Menuju konten utama
Arus Mudik Lebaran 2024

Menghitung Perputaran Uang Selama Lebaran & Dampak Ekonominya

Perputaran uang selama Ramadhan dan Idulfitri dinilai dapat mengerek pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024.

Menghitung Perputaran Uang Selama Lebaran & Dampak Ekonominya
Sejumlah penumpang angkutan kapal laut tujuan Tanjung Priok, Jakarta menunggu keberangkatan di terminal keberangkatan Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (27/3/2023). ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/foc.

tirto.id - Animo masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik pada Idulfitri tahun ini mengalami kenaikan yang signifikan dibanding tahun lalu. Ini menjadi indikator bahwa kondisi keuangan masyarakat pasca pandemi COVID-19 sudah semakin membaik.

Jika pada Idulfitri 2023 jumlah pemudik mencapai 123,8 juta orang atau naik 14,2 persen dari 2022, maka tahun ini sesuai data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) jumlah pemudik diperkirakan naik menjadi 193,6 juta orang atau 71,70 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Kenaikan jumlah pemudik tersebut tentu saja akan mengerek terhadap kenaikan perputaran uang yang sangat besar di seluruh pelosok Tanah Air. Khususnya daerah tujuan mudik dan destinasi wisata selama Lebaran.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, memproyeksikan dengan jumlah pemudik mencapai 193,6 juta orang, jika jumlah per keluarga dirata-ratakan 4 orang, maka jumlah pemudik setara dengan 48,4 juta keluarga.

Dengan asumsi, kata dia, setiap keluarga membawa uang rata rata Rp3.250.000. Maka perputaran uang selama Ramadhan dan Idulfitri 1445 Hijriah diperkirakan mencapai Rp157,3 triliun.

“Jumlah tersebut masih berpotensi naik, karena kita mengalikan angka minimal atau moderat," ujar Sarman kepada reporter Tirto, Senin (1/4/2024).

Sarman menuturkan perputaran uang tersebut akan menyebar di berbagai sektor usaha seperti ritel, fashion, makanan dan minuman, BBM, transportasi darat (bus-rental-kreta api-mobil pribadi dan motor), transportasi laut (kapal penumpang dan penyeberangan), transportasi udara (pesawat).

Juga sektor pariwisata seperti hotel, motel, villa, restoran, cafe, mini market, aneka warung/toko, destinasi wisata atau taman hiburan, UKM makanan khas daerah, souvenir, batik, kain khas daerah dan aneka produk unggulan lainnya.

Perputaran uang ini, lanjut Sarman, akan menyebar di seluruh pelosok Tanah Air. Terutama daerah yang menjadi tujuan utama mudik seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten dan Jabodetabek yang diperkirakan mencapai 62 persen dari jumlah penduduk.

Sisanya akan menyebar di Sumatera, Kalimantan, Bali, NTB Sulawesi, NTT, Maluku dan Papua. “Dengan perputaran yang cukup besar tersebut dipastikan ekonomi daerah akan produktif mendorong meningkatnya konsumsi rumah tangga,” imbuh dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, juga memperkirakan selama musim Lebaran 2024 perputaran uang akan mencapai hingga Rp148,8 triliun. Asumsi tersebut dihitung berdasarkan jumlah yang ikut mudik. Adapun rata-rata per orang membawa 3 orang artinya rata-rata 1 keluarga pergi 4 orang.

“Rata-rata satu keluarga 4 orang bepergian, berdasarkan perhitungan biaya yang dihabiskan, diketahui rata-rata per orang menghabiskan Rp768.386,” kata Djoko kepada reporter Tirto, Senin (1/4/2024).

Awal mudik di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta

Calon penumpang antre untuk melakukan timbang barang bawaan di Pelabuhan Penumpang Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (26/3/2024). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, melihat secara nasional jumlah uang beredar saat Ramadhan dan Lebaran memang akan terjadi peningkatan. Ini sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat secara umum (mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam) dan naiknya mobilitas publik terkait mudik.

“Maka memang ada peningkatan persediaan uang kartal oleh BI untuk memenuhi kebutuhan itu,” ujar dia kepada reporter Tirto.

Untuk tahun ini, Bank Indonesia (BI) sendiri menyiapkan uang tunai sebesar Rp197,6 triliun untuk momen Lebaran 2024. Angka tersebut naik sekitar 4,65 persen periode sama pada tahun sebelumnya.

Penyediaan uang tunai layak edar tahun ini dilakukan lewat program Serambi atau Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idulfitri. Selain menambah kecukupan uang, BI juga menyediakan 4.674 titik penukaran uang di seluruh Indonesia.

“Sejalan dengan normalisasi pasca pandemi COVID-19, mobilitas publik diprediksi akan lebih tinggi dari tahun lalu maka wajar jika uang kartal yang disediakan oleh BI juga meningkat tahun ini," kata dia.

Biasanya, lanjut Josua, perputaran uang akan meningkat cepat baik di kota maupun daerah. Namun menjelang Lebaran sejalan dengan adanya mudik, perputaran uang di daerah akan cenderung lebih cepat.

“Tentunya perputaran uang yang lebih cepat akan menggerakkan roda perekonomian karena aktivitas transaksi perdagangan barang dan jasa akan meningkat,” ujar dia.

Bagaimana Dampaknya ke Perekonomian?

Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, aktivitas konsumsi masyarakat yang meningkat selama Ramadhan dan Lebaran turut menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi.

Pada kuartal II-2023, konsumsi rumah tangga menjadi penyokong utama pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran, dengan kontribusi sebesar 53,31 persen. Pada periode tersebut, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,23 persen secara tahunan.

Sementara ekonomi Indonesia pada kuartal II-2023, yang beririsan dengan momen Ramadhan dan Lebaran, tumbuh sebesar 5,17 persen (yoy). Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada kuartal I-2023 yang sebesar 5,03 persen.

Josua memperkirakan secara umum, jika melihat tahun sebelumnya menurut hitungannya dampak Ramadhan dan Lebaran ke ekonomi dapat mendorong pertumbuhan sebesar 0,14 - 0,25 persen. Dengan tambahan pertumbuhan tersebut, maka ekonomi domestik pada kuartal I-2024 mampu berada dikisaran 5 persen.

“Jadi kami masih lihat pada kuartal I-2024 ekonomi Indonesia cukup berpeluang untuk tumbuh di kisaran 5 – 5,1 persen,” imbuh dia.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi bisa di kisaran 5 persen tersebut. Pertama, meningkatnya belanja pemerintah terutama terkait bansos dan pelaksanaan pemilu (belanja negara sampai dengan 15 Maret 2024 naik 18.1 persen yoy).

Kedua, adanya low-base effect dari kuartal I-2023 karena periode terlama Ramadhan bergeser dari April pada tahun lalu (triwulan 2) menjadi Maret pada tahun ini (triwulan 1).

Sekalipun, lanjut Josua, inflasi yang dalam tren meningkat karena kenaikan harga pangan dapat menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2024 karena dapat mengganggu daya beli masyarakat. Namun faktor THR, bonus, serta kenaikan gaji diperkirakan dapat menahan penurunan daya beli akibat inflasi terutama bagi golongan middle income.

Penjual sembako di Pasar Mampang

Penjual sembako di Pasar Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (22/3/2024)/ (tirto.id/Faesal Mubarok)

Sementara itu, Sarman Simanjorang, mengamini bahwa perputaran uang selama Ramadhan dan Idulfitri dapat mengerek pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024. Ini juga menjadi modal awal untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 2024 bertahan di angka 5 persen.

“Syukur bisa di atas [5 persen di 2024]," imbuh dia.

Sarman menambahkan, perputaran uang tersebut juga akan meningkatkan pendapatan asli daerah di masing-masing daerah tujuan mudik. Pendapatan ini berasal dari pajak hotel, restoran, cafe, retribusi masuk destinasi wisata dan lainnya selama musim libur Idulfitri ini.

Di samping beberapa daerah juga akan mendapatkan perputaran uang tambahan dari kiriman TKI dari luar negeri atau remitansi. Ia memprediksi remitansi mengalami pertumbuhan sekitar 25-30 persen selama Ramadhan dan Idulfitri 1445 H.

Remitansi merupakan kiriman pekerja migran kepada keluarganya di Tanah Air guna persiapan perayaan Idulfitri dari berbagai negara seperti Arab Saudi, China, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia dan beberapa negara lainnya.

Sepuluh provinsi pengirim TKI paling banyak dan akan mendapatkan kiriman remitansi antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Bali, Sumut, Banten, Jogyakarta dan DKI Jakarta. Adapun tahun ini diperkirakan sebanyak Rp1,5 triliun dari 274.965 pekerja migran.

Dengan berbagai kondisi di atas, maka momentum Idulfitri tahun ini sangat strategis mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan geliat ekonomi di seluruh Tanah Air. Budaya mudik untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga di kampung halaman, tentu saja menjadi sarana perputaran uang terbesar di Indonesia yang diperkirakan mencapai 25 persen setiap tahun.

Perputaran ini akan mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga, menggerakkan perekonomian daerah dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Harapan kita agar mudik tahun ini berjalan lancar, aman, meriah, penuh kenangan, para pemudik dapat berbelanja dan berwisata sambal menikmati aneka kuliner dan produk UMKM,” kata dia.

Namun terlepas dari itu, Sarman meminta kepada pemerintah daerah dapat membantu kelancaran arus mudik dan memastikan para pengusaha di daerah tujuan tidak menaikkan harga yang jorjoran yang membuat para pemudik enggan membelanjakan uangnya.

“Seperti tarif masuk ke lokasi wisata, tarif hotel/penginapan, harga makanan atau minuman dan harga makanan khas daerah atau oleh-oleh, diharapkan tidak mengalami kenaikan yang memberatkan konsumen,” ujar dia.

Pelaku usaha di daerah tujuan mudik, kata Sarman, harus dapat menciptakan pelayanan yang berkesan dan menyenangkan. Sehingga para pemudik tidak ragu membelanjakan uangnya selama liburan.

“Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan, kelancaran lalu lintas khususnya pasar tumpah yang sering sekali memakan jalan lintasan agar selama libur Lebaran dapat ditertibkan,” pungkas dia.

Baca juga artikel terkait MUDIK LEBARAN 2024 atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz