tirto.id - Harga emas yang sempat mencetak rekor demi rekor pada awal 2026 kini bergerak turun. Baik harga emas di Indonesia maupun harga emas dunia terkoreksi di tengah ketidakpastian ekonomi global, inflasi, hingga meningkatnya tensi geopolitik.
Di pasar domestik, harga emas Antam pada Jumat (17/7/2026) turun Rp27.000 menjadi Rp2.606.000 per gram, dari Rp2.633.000 per gram sehari sebelumnya. Penurunan harian ini memang relatif tipis. Namun, jika dibandingkan dengan rekor tertingginya, koreksinya sudah cukup dalam.
Sebagai perbandingan, harga emas Antam di Indonesia pernah menyentuh level tertinggi Rp3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026. Artinya, hingga 17 Juli 2026 harga emas Antam sudah turun Rp429.000 per gram atau sekitar 13,5 persen dari puncaknya.
Pelemahan juga tercermin pada indikator perdagangan internasional yang dipakai pemerintah Indonesia. Sebagaimana dilaporkan Antara, Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) emas periode 15-31 Juli 2026 sebesar 131.839,51 dollar AS per kilogram, turun 2,71 persen dari 135.512,62 dollar AS per kilogram pada periode sebelumnya.
Sementara itu, Harga Referensi (HR) emas turun dari 4.214,92 dollar AS menjadi 4.100,67 dollar AS per troy ons.
Tren serupa terjadi di pasar global. Anadolu Agency melaporkan harga emas spot pada perdagangan Kamis (16/7) turun sekitar 1,9 persen menjadi 3.983 dollar AS per troy ons. Pelemahan itu membuat harga emas kembali di bawah 4.000 dollar AS per troy ons setelah beberapa kali mencetak rekor baru sepanjang tahun ini.
Lantas, mengapa harga emas yang selama ini dikenal sebagai aset aman justru terus melemah?
Penyebab Harga Emas Turun
Faktor terbesar yang menekan harga emas berasal dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Meningkatnya harga minyak akibat konflik AS-Iran di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi global bakal kembali meningkat.
Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) bakal menahan suku bunga di level tinggi untuk waktu yang lebih lama. Bahkan tidak menutup kemungkinan kembali menaikkannya apabila tekanan inflasi belum mereda.
Kondisi itu membuat emas kehilangan daya tarik.
Berbeda dengan deposito dan obligasi, emas tidak memberi bunga maupun imbal hasil rutin. Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen berbunga yang menawarkan keuntungan lebih besar dengan tingkat risiko yang relatif rendah.
Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana.
"Kenaikan yield obligasi dan masih tingginya suku bunga di sejumlah negara maju mendorong investor mengalihkan dana ke aset berbunga. Hal ini berakibat pada melemahnya harga emas dan adanya sebagian investor yang melakukan aksi jual untuk mengamankan keuntungan," ujar Tommy, dikutip dari Antara.
Faktor lain yang ikut menekan harga emas yakni melemahnya permintaan. Menurut Kemendag, penurunan HPE dan HR emas pada paruh kedua Juli 2026 dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan pasar, bersamaan dengan pergeseran alokasi investasi ke instrumen berbunga.
Meski demikian, harga emas masih memperoleh sedikit dukungan dari data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi produsen pada Juni 2026 turun untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, setelah inflasi konsumen juga lebih rendah dari perkiraan.
Hanya saja, sentimen positif ini belum cukup kuat untuk mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS.
Ke depan, pergerakan harga emas masih bergantung pada perkembangan inflasi global, kebijakan The Fed, dan pergerakan imbal hasil obligasi, serta kondisi geopolitik dunia. Selama pasar masih memperkirakan suku bunga bertahan di level tinggi, harga emas berpotensi tetap fluktuatif dan berada di bawah tekanan.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id







































