Hari Raya Idulfitri 2022

Lebaran 2022: Tiga Tahun Pandemi COVID Tanpa Mudik Kampung Halaman

Reporter: Alfian Putra Abdi - 3 Mei 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Kekhawatiran Hilman dan Laras berkelindan dengan prediksi Kemenkes soal lonjakan kasus akibat aktivitas Idulfitri 1443 Hijriah.
tirto.id - Dua lebaran sudah Hilman (27) tidak pulang ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Kerinduannya bertatap muka dengan orang tua memuncak. Ia tak punya pilihan. Pandemi COVID-19 tak berkesudahan memaksanya tetap di Jakarta Selatan.

Tahun pertama pandemi, kasus COVID-19 mulai meresahkan. Vaksinasi belum ada. Pemerintah melarang masyarakat mudik lebaran. Hilman memilih mendiami indekos.

Tahun berikutnya, kasus harian masih mengganas. Pemerintah memulai vaksinasi. Hilman ambil bagian. Pemerintah masih melarang masyarakat mudik lebaran. Hilman ingin nekat pulang dengan motor. Namun, urung ia laksanakan.

“Orang tuaku sepuh. Waktu itu belum vaksin juga. Aku, sih, merasa aman. Tapi bagaimana mereka?” ujarnya kepada saya, Kamis (21/4/2022). “Aku stay di kos lagi. Video call lagi.”

Memasuki musim mudik Idulfitri 2022. Presiden Joko Widodo memperbolehkan masyarakat mudik lebaran. Menurutnya, kondisi pandemi di Indonesia sudah membaik. Masyarakat boleh mudik dengan syarat sudah mendapat dosis vaksinasi minimal 2 kali dan 1 kali vaksin booster.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga mengatakan vaksinasi dosis penguat alias booster akan menjadi syarat perjalanan mudik Idulfitri 2022. Jika masyarakat sudah di-booster, maka tak perlu melampirkan hasil negatif tes swab PCR atau antigen.

Hilman mestinya senang dengan kebijakan tersebut. Ia juga sudah vaksin dosis ketiga. Tapi ia justru meragu untuk pulang ke bijana.

Hilman mempertimbangkan banyak hal: varian Omicron yang cepat menular dan gejala yang samar seperti flu biasa, hingga jumlah kasus harian di Jakarta dan Jawa Barat.



Per 21 April 2022, Satgas COVID-19 mencatat penambahan kasus harian sebanyak 585 kasus. DKI Jakarta menjadi provinsi penyumbang kasus tertinggi, sebanyak 159 kasus. Sementara Jawa Barat berada di posisi kedua, dengan 139 kasus. Kabupaten Tasikmalaya berada di PPKM Level-2.

“Ibuku terakhir sakit-sakitan. Ada sesuatu di paru-parunya,” ujar Hilman. “Aku khawatir akan memperburuk keadaannya. Kalau balik,” kata Hilman yang memutuskan kembali tidak mudik.

Laras (29 tahun) juga memilih untuk tidak mudik tahun ini ke Lumajang, Jawa Timur. Ia tak mau ambil risiko untuk bayinya yang baru berusia 1 tahun.

“Meskipun pemerintah membolehkan tahun ini. Aku enggak pulang lagi,” ujarnya kepada saya, Kamis, 21 April 2022.

Laras dan suami sudah mendapatkan vaksinasi dosis ketiga. Ia mempertimbangkan pola penularan varian Omicron yang cepat. Ia khawatir menjadi kurir virus dan menyusakan keluarga di kampung. Meskipun orang tuanya sudah mendapatkan vaksinasi dosis ketiga juga.

“Aku baca berita, katanya, bakal padat banget [mudik] tahun ini. Aku belum berani. Punya bayi pula,” tukas warga Depok tersebut.

Ini akan menjadi lebaran ketiga Laras tidak merayakan mudik bersama keluarga. Kerinduan sudah jelas baginya. Namun kesehatan tetap yang utama.

“Aku tunggu pandemi jadi endemi dulu kayaknya [baru mudik],” ujarnya.

Sebuah keputusan tepat namun berat. Mengingat Lumajang masih terkategori wilayah PPKM Level 2. Sementara Jawa Timur turut menjadi penyumbang kasus harian terbanyak kelima di Indonesia, dengan 21 kasus per 21 April 2022.


Potensi Lonjakan Kasus COVID-19 usai Mudik Lebaran

Kekhawatiran Hilman dan juga Laras berkelindan dengan prediksi Kementerian Kesehatan soal lonjakan kasus akibat aktivitas Idulfitri 1443 Hijriah. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, Indonesia masih berpotensi menghadapi lonjakan kasus Covid-19 dan masih sulit diprediksi apabila jika ada varian baru.

“Kita tahu bersama pandemi ini belum usai,” ujar Maxi dalam konferensi pers daring, Rabu (20/4/2022). “Masyarakat perlu tetap menjalankan disiplin protokol kesehatan.”

Terlebih lagi lebaran kali ini berpotensi menimbulkan lonjakan pemudik. Akibat pelonggaran regulasi dari pemerintah. Pegipegi melakukan survei terhadap 600 responden di seluruh Indonesia. Hasilnya, 80 persen responden akan melaksanakan mudik dan 20 persen tidak mudik.

Jumlah tersebut berbanding terbalik dengan kondisi tahun lalu. Pegipegi mencatat hanya 25 persen responden yang ingin mudik. Sementara 75 persen lainnya tidak akan mudik.

Sementara itu, 41 persen responden memilih untuk berangkat mudik pada H-3 lebaran. Sebanyak 19 persen responden memilih mudik pada H-7 lebaran. Lalu, 14 persen responden berencana mudik pada H-1 lebaran.

Untuk arus balik, 37 persen responden memilih kembali pada H+7 lebaran. Sebanyak 27 persen responden memilih berangkat dari kampung halaman saat H+3 lebaran.



Epidemiolog dari Griffth University Australia, Dicky Budiman mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi potensi peningkatan kasus COVID-19 pascamudik Lebaran 2022. Sebab, Indonesia memiliki populasi rawan: lansia, komorbid, dan anak-anak di bawah 5 tahun.

“Dan jumlahnya itu kurang lebih 20 persen baik itu belum divaksin, atau memang belum bisa divaksin, enggan divaksin. Termasuk juga yang mengalami penurunan efektivitas dari imunitas baik setelah terinfeksi maupun setelah divaksinasi,” ujar Dicky dalam keterangan videonya.

Terlepas dari konteks mudik lebaran, menurut Dicky, vaksinasi dosis kedua di Indonesia belum mencapai 90 persen dari total penduduknya. Dan 50 persen cakupan untuk vaksin dosis ketiga. Sehingga perlu mitigasi, katanya.

Pemerintah sedang mengupayakan target cakupan 50 persen vaksinasi dosis ketiga untuk warga Jabodetabek menjelang Lebaran. Pemerintah ingin setiap masyarakat yang hendak mudik sudah melaksanakan vaksinasi penuh.

“Kita berupaya betul menjamin bahwa perjalanan ini, baik ketika berangkat maupun kembali lagi akan lancar selamat dan betul-betul mendapatkan kegembiraan bertemu dengan sanak saudara,” ujar Menko PMK Muhadjir Effendy dalam keterangan tertulis.


Baca juga artikel terkait LEBARAN 2022 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz

DarkLight