Menuju konten utama

Kolega Jadi Keluarga, Kisah 3 Generasi Anak Gunung Tembagapura

Kunci untuk membangun suasana harmonis antar pegawai adalah value yang mereka terapkan sejak lama.

Kolega Jadi Keluarga, Kisah 3 Generasi Anak Gunung Tembagapura
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, berdandan ala chef pada Perayaan HUT PT Freeport Indonesia ke-57 di Tembagapura, 7 April 2024. (FOTO/Dokumentasi PT Freeport Indonesia)

tirto.id - Tidak banyak rasanya orang yang mau bekerja jauh dari keluarga. Apalagi tinggal di kawasan terpencil nun jauh di pegunungan Papua. Jadi ketika ada yang rela melakukannya, bahkan sampai tiga generasi, kisah mereka layak jadi inspirasi.

Orang-orang itu dikenal dengan sebutan ‘Agute’ berasal dari Anak Gunung Tembagapura. Istilah ini merujuk pada kumpulan karyawan pegawai PT Freeport Indonesia yang tumbuh dan besar di area Tembagapura, sebuah kawasan khusus perumahan karyawan yang letaknya berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.

Keberadaan mereka menarik perhatian saya ketika berkunjung ke kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Sejak awal kedatangan, mereka terlihat sangat akrab, saling berpelukan, menebar senyuman, layaknya keluarga. Padahal mereka datang dari berbagai daerah, suku dan agama yang berbeda-beda.

Salah satu tokoh Agute yang cukup dikenal adalah Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Freeport Indonesia, Carl Tauran. Dia adalah sosok yang paling senior dan keluarganya sudah bekerja selama tiga generasi di sana.

Orang tua Carl ketika tahun 1980an bekerja di PT Freeport Indonesia sebagai port manager. Carl kemudian lahir dan tumbuh di kawasan Tembagapura. Setelah sekolah, dia kemudian melamar menjadi pegawai PT Freeport Indonesia generasi kedua dan diterima. Kini, sang putri yang lahir di Tembagapura juga, mengikuti jejak langkahnya sebagai generasi ketiga.

“Putri saya sudah bekerja juga di sini sekarang,” kata Carl saat diwawancara usai perayaan HUT PT FI ke 57 di Tembagapura, 7 April 2024.

Perayaan HUT PT FI ke 57

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Freeport Indonesia Carl Tauran (kiri) pada Perayaan HUT PT Freeport Indonesia ke-57 di Tembagapura, 7 April 2024. (Tirto.id/Rachmadin Ismail)

Selain Carl, ada juga kisah Youlla Usagani, yang juga lahir dan tumbuh di Tembagapura, kemudian kembali bekerja di PT Freeport Indonesia. Youlla ikut menemani rombongan dari Jakarta saat perayaan HUT berlangsung.

“Kira-kira sekitar 400an orang, anak-anak (Agute) yang tumbuh di sini,” tambah Carl saat ditanya estimasi jumlah pegawai yang sudah bekerja turun temurun di sana.

Kenapa bisa sampai ada dua hingga tiga generasi keluarga yang bekerja di PT Freeport Indonesia? Terutama yang mau bekerja dan tinggal di kawasan terpencil nun jauh di pegunungan Papua? Carl menyebut soal suasana lingkungan yang unik adalah kuncinya.

“Kalau saya sakit, yang tahu pertama bukan saudara saya dan famili, tapi teman saya. Yang kerja bersama saya,” kenangnya.

Suasana seperti itu yang membuat Carl, Youlla dan beberapa Agute lain merindukan suasana Tembagapura. Sebuah gambaran kehidupan yang harmonis, mengkombinasikan antara pekerjaan dan keluarga.

“Suasana friendship seperti itu yang selalu kita rindukan,” kata dia.

Perayaan HUT PT FI ke 57

Perayaan HUT PT Freeport Indonesia ke-57 di Tembagapura, 7 April 2024. (FOTO/Dokumentasi PT Freeport Indonesia)

Karyawan Solid Berdampak pada Kontribusi

Dalam catatan PT Freeport Indonesia, ada lebih dari 30 ribu orang pegawai yang bekerja di seluruh area tambang Papua hingga kawasan smelter di Gresik, Jawa Timur. Mereka terdiri dari pegawai langsung sekitar 6.000 orang dan sisanya merupakan tenaga mitra.

Dominasi para pegawai yang berasal dari Papua cukup tinggi yakni 40% untuk pegawai tetap dan 23% untuk pegawai kontrak. Sisanya ada pegawai dari non-Papua serta pegawai asing dengan jumlah yang sangat kecil.

Bisa dibayangkan, dalam sebuah komunitas kerja dan tempat tinggal, ada banyak sekali perbedaan antar-pegawai. Dan bila tidak diatur dengan baik dengan sebuah kultur yang sehat, rawan terjadinya masalah dan konflik.

Menurut Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, kunci untuk membangun suasana harmonis antar pegawai adalah value yang mereka terapkan sejak lama. Mereka punya satu nilai yang terdiri dari Safety, Integrity, Respect, Commitment, dan Excellence atau disingkat SINCERE.

Value itu yang membuat kita jadi sebuah keluarga besar, one big happy family,” kata Tony saat ditanya soal pegawai yang bekerja selama turun temurun di PT Freeport Indonesia.

Tak heran, saat perayaan HUT ke-57 pada 7 April 2024, baik Tony dan para karyawan begitu akrab dan dekat. Dia bahkan sampai ikut melayani pemberian makan siang untuk para karyawan di kawasan Ridge Camp. Sambil berdandan ala chef, Tony yang juga memiliki latar belakang sebagai musisi ini, sibuk memberikan bakso untuk para pegawai.

Malam harinya, Tony menghibur para karyawan dengan mengundang band dan musisi ternama dari Jakarta seperti Nidji, Rio Sidik, dan Mezzaluna, untuk merayakan ulang tahun bersama. Dalam pidatonya, Tony menyampaikan bahwa semua perbedaan yang ada di PT Freeport Indonesia, telah menjadi kekuatan baru untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.

“Minggu lalu Paskah, sekarang kita buka bersama, tahun lalu kita merayakan Jumat Agung dan berbuka puasa di tambang bawah tanah. Inilah yang membuat kita jadi kuat, kebersamaan dan toleransi di antara semuanya,” kata Tony yang disambut tepuk tangan karyawan.

Infografik PT Freeport Indonesia

Infografik PT Freeport Indonesia. tirto.id/Mojo

Karena kekuatan para pegawainya itu, PT Freeport Indonesia kini bisa terus meningkatkan kontribusinya untuk Indonesia. Sebagai gambaran, kata Tony, tahun 2023 lalu PT Freeport Indonesia menghasilkan 1,7 miliar ton tembaga dan hampir 2 juta ons emas. Hal ini membuat kontribusi untuk negara selama 2021-2023 sampai Rp125 triliun.

“Ini bukan kaleng-kaleng, tapi kontribusi yang signifikan. Semoga ke depannya kita bisa kontribusi terus,” ucap dia.

Kontribusi ini berdampak setidaknya mencapai 0,78% pada PDB Indonesia, 33% pada PDRB Provinsi Papua dan 79,27% pada PDRB Kabupaten Mimika. Bila dirupiahkan, itu bisa mencapai Rp8 triliun untuk pemerintah daerah saja.

Artinya, menurut Tony, suasana kekeluargaan di PT Freeport Indonesia lewat munculnya generasi Agute, bisa berdampak pada Indonesia. Karyawan yang solid, membuat produksi menjadi lancar, dan kontribusi untuk bangsa menjadi lebih besar.

“Freeport adalah rumah kita. Dari rumah kita adalah satu dan berkarya untuk Indonesia,” kata dia.

Perayaan HUT PT Freeport Indonesia malam itu kemudian ditutup dengan sebuah pesta. Semua bergembira. Ada yang menyanyi, menari, dan berdendang bersama. Sesuai dengan nama area tempat mereka bergembira, yakni lupa lelah, mereka sedang melupakan lelah setelah sekian lama bekerja.

Carl, Youlla, dan sejumlah karyawan Agute lainnya kemudian berpose bersama. Sambil berangkulan mereka meneriakkan ‘Agute!’ dengan senyum sumringah kepada saya. “Saya yakin akan ada generasi-generasi Agute selanjutnya,” tutup Carl dengan senyuman khasnya.

Perayaan HUT PT FI ke 57

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, berdandan ala chef pada Perayaan HUT PT Freeport Indonesia ke-57 di Tembagapura, 7 April 2024. (FOTO/Dokumentasi PT Freeport Indonesia)

Baca juga artikel terkait FREEPORT INDONESIA atau tulisan lainnya dari Rachmadin Ismail

tirto.id - Bisnis
Reporter: Rachmadin Ismail
Penulis: Rachmadin Ismail
Editor: Abdul Aziz