Menuju konten utama

Lewat CKG, Pemerintah Temukan 663 Ribu Anak Alami Darah Tinggi

Selain tekanan darah yang tinggi, melalui CKG pemerintah juga menemukan banyak anak mengalami gigi berlubang dan penumpukan kotoran di telinga.

Lewat CKG, Pemerintah Temukan 663 Ribu Anak Alami Darah Tinggi
Petugas kesehatan Puskesmas Cikeusal memeriksa gula darah seorang siswa saat cek kesehatan gratis (CKG) di SMP Negeri 3 Cikeusal, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (19/8/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.

tirto.id - Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, Muhammad Qodari, menyoroti temuan sekitar 22,1 persen atau 663 ribu anak mengalami peningkatan tekanan darah. Hal ini terungkap saat dilakukannya program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Qodari menyebut data ini berasal dari Kementerian Kesehatan per 1 Januari hingga 3 Mei 2026 dengan 4,8 juta anak yang telah menjalani skrining di 48.000 sekolah.

"Sebanyak 22,1% atau 663.000 anak mengalami peningkatan tekanan darah," ujar Qodari dalam konferensi pers 'Update PHTC CKG Sekolah, Penanganan TB, serta Transformasi Pendidikan' yang digelar di Kantor Badan Komunikasi, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).

Qodari terkejut megetahui data ini. Dia bilang, fenomena ini merupakan hal yang baru sebab penyakit ini biasanya dialami orang dewasa.

"Waduh, anak-anak sudah mulai darah tinggi ya. Fenomena baru ini anak-anak sudah darah tinggi," katanya.

Selain tekanan darah yang tinggi, sebanyak 41% atau 1,9 juta anak mengalami gigi berlubang dan sebanyak 8,6% atau 239.000 anak mengalami penumpukan kotoran di telinga.

"Temuan-temuan ini mencerminkan tiga masalah kesehatan terbesar yang ditemukan pada anak usia sekolah. Data tersebut menjadi bukti nyata betapa pentingnya skrining sistematis di lingkungan sekolah," ucap dia.

Qodari menilai pengecekan kesehatan di sekolah ini penting agar setiap potensi masalah dapat terdeteksi lebih cepat. Dia menyebut banyak masalah kesehatan yang dialami pada anak usia sekolah seperti anemia, gangguan gizi, kesehatan gigi, hingga penglihatan sering tidak terdeteksi semenjak awal.

"Dari anak-anak usia sekolah yang diskrining, ternyata 60,69% kurang kebugaran fisik," kata dia.

Kondisi ini dipandang Qodari menghambat kemampuan belajar dan tumbuh kembang. Terlebih, tidak semua keluarga memiliki akses atau kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.

"Realitanya begitu ya Gus Ipul [Menteri Sosial, Saifullah Yusuf.red] ya, apalagi yang miskin-miskin, yang istilahnya masih belum mampu. Melalui sekolah, negara hadir jemput bola, memastikan seluruh anak tanpa terkecuali mendapat layanan dasar yang sama," kata dia.

"Melalui CKG, pemerintah memperoleh data kesehatan siswa secara lebih sistematis, dan data ini menjadi dasar untuk merancang intervensi yang lebih tepat, baik di sektor pendidikan maupun di kesehatan," terang Qodari.

Baca juga artikel terkait TEKANAN DARAH TINGGI atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto