam di seluruh dunia. Badan statistik Kanada menghitung Generasi Z mulai dari anak-anak yang lahir pada 1993 sampai 2011. McCrindle Research Centre di Australia menyebut Generasi Z sebagai orang-orang yang lahir pada 1995 sampai 2009. MTV lain lagi: mendefinisikan generasi itu sebagai orang-orang yang lahir selepas Desember 2000.

Namun, terlepas perbedaan tahun tersebut, mereka semua sepakat bahwa Generasi Z adalah orang-orang yang lahir di generasi internet.

Perbedaan generasi ini dengan Milenial rupanya cukup banyak, terutama dalam kedekatan dengan teknologi. Jika Milenial adalah generasi yang serba-setengah-setengah: setengah menikmati era sebelum internet, dan era sesudahnya, maka generasi Z adalah mereka yang lingkungannya sudah murni terpapar pengaruh internet sejak kecil.

Dengan definisi ini, Ardi masuk ke dalam Generasi Z golongan pertama.

Lebih Global, Lebih Toleran, tapi Lebih Tidak Fokus

Meski sudah resmi menyandang gelar sarjana, Ardi belum terburu-buru mencari pekerjaan tetap. Ia justru ingin mengambil jeda untuk ‘me time’ atau liburan bila sempat.

“Selama ini aku ngerasa selalu ada yang ngejar-ngejar. Ini pertama kali enggak terikat apa-apa. Enggak perlu ada yang dikejar juga. Jadi, ya mau dinikmati dulu,” katanya.

Orangtua Ardi, yang keduanya pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan, juga tidak menuntut apa-apa. Semua diserahkan kepada Ardi sendiri.

“Kalau aku sebenarnya belum ada rencana jangka panjang. Takut anxiety berlebihan, jadi enggak dipikirin dulu,” tambahnya. “Palingan sambil lowong ini nulis-nulis freelance.”

Ia juga belum ada rencana meneruskan pendidikan ke jenjang master dalam waktu dekat. Kalaupun ada, Ardi ingin meneruskan studi tentang analisis media atau kritik seni.

Generasi Z memang punya kecenderungan karakter "melawan rute tradisional". Ini disebabkan gaya hidup mereka yang lebih dekat dengan internet, menciptakan karakter yang lebih global dari generasi-generasi sebelumnya.

Kemajuan teknologi mengubah banyak gagasan baru tentang pekerjaan tetap. Generasi Z lebih kreatif dari Baby Boomer, Generasi X, dan Milenial. “Mereka tak takut untuk melawan orang tuanya,” kata Rhenald Kasali, akademisi dan praktisi bisnis yang mengamati tingkah pola generasi internet. Yang dimaksud "melawan" oleh Rhenald adalah sikap berani menerobos pola-pola pikir tradisional yang coba diinjeksikan orangtua kepada anaknya.

Menurutnya, kemajuan teknologi tak hanya mengubah gaya hidup tapi juga membuka banyak jenis pekerjaan baru.

“Ada pekerjaan yang akan hilang, tapi akan ada banyak yang tumbuh lagi,” tambah Rhenald.

Ia mencontohkan adanya ojek online yang menggantikan ojek konvensional, atau pengecer konvensional yang digantikan gerai-gerai online. “Perputaran uang cuma berpindah, bukan berkurang. (Perputaran) di dunia maya memang jadi lebih meningkat.”

Meski melawan alur tradisional, generasi ini dikenal sebagai orang-orang paling terdidik yang pernah ada di dunia, setidaknya sampai saat ini. Golongan pertama yang kini berusia 21-22 tahun sudah memasuki usia produktif kerja. Jika perbandingan sarjana pada Generasi Baby Boomers adalah 1 banding 5, sementara Generasi X adalah 1 banding 4, dan Generasi Y adalah 1 banding 3, maka Generasi Z diisi 1 banding 2 orang.

Selain punya lebih banyak sarjana, mereka juga memulai sekolah lebih awal dari generasi sebelumnya. Membuat generasi ini lebih akrab dengan teknologi, lebih gesit, dan serba-bisa alias multi-tasking.

Ardi sendiri selalu jadi orang paling muda di kelasnya. Ia memang disekolahkan orangtuanya lebih cepat setahun, membuat Ardi terbiasa diperlakukan sebagai bocah. Apalagi dulu badannya lebih kecil dari anak seusianya. Tingginya baru menjulang menjadi 177 sentimeter ketika sudah di sekolah menengah atas.

Pendidikan juga membuat generasi ini lebih toleran pada isu-isu ras, seksualitas, dan keberagaman. Dalam paparan agen pemasaran Sparks and Honey yang viral pada 2014, Generasi Z nyatanya lebih berpikiran terbuka dari Generasi Milenial. Ardi termasuk yang demikian.

Lingkungannya beragam. Ia punya teman dari golongan Islam konservatif, liberal, LGBT, feminis—dari beragam suku dan agama. Baginya, tak ada yang perlu dikhawatirkan selama ideologi seseorang tidak mempromosikan kekerasan. Yang penting sama-sama menghargai.

Ardi sendiri feminis—ia percaya perempuan dan laki-laki setara. Ia juga tak percaya bahwa orientasi seksual menular, dan paham perbedaan gender dengan konstruksi sosial. Dalam pandangannya, dunia ke depan bakal lebih cair. Semua orang harusnya bebas memilih.

Infografik HL Generasi Z

Masa Depan di Tangan Mereka

Pada 4 Desember lalu, Liverpool kalah dibantai Bournemouth. Sebagai Liverpudlian, ia mengekspresikan kekalahan dramatis klub favoritnya itu lewat kicauan. Ia merutuk nama binatang lewat dua tweet pertama. Yang ketiga, ia meracau: Pulang nobar rasanya pengin ngegas motor sampe nyemplung sawah-sawah kampung susuk.

Masih belum puas, ia tambah lagi: Mudah-mudahan Emyu menang lawan Everton agar supaya paripurna sudah duka dan nestapa akhir pekan ini.

Di antara semua media sosial yang ia punya, Twitter memang favorit Ardi. Sehari ia bisa mengicau berkali-kali, kalau tidak me-retweet atau menyukai sejumlah kicauan orang lain. Intinya, Twitter adalah media sosial yang paling sering dibukanya lewat ponsel. Menurutnya, flatform aplikasi ciptaan Jack Dorsey, Noah Glass, Biz Stone, dan Evan Williams itu adalah yang paling cocok dengan karakternya. Ia senang mendapat berita terkini yang lancar muncul di beranda linimasa.

Ini hal unik. Pasar padahal sedang berpaling dari Twitter menuju Instagram dan Snapchat. Konten grafis yang dijual dua aplikasi raksasa itu jadi dagangan yang laris. Di Jawa-Bali saja, menurut riset Tirto, Instagram jadi aplikasi paling sering diakses oleh Generasi Z. Angkanya sampai 54,2 persen.


Lalu mengapa Ardi masih bertahan di Twitter?

Ia merasa konten mini-vlogging yang dijual Instagram atau Snapchat tidak terlalu sesuai karakternya. Tapi bukan berarti ia tidak melihat video-video singkat milik kawan-kawannya. Hanya saja, Ardi merasa tidak terlalu mendapat banyak informasi dari sana, tak sebanyak yang didapatnya dari Twitter.

Ahli pemasaran Gen Z, Connor Blakley juga membaca tanda ini. Di blognya, ia menulis kajian tentang Gen Z yang akan menyelamatkan Twitter. Kata Connor, platform Twitter yang menyediakan panggung untuk bersuara masih menarik di mata Generasi Z. Format tanda pagar yang kali pertama diperkenalkan juga mempermudah generasi ini mencari diskusi yang membuat mereka tertarik. Faktanya, Generasi Z memang sukar melepas ponsel pintarnya dari genggaman, membuat mereka jadi lebih terkoneksi lewat media sosial.

Ardi sendiri punya tujuh akun media sosial yang terinstal di ponselnya: YouTube, Instagram, WhatsApp, Line, Twitter, Facebook, dan Telegram. Ia juga punya Spotify untuk mendengar musik, dan HOOQ untuk menonton streaming, tentu selain dari YouTube.

Baca:


Keterikatan Generasi Z pada media sosial menjadi isu menarik yang terus dikaji. Perubahan gaya hidup yang disebabkan internet menjadi hal menarik bagi pasar. Nyatanya, dunia yang semakin cepat dibikin internet berdampak banyak pada perubahan gaya hidup.

Menurut Mark McCrindle dari McCrindle Research Centre di Australia, Generasi Z adalah eksperimental dunia. Selama ini tak ada penelitian lengkap tentang bagaimana dampak menatap layar multimedia selama 10 jam lebih dalam sehari pada sebuah generasi. McCrindle salah satu yang yakin bahwa bukan cuma selera pasar dan ekonomi dunia yang akan diubah Generasi Z, preferensi politik juga akan berubah.

Selama satu dekade belakangan, banyak kajian yang dibuat untuk menerka ke mana arah perubahan yang dibawa Generasi Z. Termasuk milik McCrindle, Spark and Honey, MTV, dan lainnya. Tapi waktu itu, Generasi Z belum sedewasa sekarang. Pilihan mereka kurang lebih masih terpengaruh pola asuh orangtua.

Kini, golongan pertama dari generasi ini sudah memasuki usia produktif. Mereka akan segera terjun ke dunia profesional—sebagian besar bahkan sudah memulainya sejak usia lebih muda. Artinya, perputaran dunia sedang pindah dari Milenial ke tangan Generasi Z.

Di tangan Milenial saja dunia berubah: dari tangan Mark Zuckerberg yang kini berumur 32 tahun, Facebook lahir dan menjelma menjadi salah satu media sosial terbesar paling berpengaruh yang pernah ada. Menonton YouTube berubah jadi kebiasaan lumrah sehari-hari. Bermusik tak lagi tentang mengeluarkan album berbentuk kaset, CD, atau Vinyl.

Jam bekerja tak lagi monoton dimulai pukul 9 dan berakhir pukul 5. Pergi ke kantor pun tak mesti berpenampilan serba-licin. Desain kantor juga jadi lebih terbuka, lebih santai, dan penuh mainan.

Hal lain yang tak pernah dinikmati generasi lain sebelum Milenial adalah: memesan makanan, jasa antar-jemput, jasa pijat, jasa bersih-bersih rumah, tiket nonton di bioskop, bahkan mengisi pulsa, cuma sejauh satu klik saja. Lantas, kira-kira ke mana arah dunia ini akan dibawa Generasi Z?

Sebuah pertanyaan yang juga membuat Ardi penasaran.

Baca juga artikel terkait GENERASI Z atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight