Fesyen Gen Z: Minggir Seleb Teve, Selebgram Panutan Kami

Oleh: Patresia Kirnandita - 3 Agustus 2017
Dibaca Normal 5 menit
Meski disebut 'pribumi' era digital dan memperoleh referensi fesyen dari internet, Generasi Z cenderung memilih belanja langsung di toko.
tirto.id - Seperempat warga dunia saat ini berasal dari generasi yang lahir antara 1995 dan 2010. Pada 2020, jumlah dari generasi ini akan meningkat menjadi sepertiga warga dunia. Mereka dikategorikan sebagai Generasi Z.

Salah satu ciri Gen Z adalah tingkat keakraban mereka dengan teknologi, khususnya media sosial. Semakin mereka remaja dan dewasa, semakin mudah mereka menyerap beragam hal lewat gawai mereka. Dari pencarian informasi mengenai isu-isu terhangat hingga pembelian barang-barang sesuai kebutuhan dan kegemaran, portal berita, dan situs belanja online. Demikian pula akses terhadap transportasi. Cukup buka aplikasi di gawai, mobil atau motor siap menjemput dan mengantar Gen Z di kota-kota urban.

Baca:

Sebagaimana remaja dan dewasa muda dari era ke era, fesyen menjadi salah satu aspek yang diperhatikan oleh mayoritas Gen Z. Lewat busana, tas, sepatu, atau kosmetik, mereka mencoba menunjukkan identitasnya.

Beberapa lembaga melakukan survei untuk mengulik perilaku fesyen yang digandrungi Gen Z.

Dikutip dari PR Newswire, platform crowdsourcing Dealspotr baru-baru ini melakukan survei terkait perilaku belanja dan preferensi merek fesyen Gen Z. Responden yang dipilih adalah orang-orang yang kerap mengakses laman fesyen Dealspotr. Survei itu menunjukkan bahwa H&M menduduki posisi puncak merek pakaian yang dipilih anak-anak di bawah 20-an. Beberapa ritel besar lain macam Zara, Uniqlo, dan Gap berada di posisi 20 teratas merek fesyen yang disukai Gen Z.

Kecenderungan menggandrungi produk dari peritel fesyen internasional tak hanya ditemukan dari data Dealspotr.

Sejak Maret hingga Juni 2017, tim riset Tirto membuat survei terhadap 1.201 responden dari Generasi Z (7-21 tahun), salah satunya menilik perilaku belanja produk fesyen. Responden tinggal di Bandung, Denpasar, Jakarta, Surabaya, Tangerang, dan Yogyakarta—pendeknya, Pulau Jawa dan Bali, yang jadi konsentrasi sebaran penduduk Indonesia.

Untuk kategori merek baju pilihan, Adidas menempati urutan pertama responden laki-laki, sementara Zara menjadi preferensi nomor satu bagi responden perempuan. Sementara untuk kategori sepatu, Nike jadi pilihan favorit para responden, disusul Adidas, Converse, Van’s, Tomkins, dan Reebok.

Tim riset Tirto juga mendapati lebih dari 70 persen Gen Z di Jawa dan Bali memutuskan sendiri merek dan model produk fesyen yang ingin mereka beli. Seiring perkembangan waktu, tingkat keterlibatan orangtua makin rendah dalam pembelian produk fesyen anak-anaknya.

Tak hanya perkara selera, Generasi Z membeli kebutuhan fesyen dari pemasukan sampingan dan mengumpulkan uang jajan. Dari responden yang diteliti tim riset Tirto, sebanyak 69,3 persen anak SD di Jawa dan Bali menerima uang jajan kurang dari Rp10 ribu per hari. Untuk anak SMP, mayoritas (54,9 persen) menerima uang jajan harian antara Rp10-20 ribu. Begitu pula untuk anak SMA: sekitar Rp10-20 ribu per hari (35 persen). Bagi anak kuliah, 29,7 persen menerima uang jajan harian antara Rp30-50 ribu.

Hal menarik dari temuan tim riset Tirto lain adalah sekitar 90 persen responden menyatakan lebih senang membeli produk fesyen di toko atau mal atau pasar.

Meski Generasi Z adalah 'pribumi' era digital, sebagian besar dari mereka tak serta merta memilih opsi belanja online. Ini juga diafirmasi dalam survei Dealspotr yang menunjukkan pembelian di toko masih jamak dalam perilaku belanja Gen Z.

Memang benar gaya hidup generasi ini tak jauh dari koneksi internet, tetapi intimasi mereka pada teknologi lebih banyak dipakai untuk mengumpulkan informasi atau memperbarui referensi soal tren fesyen terkini.

Seperti diakui Sabila Anata, 21 tahun, yang masuk Generasi Z gelombang pertama, media sosial dipakai hanya untuk mencari inspirasi dalam berbusana.

“Seperti mencari kombinasi warna yang menarik hingga mengetahui tren fashion terkini. Tentu semua enggak aku serap 100 persen, tetapi hanya aku serap yang sesuai dengan gayaku,” katanya.


Dari survei Dealspotr, kita bisa mendapati 47% Gen Z menghabiskan waktu window shopping di depan layar gawai. Dari data ini, kita bisa menerjemahkan bahwa Gen Z lebih senang mencari tahu dulu informasi seputar produk fesyen sebelum membelinya secara langsung.

Itu meneguhkan anggapan bahwa Gen Z berhati-hati dalam menggunakan uang; mereka ingin tahu apakah harga suatu produk fesyen sepadan dengan apa yang akan mereka dapatkan.

Meski cermat dalam membuat pengeluaran, kualitas tetap menjadi prioritas Gen Z. Ini diakui oleh Bella Setiowati, 21 tahun, “Gue belanja produk fashion bermerek lebih karena kualitasnya. Misalnya, gue, kan, suka beli kaus kaki yang lucu desainnya. Gue lebih senang yang bermerek karena kualitasnya lebih bagus, lebih tebal, biasanya ada karetnya yang enggak mudah melar. Selain itu, ada juga kaus kaki yang antibakteri.”

Sementara, menurut Sabila, desain jadi pertimbangan utama untuk membeli produk fesyen, disusul harga.

“Aku selalu melihat dulu apakah harga produk worth the design. Aku enggak akan mau beli barang mahal kalau barang itu kelihatan murahan. Alih-alih, aku akan mencoba sesuatu yang secara harga terjangkau, tetapi terlihat premium,” ujar yang juga ikut menulis buku DIY Fashion Project (2014).

Bella juga menyatakan lebih senang berbelanja langsung dibanding online. Menurut mahasiswi jurusan Sastra Cina UI semester 7 ini, berbelanja online memiliki beberapa kelemahan, “Nunggu durasi pengiriman kadang lama, terus barang yang datang belum tentu sesuai keinginan, bisa jadi kegedean atau kekecilan. Gue pernah beli sepatu, pesan nomor 38, tapi yang datang malah nomor 40.” Sabila menyatakan alasan yang sama: produk online yang dibelinya pas datang tak sesuai pesanan.

Di samping risiko barang tak sesuai harapan, kecenderungan Gen Z lebih memilih berbelanja langsung juga dipicu oleh alasan fungsional. Berdasarkan survei Ernst & Young, 58 persen remaja ingin melihat dan menjajal langsung produk yang akan dibeli. Sementara ada 50 persen responden enggan belanja online lantaran emoh menghindari biaya pengiriman.

Preferensi Kosmetik Gen Z

Ayu Hapsari, 21 tahun, mengatakan senang membeli lip liquid merek Wardah. Awalnya ia tertarik membeli produk Wardah lantaran label halal.


Baru setelah mencobanya, Ayu merasa nyaman memakainya. “Kayak lip liquid yang aku pakai, teksturnya ringan, enggak kayak merek-merek lokal lain. Di samping itu, harganya juga terjangkau,” ujar mahasiswi ISI Yogyakarta ini. Preferensi terhadap kosmetik Wardah, selain Maybelline, juga diakui oleh Bella Setiowati.

Orang-orang yang saya wawancarai berkata menggunakan kosmetik sejak usia belasan dan semula dari pengaruh orangtua atau kakak.

Ayu mengisahkan kali pertama ia memakai kosmetik dari ibunya yang kerap merekomendasikan beberapa merek. Padahal, merek-merek orang dewasa belum tentu cocok dipakai Ayu. Akhirnya, ia mulai mencari tahu sendiri merek lain yang cocok untuk kulit dan wajahnya.

Sarah, 22 tahun, memilih merek kosmetik dari mengamati kakaknya yang kerap berdandan. Sementara Aina, 15 tahun, memakai kosmetik dari rekomendasi keluarganya karena dibilang wajahnya terlihat lusuh bila tanpa produk perawatan kecantikan.

Temuan-temuan ini menunjukkan preferensi kosmetik Gen Z masih banyak dipengaruhi oleh generasi sebelumnya. Terlebih karena jarak usia Gen Z gelombang akhir pada pertengahan 2000-an berdekatan dengan Generasi Milenial awal yang lahir pertengahan 1990-an.

Adellina Fitriyani, 28 tahun, adalah make up & beauty enthusiast dari kategori Milenial yang konten media sosialnya menarik perhatian sebagian Gen Z. Sebesar 71 persen dari 723 ribu pengikut Twitter dia (per 3 Agustus 2017) berusia 18-24 tahun. Perempuan yang akrab dipanggil Adel ini sering memublikasikan rekomendasi beberapa produk kecantikan di akun Instagramnya.

Adel memaparkan alasannya kerap mengunggah gambar-gambar produk kosmetik di Instagram, “Aku ingin berbagi informasi seputar produk yang aku pakai, mana yang aku suka, mana yang aku tidak suka, mana yang bagus, mana yang biasa aja, mana yang jelek. Aku selalu memberikan informasi yang jujur berdasarkan pengalamanku mencoba produk tersebut, walau produk endorsement sekalipun, aku sangat pilih-pilih agar tidak menyesatkan follower-ku.”

Mayoritas dari orang-orang yang saya wawancarai mengatakan kosmetik wajah yang paling banyak dipilih. Sunblock, pelembap wajah, bedak, pembersih wajah, lipstik, eyeliner, dan maskara. Mereka memakai sederet kosmetik itu dan rata-rata menggunakannya sejak SMA.

Soal biaya membeli kosmetik, Fitri, Vanda, dan Vira—sama-sama berusia 20 tahun—berkata menganggarkan 10 persen dari uang saku mereka per bulan. Sementara Ayu berkata hanya menghabiskan sekitar Rp500 ribu selama enam bulan untuk membeli kosmetik. Itu pun saat salah satunya sudah ada yang habis. Lain lagi Bella yang menghabiskan lebih dari Rp1,5 juta rupiah untuk kosmetik selama tiga bulan.

Infografik Perilaku belanja generasi z

Tidak Berkiblat pada Seleb Lawas

Jika generasi-generasi sebelumnya selebritas masih jadi panutan memilih gaya berbusana dan berdandan, Generasi Z cenderung berkiblat pada influencers dan informasi di internet untuk urusan ini.

Ayu mengatakan, sebelum membeli kosmetik, ia biasanya mencari ulasan dari pengguna lain di media sosial terkait produk yang ia incar. Selain itu, ia sering mengikuti video tutorial dari beauty vlogger seperti Suhay Salim dan Chea Nuh.

Ketertarikan mengikuti video tutorial dari beauty vlogger diamini oleh Vira dan Vanda. Alasannya, gampang mengakses panduan memakai kosmetik dan informasi terkini.

Sementara bagi Adel, sejumlah akun di Instagram soal kecantikan diikutinya dengan tujuan variatif. “Biasanya aku follow akun brand, dupes, atau make-up trend seperti @trendmood1 karena akun ini memberikan informasi seputar kosmetik-kosmetik yang baru atau akan rilis."

"Jadi, aku punya kesempatan untuk menabung kalau mau membeli produknya sambil menunggu produknya rilis. Akun @dupethat juga informatif karena memberikan pilihan dupes untuk berbagai kosmetik high-end brand, bermanfaat banget kalau budget aku lagi ketat, tapi ingin beli produk high-end brand," kata Adel.

Dulu, referensi fesyen Sabila dari foto-foto dan artikel majalah Gadis yang dibacanya sejak kelas 6 SD. Dari majalah pula, ia mendapat informasi mengenai salah satu vintage fashion blogger yang lantas menginspirasinya membuat blog fesyen sejak usia 13 tahun.

Kini Sabila mengikuti beberapa akun Instagram dari luar negeri untuk memperkaya inspirasi fesyen dia seperti @k_e_e_p, @courtyard_la, @farfetch, dan @o0mame0o.

“Alasannya, karena mereka cenderung memberikan inspirasi fashion yang tidak pasaran dan bisa memproyeksikan tren fashion ke depan. Berbeda dengan kebanyakan akun fashion influencers Indonesia yang saat ini masih mengikuti tren massa, bukan memproyeksikan,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait GENERASI Z atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight