Menuju konten utama

Kemensos Latih 100 Penerima Bansos di Yogya Bikin Kerajinan

Kemensos menggelar program pelatihan kerajinan bagi 100 penerima bansos di Kulon Progo, DI Yogyakarta. Pelatihan ini mendorong pemanfaatan potensi lokal.

Kemensos Latih 100 Penerima Bansos di Yogya Bikin Kerajinan
Penasihat I Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemensos Fatma Saifullah Yusuf didampingi Penasihat 2 DWP Kemensos Intan Agus Jabo dan Ketua DWP Kemensos Veronika Robben Rico, menghadiri kegiatan program Kolaborasi Pemberdayaan bagi Kelompok Rentan di Kantor Kelurahan Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, Kamis (17/7/2025). FOTO/dok.Kemensos

tirto.id - Kementerian Sosial (Kemensos) sedang berupaya mengubah paradigma bantuan sosial jadi pemberdayaan ekonomi. Perubahan ini untuk mewujudkan kemandirian ekonomi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) program-program bansos.

Salah satu dari upaya itu dilaksanakan melalui pelatihan keterampilan berbasis potensi lokal yang diikuti 100 penerima bansos di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam program pemberdayaan sosial ini, penerima bansos dilatih membuat kerajinan dari bahan alam seperti pelepah pisang dan daun pandan yang memiliki nilai jual.

Penasihat I Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemensos, Fatma Saifullah Yusuf, meninjau pelatihan itu pada Selasa (22/7/2025). Dia datang bersama Penasihat II DWP Kemensos, Intan Agus Jabo, dan Ketua DWP Kemensos, Veronika Robben Rico.

"Saya hadir bersama ibu-ibu Dharma Wanita Kemensos pusat bersilaturahmi, mengunjungi dan melihat lebih dekat ibu-ibu atau bapak-bapak yang ikut pelatihan dari pemberdayaan sosial yang beberapa hari ini dilatih untuk membuat (kerajinan) dari bahan pelepah pisang, juga dari kertas daur ulang yang dibuat tas, tempat tisu, keranjang dan lain sebagainya, semoga tidak ada kesulitan untuk mencoba dan tetap terus semangat," ujar Fatma.

Dia menjelaskan program pemberdayaan tersebut memanfaatkan potensi lokal yang belum tergali secara optimal. Melalui program pelatihan, diharapkan potensinya bisa berkembang dan lebih berdaya.

Pelatihan kerajinan untuk 100 penerima bansos itu digelar di Kantor Kelurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Program ini berlangsung empat hari sejak Kamis (17/7/2025).

Kegiatan yang jadi bagian dari program Kolaborasi Pemberdayaan bagi Kelompok Rentan ini melibatkan dua mitra lokal, yaitu Yayasan Kumala dan Murakabi Craft. Keduanya tak hanya menyediakan pelatihan tetapi juga membantu pemasaran produk kerajinan karya peserta.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Kumala dan Murakabi craft, karena selama ini sudah berkolaborasi dengan Kemensos dengan cara melatih, menyiapkan bahannya, sehingga para peserta pelatihan ini nanti tinggal mengerjakan sesuai dengan kualitas yang sudah di tentukan, bahkan hasil karyanya langsung dibeli dan dipasarkan," kata Fatma.

"Mereka tidak perlu repot memikirkan cara menjualnya, sehingga kelompok masyarakat kita secara ekonomi terakgkat, dan kelak di harapkan lebih sejahtera dan lulus dari bansos menjadi peserta pemberdayaan yang mandiri," ujar dia menambahkan.

Sebanyak 100 orang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang mengikuti pelatihan intensif ini terbagi dua kelompok. Yayasan Kumala melatih 50 orang, dan sisanya dilatih oleh Murakabi Craft.

Para peserta yang mengikuti pelatihan dari Yayasan Kumala belajar membuat kertas daur ulang dari bahan pelepah pisang. Bahan itu bisa dibuat menjadi berbagai macam benda kerajinan bernilai jual seperti paper bag, tempat tisu, kotak kado, figura, buku, dan lainnya.

Sementara itu, kelompok peserta di pelatihan Murakabi Craft membuat kerajinan anyaman berbahan daun pandan.

Yayasan Kumala merupakan organisasi nirlaba yang berkecimpung di bidang pemberdayaan masyarakat, pengelolaan sampah, dan pendidikan. Adapun Murakabi Craft adalah pengelola sentra produksi kerajinan serat alam di Dusun Sedang, Kalurahan Tanjungharjo, Nanggulan.

Kemensos maupun Yayasan Kumala dan Murakabi Craft sama-sama mempunyai kepedulian untuk meningkatkan kemandirian ekonomi para penerima bansos agar tak bergantung lagi pada bantuan sosial.

Dalam kunjungannya, Fatma tak hanya menyapa para peserta pelatihan. Dia juga tak lupa menyampaikan apresiasi kepada para instruktur dari Yayasan Kumala dan Murakabi Craft yang telah berbagi ilmu dengan KPM.

Saat berdialog dengan para instruktur pelatihan, Fatma sempat mendengar penuturan kisah inspiratif dari Alif (40), seorang trainer yang bergabung di Yayasan Kumala sejak 2011.

Sebelum aktif memberikan pelatihan ke berbagai wilayah, Alif bekerja sebagai pengamen dan penjual koran. Terdorong oleh niat mengubah hidup, ia pun bisa menjadi dirinya seperti saat ini.

"Saya (sebelumnya) anak jalanan, tetapi bisa jadi trainer. [Kini] saya bisa terbang ke mana saja, itu sebuah pengalaman tak terduga," ujar Alif.

Pada momentum yang sama, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Kemensos, Mira Riyati Kurniasih menjelaskan bahwa kegiatan pemberdayaan memanfaatkan potensi-potensi lokal di setiap daerah. Di Kulon Progo, misalnya, potensi lokal yang dimanfaatkan adalah pelepah pisang dan daun pandan.

Mira menambahkan, 100 peserta pelatihan ini merupakan penerima bansos dari 12 dusun yang tercatat sebagai KPM Program Keluarga Harapan (PKH) dan KPM Sembako.

Menurut dia, dari 50 orang yang dilatih oleh Murakabi Craft, ada sepuluh yang mempunyai potensi. Seba, produk-produk kerajinan buatan mereka lolos quality control dan layak untuk dipasarkan oleh Murakabi Craft.

"Karena Murakabi Craft ini produknya adalah produk ekspor, tentunya hasilnya harus sesuai quality control," kata Mira.

Dia berharap sepuluh peserta pelatihan itu bisa membagi ilmunya kepada KPM lain sehingga lebih banyak lagi penerima bansos yang bisa memproduksi barang kerajinan layak jual.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis