tirto.id - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,65 triliun pada Semester I-2026. Capaian tersebut melonjak 218 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp833,04 miliar.
Lonjakan laba tersebut terjadi di tengah volume penjualan batu bara yang justru turun secara tahunan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penjualan PTBA pada Semester I-2026 mencapai 21,10 juta ton, turun 2 persen dibandingkan 21,62 juta ton pada Semester I-2025.
Meski volume penjualan turun, pendapatan perseroan tumbuh 8 persen menjadi Rp22,03 triliun dari Rp20,45 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan pendapatan itu terutama ditopang penguatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara yang meningkat 10 persen secara tahunan.
Direktur Utama PTBA ,Bambang Ismawan, mengatakan kondisi operasional yang lebih kondusif mendorong perseroan memulihkan produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor.
"Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan," ujar Bambang dalam keterangan resmi, diiutip Jumat (4/9/2026).
Penguatan harga batu bara global menjadi salah satu faktor yang menopang kinerja tersebut.
Newcastle Index tercatat meningkat 25 persen secara tahunan, sedangkan ICI-3 naik 15 persen
Perseroan pun memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara global melalui strategi penjualan yang lebih adaptif. Strategi tersebut berjalan beriringan dengan program efisiensi yang dilakukan secara cermat dan tepat sasaran.
Di sisi operasional, PTBA mulai mencatatkan pemulihan pada Kuartal II-2026. Secara kuartalan, produksi batu bara meningkat 94 persen, sementara penjualan tumbuh 8 persen. Pada periode yang sama, ASP juga naik 14 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Di tengah momentum penguatan harga batubara global, perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, yang didukung oleh pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran," katanya.
Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan PTBA tercatat Rp17,78 triliun atau turun 2 persen secara tahunan. Penurunan tersebut terjadi seiring dengan penurunan volume produksi dan angkutan batu bara.
Selain itu, PTBA juga mencatat stripping ratio sebesar 5,26 kali, lebih rendah dibandingkan 6,17 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, PTBA masih menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Konflik di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 berdampak terhadap harga BBM yang digunakan perseroan.
Hingga akhir Juni 2026, harga BBM tercatat Rp19.503 per liter atau meningkat 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut memberikan tekanan terhadap biaya bahan bakar, termasuk untuk jasa penambangan dan angkutan kereta api.
Di tengah tekanan tersebut, beban operasional PTBA naik Rp184,84 miliar atau 13 persen secara tahunan. Kenaikan terutama berasal dari komponen beban umum dan administrasi.
Sejalan dengan kenaikan laba, PTBA mencatatkan EBITDA sebesar Rp4,27 triliun pada Semester I-2026. Margin laba bersih perseroan mencapai 12 persen, sedangkan EBITDA margin berada di level 19 persen.
Kinerja perusahaan juga ditopang oleh membaiknya sejumlah komponen nonoperasional. Penghasilan keuangan tercatat Rp108,58 miliar, naik 6 persen secara tahunan, terutama karena kenaikan laba dari nilai tukar mata uang asing.
Sementara itu, biaya keuangan turun 25 persen menjadi Rp98,99 miliar seiring penurunan beban bunga pinjaman bank.
Kontribusi dari entitas asosiasi dan ventura bersama juga meningkat signifikan. Bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama mencapai Rp438,30 miliar, dibandingkan Rp209,86 miliar pada Semester I-2025.
Dari sisi pasar, penjualan domestik masih mendominasi dengan porsi 51 persen dari total penjualan PTBA hingga akhir Juni 2026. Sementara itu, 49 persen penjualan dialokasikan untuk pasar ekspor, dengan lima negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Di tengah pemulihan operasional, PTBA juga tetap menjalankan agenda investasi. Hingga Semester I-2026, realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai Rp1,09 triliun atau sekitar 30 persen dari target tahunan. Mayoritas capex tersebut digunakan untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan.
Pada 2026, PTBA menargetkan produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton dan penjualan 49,51 juta ton, sementara volume angkutan ditargetkan mencapai 41 juta ton.
Perseroan juga menetapkan target stripping ratio sebesar 5,63 kali dengan anggaran belanja modal sepanjang 2026 sebesar Rp3,64 triliun.
Dari sisi neraca, total aset PTBA per 30 Juni 2026 mencapai Rp48,10 triliun, naik 10 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp43,92 triliun.
Pada saat yang sama, total liabilitas PTBA meningkat 7 persen menjadi Rp22,76 triliun, sementara ekuitas naik 12 persen menjadi Rp25,34 triliun.
Arus kas dari aktivitas operasi juga menguat signifikan, dengan arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp4,63 triliun, naik 108 persen dibandingkan Rp2,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan terutama berasal dari meningkatnya penerimaan dari pelanggan.
Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, mengatakan pemulihan operasional dan peningkatan penjualan ekspor menunjukkan kemampuan perseroan menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika pasar.
Ke depan, PTBA akan terus mengoptimalkan kinerja operasional dan peluang pasar dengan tetap menjalankan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran.
"PTBA optimistis dapat menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," kata Eko.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






































