Menuju konten utama

Melihat Perayaan Tradisi "Ngumbulna" Balon Udara di Wonosobo

Sebagai tradisi yang terus hidup hingga kini, balon udara Wonosobo mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu.

Melihat Perayaan Tradisi
Balon udara aneka warna berterbangan dalam acara Kembaran Balloon Festival 2024 di Stadion Ronggolawe, Wonosobo pada Sabtu (13/4/2024). (FOTO/Rizal Amril)

tirto.id - Hari masih pagi ketika rombongan pemuda Kampung Gandok, Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah datang ke Stadion Ronggolawe Kembaran pada Sabtu (13/4/2024). Mereka datang sekitar pukul 06.00 WIB. Sinar mentari belum panas menyengat. Udara malam belum sepenuhnya pergi.

Setelah sampai di lapangan sepakbola tersebut, mereka mencari area bernomor 39 yang diberikan panitia Kembaran Balloon Culture Festival untuk menerbangkan balon yang sudah sejak sebulan lalu mereka buat. Area tersebut berada di sudut lapangan sisi barat, dekat tempat pemain bola menendang sepak pojok.

Kain terpal kemudian digelar di sana. Balon udara bercorak batik oranye-hitam yang sebelumnya dilipat, diurai di atas terpal agar tak basah terkena rumput lapangan.

Hari itu, bulan Syawal tertanggal 4, jerih payah para pemuda Kampung Gandok selama bulan puasa itu akan dipamerkan kepada para penonton yang memadati Stadion Ronggolawe. Sejak pukul 06.00 WIB, penonton sudah berdatangan demi menyaksikan 40 balon udara beraneka warna berterbangan pada hari ketiga Kembaran Balloon Culture Festival 2024 tersebut.

Para pemuda Kampung Gandok menyebut tradisi ini sebagai “ngumbulna” balon, laku masyarakat Wonosobo yang tiap tahun dilakukan untuk merayakan datangnya Lebaran.

Tahun ini, Kampung Gandok membuat balon berbahan kertas wajik (disebut kertas minyak di sebagian wilayah) berbentuk bulat dengan panjang penampang sekitar 18 meter dan tinggi sekitar 12 meter. Untuk ukuran balon udara tanpa awak model terkini, itu tidak tergolong besar, namun untuk ukuran manusia dengan tinggi 180 cm, butuh 6,6 orang yang ditumpuk vertikal ke atas hanya untuk menyamai tingginya.

Setelah balon tersebut selesai dihampar, Triyono, Lulus, dan Ibeh, salah satu pemuda Gandok yang turut serta dalam festival tersebut, bergegas menyiapkan tungku perapian yang terbuat dari kaleng besi. Tungku itu merupakan alat maha penting karena melaluinya “bahan bakar” balon berupa asap tercipta.

“Untuk bahan bakar kita menggunakan kayu dan minyak tanah,” kata Triyono.

Perayaan Ngumbulna Balon Udara di Wonosobo

Balon udara milik Kampung Gandok, Kalikajar, Wonosobo hampir penuh terisi asap, Sabtu (13/4/2024). (FOTO/Rizal Amril)

Setelah tungku selesai disiapkan, balon bercorak batik berwarna oranye-hitam milik Kampung Gandok siap diterbangkan. Cara menerbangkan balon cukup sederhana, yakni dengan memasukkan asap pembakaran kayu melalui corong tungku yang dimasukkan ke balon lewat blengker.

Blengker merupakan lingkaran bagian bawah balon udara yang biasanya dibuat dari bilah bambu. Blengker jadi salah satu komponen krusial dalam tradisi ini karena melaluinya proses pengasapan dapat dikendalikan dengan mudah.

Ben wareg ndengen!” seru Ibeh kepada pemuda Gandok lainnya, mengisyaratkan agar pengasapan terus dilakukan hingga ruang dalam balon udara “kenyang” terisi asap.

Sekitar tiga puluh menit pengasapan dilakukan, balon udara Kampung Gandok yang sebelumnya tergeletak di tanah mulai mengembang, berdiri, dan bergerak ke sana ke mari ditiup angin.

Yo karo diculna, ayo dilepas,” seru Lulus, memberi kode kepada yang lainnya jika asap sudah cukup dan siap “lepas landas.”

Setelah kelompok pengasapan menyelesaikan tugasnya, kini giliran para penambat memegang peran kunci dalam proses penerbangan balon udara. Melalui tali tambang yang diikat di blengker, mereka bertugas menjaga posisi balon di udara agar tak keluar dari area yang ditentukan.

Balon milik Kampung Gandok tak bertahan lama di udara. Setelah beberapa menit, ketinggian balon menurun. Para penambat kemudian menarik tali, membawa balon berwarna hitam-oranye tersebut kembali ke tanah dan diisi ulang agar kembali terbang.

“Terlalu banyak asap putih,” kata Triyono kepada saya, menjelaskan mengapa balon yang mereka terbangkan tak bisa lama terbang di udara. Seharusnya, katanya, balon dilepaskan setelah dipenuhi asap hitam yang cenderung lebih panas. Massa jenis asap hitam jauh lebih ringan dari udara sehingga dapat menerbangkan balon dengan lebih baik ketimbang asap putih.

Selama hampir tiga jam, dari pukul 06.00 WIB–08.30 WIB, puluhan balon udara aneka warna silih berganti terbang di Stadion Ronggolawe pada hari itu. Balon yang kehabisan asap ditarik turun dan diasapi lagi. Balon yang bergerak terlalu jauh ditarik agar tak bertabrakan dengan balon yang lain.

Selama itu pula peran para penambat tali jadi penting dalam tradisi ngumbulna balon di Wonosobo. Namun, peran ini sebetulnya belum lama ada dan kehadirannya bermula dari polemik.

Perayaan Ngumbulna Balon Udara di Wonosobo

Para pemuda Gandok, Kalikajar, Wonosobo berfoto bersama di depan balon yang mereka buat selama bulan puasa, Sabtu (13/4/2024). (FOTO/Rizal Amril)

Dalam buku Jejak Tradisi Balon Wonosobo: Bentuk, Makna, Rasa (2021) yang diterbitkan Pemkab Wonosobo, penerbangan balon udara tanpa awak merupakan tradisi yang telah berusia puluhan tahun lamanya.

Meski tak ada dokumen sejarah yang mencatat kapan persisnya tradisi ini bermula, namun sejarah lisan masyarakat wilayah ini menyebut balon udara ditemukan sejak 1920-an dan menjadi tradisi yang berkembang secara luas di daerah penghasil carica itu sejak dekade 1950-an.

Awalnya, ngumbulna balon tak dilakukan dalam festival, melainkan diterbangkan di desa masing-masing pembuatnya, menjadi ekspresi kemenangan Idulfitri para penduduk kampung.

Menurut Ketua Harian Kembaran Balloon Culture Festival, Hasan Fadholi, sebelum menjadi tontonan dalam festival, balon udara dimaknai para penduduk desa sebagai simbol ibadah yang mereka lakukan selama bulan Ramadhan.

“Pengisian asap pada balon itu simbol puasa sebulan penuh. Ketika menjalankan ibadah sebulan penuh dia akan terbang tinggi dalam arti ketakwaan,” ujar Fadholi.

Oleh karenanya, tradisi ini mulanya dilakukan dengan menerbangkan balon secara bebas ke angkasa, sebagai lambang siapa yang beribadah dengan baik di bulan suci maka pahalanya akan sampai ke Tuhan di atas sana.

Akan tetapi, dalam sepuluh tahun terakhir, penerbangan balon tanpa awak seperti yang dilakukan di Wonosobo menimbulkan protes keras dari dunia aviasi. Terutama sejak para pilot yang melintas di Pulau Jawa melaporkan dapat melihat balon udara dalam radius pandangan mereka ketika bertugas.

AirNav Indonesia, penyedia layanan air traffic services bagi pesawat penerbangan di Indonesia, merupakan salah satu pihak yang paling getol memprotes tradisi ini. Bagi AirNav sebagai penyedia jasa pemanduan lalu lintas udara, laporan balon udara yang terlihat dalam radius pandangan pilot adalah ancaman serius bagi keselamatan penerbangan.

Pelepasan balon udara secara bebas di angkasa dikhawatirkan dapat tersangkut di mesin, sayap, dan kaca kokpit pesawat yang melintas. Hal tersebut dapat berdampak pada kecelakaan pesawat yang fatal. Terlebih, tak ada metal pada balon udara tradisional sehingga tak terdeteksi radar.

Perayaan Ngumbulna Balon Udara di Wonosobo

Proses pengisian asap ke balon udara milik pemuda Kampung Gandok, Kalikajar, Wonosobo pada Sabtu (13/4/2024). (FOTO/Rizal Amril)

Sejak 2016, AirNav rajin berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota seperti Wonosobo yang jadi tempat tradisi ini dilakukan tiap tahun. Belum adanya formula yang dapat disepakati semua pihak kala itu membuat polemik ini berkepanjangan.

Sosialisasi bahaya pelepasan balon udara tak berawak bagi dunia aviasi awalnya ditanggapi sinis oleh masyarakat Wonosobo. Hal tersebut lantaran balon udara yang dianggap berbahaya memunculkan usulan melarang penerbangan balon udara secara total.

Mengingat masa itu, Triyono mengaku kecewa ketika mendengar kabar pelarangan penerbangan balon udara. Baginya kala itu, balon udara tradisional khas Wonosobo tak mungkin terbang melintasi awan.

“Kalau balon kertas itu udah naik, itu pasti di atas bakalan hancur. Jadi enggak bakalan balon kertas itu di atas bakal utuh terus. Kalau sampai awan, kertas pasti hancur karena basah,” katanya.

Ketimbang risiko bagi pesawat terbang, Triyono dulu lebih percaya pada risiko tersangkutnya balon udara di tempat-tempat krusial seperti rumah atau tiang dan kabel listrik arus tinggi.

Baginya, risiko itu lebih dekat ketimbang dampak pada pesawat. Hal tersebut, kata Triyono, karena salah satu kriteria balon kertas yang baik adalah balon yang dapat kembali turun, bukan yang terus naik dan hilang begitu saja.

Tradisi balon udara juga awalnya tak berhenti hanya pada proses penerbangan. Setelah berhasil terbang, tradisi ini dilanjutkan dengan nguber balon, menangkap balon yang jatuh dari ketinggian karena kehabisan asap atau komponen kertas yang pecah tak mampu menahan tekanan.

Kekecewaan yang dirasakan Triyono juga awalnya dimiliki Ibeh. Baginya, balon udara tak dapat dipisahkan dari perayaan Lebaran di Wonosobo. “Nek balon ke ya kaya kupat lah,” kata Ibeh, mengandaikan balon udara serupa ketupat.

Paribasane, ket bapakne ngono kuwe nek ora nggawe balon ora bada,” lanjut Ibeh, menjelaskan jika sejak era orang tuanya dulu, tak lengkap rasanya Lebaran tanpa balon udara.

Persoalan mengenai bahaya balon udara bagi penerbangan ini kemudian membuat Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, harus mengeluarkan Permenhub Nomor 40 Tahun 2018. Aturan tersebut berisi ketentuan yang harus dilakukan ketika membuat balon untuk keperluan tradisi, mulai dari warna, ukuran, maksimal ketinggian ketika dilepas mengudara, dan keharusan menambatkan balon dengan tali.

Pada masa itulah setiap orang yang membuat balon udara tak berawak harus mengaitkannya dengan tali agar tak terbang bebas ke angkasa.

Sejak itu pula, balon udara yang dilepas bebas dianggap sebagai benda yang mengganggu penerbangan dan dapat dikenakan pasal pidana sesuai UU Nomor 1 Tahun 2009. Nama balon yang diterbangkan secara bebas pun berubah menjadi “balon liar.”

Perayaan Ngumbulna Balon Udara di Wonosobo

Seorang anak dengan kostum memberi memeriahkan proses penerbangan balon udara dalam acara Kembaran Balloon Culture Festival 2024, Sabtu (13/4/2024). (FOTO/Rizal Amril)

Pemberlakuan Permenhub tersebut juga membuat polisi dapat menindak orang yang kedapatan menerbangkan balon tak sesuai ketentuan. Kasat Reskrim Polres Wonosobo, AKP Kuseni, menuturkan, pihaknya terus melakukan pengawasan balon liar tiap Lebaran sejak Permenhub tersebut diterbitkan.

“Kami mengedepankan pemantauan satuan Babinpol yang ada di polsek-polsek dan patroli dari Sabhara dan satuan reskrim,” kata dia.

Akan tetapi, pemberlakuan Permenhub tersebut pada 2018 lalu tak serta merta direspons positif oleh para pecinta balon udara di daerah penghasil komoditas kentang ini.

Hasan Fadholi yang ikut dalam mediasi antara komunitas pecinta balon udara dan pemerintah ketika Permenhub diterbitkan menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai hal tersebut berjalan alot. “Waktu itu keinginan masyarakat tetap dilepas seperti semula. Aturan itu dianggap sebagai pengekangan.”

Kendati demikian, masyarakat juga tak menampik adanya risiko-risiko penerbangan balon udara yang jadi inti polemik. Mereka mafhum jika tidak adanya mekanisme pengendalian balon udara membawa dampak negatif seperti risiko kecelakaan pesawat atau tersangkutnya balon di kabel yang mengganggu arus listrik.

Akhirnya, pembicaraan yang alot antara masyarakat dan pemerintah Kabupaten Wonosobo menelurkan satu kesepakatan, yakni melakukan uji coba penambatan balon udara pada penyelenggaraan festival ketika Lebaran.

Sejak itu, tradisi balon udara di Wonosobo berubah. Pasca uji coba penambatan balon, para pengrajin balon udara tradisional melihat sisi positif aturan ini, khususnya bagi penyelenggara festival tahunan seperti Fadholi.

“Ternyata ketika uji coba tahun pertama ditambatkan, justru masyarakat lebih nyaman, karena lebih lebih lama menikmatinya,” ujar dia.

Pada penyelenggaraan Kembaran Balloon Festival 2024, Sabtu lalu, para penonton memang memiliki lebih banyak waktu untuk menyaksikan dan memfoto aneka warna balon di udara.

Bagi Ibeh, pemuda Gandok yang ikut membuat balon pada tahun ini, penambatan balon juga ternyata berguna untuk mendorong kreativitas para pembuatnya.

“Sebenarnya, semakin diunda [ditambatkan], [pembuat] semakin berambisi,” ujar Ibeh. “Nek diunda kan kudu sing apik, genah ditonton.” Kalau ditambat, kan berarti harus bikin yang bagus, soalnya jadi tontonan, katanya.

Seiring kemampuan masyarakat memanfaatkan aturan penambatan balon tersebut, tren penerbangan balon tanpa tambatan kemudian banyak ditinggalkan. AKP Kuseni menuturkan temuan polisi tentang balon udara liar di Wonosobo menurun dari tahun ke tahun.

Sebagai tradisi yang terus hidup hingga kini, balon udara Wonosobo mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Dari bentuknya yang cenderung lonjong menjadi bulat. Dari berbahan plastik menjadi kertas wajik. Dan kini, ia kembali berubah menjadi balon yang ditambat tali tambang.

Kini Triyono, Lulus, dan Ibeh tak lagi mempersoalkan apakah balon harus ditambatkan atau tidak. Selama bisa membuat balon dan menerbangkannya, bagaimanapun caranya, mereka sudah puas.

Bagi Triyono, fungsi utama balon udara di kampungnya adalah menyatukan para warga dengan bergotong royong selama proses pembuatan balon.

Menurut dia, proses panjang pembuatan balon udara berukuran besar terlalu rumit dan sulit jika dilakukan oleh satu orang. “Karena itu kita membutuhkan banyak orang, dengan berkumpulnya banyak orang kita akan menyambung silaturahmi.”

“Gara-gara balon, cah-cah sing biasane ngumpul dewek-dewek dadi pada ngumpul maning,” ujar Lulus, menjelaskan proses pembuatan balon selalu bisa merekatkan para pemuda.

Oleh karenanya, Triyono dan para pemuda Gandok lainnya tak mau berhenti membuat balon untuk hari raya yang akan datang. Lagi pula, balon yang mereka terbangkan Sabtu lalu masih dirasa menyisakan banyak kekurangan.

“Tahun ini sih buat saya pribadi sedikit kecewa,” kata Triyono menjelaskan balon yang tahun ini mereka buat sedikit melenceng dari gambar desain. “Intinya tahun depan kita lebih teliti lagi, akan membuat yang lebih bagus lagi,” kata dia.

Perayaan Ngumbulna Balon Udara di Wonosobo

Balon udara pemuda Kampung Gandok terbang di udara dengan tambatan tali, Sabtu (13/4/2024). (FOTO/Rizal Amril)

Baca juga artikel terkait LEBARAN 2024 atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Abdul Aziz