Menuju konten utama

Kasus Bakery, Risiko Intoleransi & Alergi Gluten Disepelekan

Ada risiko kesehatan yang tak bisa disepelekan ketika orang yang punya kondisi kesehatan tertentu secara tidak sengaja mengonsumsi gluten.

Kasus Bakery, Risiko Intoleransi & Alergi Gluten Disepelekan
Kreasi Sarapan Roti Bakar Kayu Manis. (FOTO/iStockphoto)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di laman media sosial Instagram, seorang ibu, bernama Felicia Elizabeth, baru-baru ini mengisahkan kondisi anaknya yang kambuh alergi setelah menyantap produk dari sebuah bakery. Toko roti itu dikatakan telah mengklaim menjual produk bebas gluten, bebas telur, bebas produk susu, dan vegan. Namun klaim yang disematkan tampaknya palsu.

Dalam sebuah unggahan, Felicia memperlihatkan kompilasi foto seorang balita dengan kulit memerah dan mata bengkak. Ia bercerita kalau anaknya yang kini berusia 17 bulan muncul Eczema (eksim) sejak umur tiga bulan. Lantaran harus memberi ASI, sejak itulah sang ibu diet ketat, alias puasa mengonsumsi produk dengan gluten, telur, susu, dan turunannya.

Hal itu dilakukan sesuai anjuran dokter. Felicia bilang, sulit sekali mencari camilan yang bisa dimakan, sampai akhirnya temannya merekomendasikan toko roti yang menarasikan produknya bebas gluten dan bebas produk susu. Tak cuman itu, sebuah bakery yang dimaksud juga mengatakan produk-produk yang dijual plant-based alias berbasis nabati.

"Singkat cerita, September 2024 teman baik saya share 1 bakery online yang cukup meyakinkan. Dia klaim semua produk dia itu gluten free, dairy free, egg free, vegan, [menggunakan] stevia, dan plant-based. Wah saya happy luar biasa. Mahal? Iya sangat mahal. Tapi apa boleh buat, saya butuh. Jadi sudah 1 tahun langganan sama bakery ini," ungkap Felicia lewat unggahannya yang sudah diberi izin untuk dikutip, Selasa (7/10/2025).

Sayang, ketika salah satu produk toko roti tersebut diuji ke laboratorium SIG, hasilnya positif mengandung gluten. Banyak dari produknya bahkan diduga hanya mengemas ulang (repackage) roti dari toko lain.

Selain Felicia, beberapa konsumen pun mengaku tertipu oleh produk-produk toko roti itu. Sina–bukan nama sebenarnya, bercerita pernah dua kali membeli roti mereka untuk anaknya yang alergi susu dan telur. Alhasil, usai mengonsumsi, muncul reaksi alergi pada anaknya.

“Curiga saat itu kenapa rasanya bisa kayak roti biasa. Harganya cukup mahal dan harus Pre-Order (PO) gitu,” tutur Sina di kolom komentar unggahan Felicia, yang bersedia dikutip Tirto, Jumat (10/10/10).

Merespons ramai-ramai keluhan konsumen ini, bakery yang diduga adalah "Bake n Grind" itu, kini memasang display picture (DP) WhatsApp di akun pemesanan mereka, yang menyatakan pihaknya sedang menonaktifkan kegiatan operasional sementara waktu. Mereka berjanji akan memproses seluruh refund atau pengembalian uang untuk pesanan yang sudah masuk, paling lambat antara 18 hingga 20 Oktober 2025.

Bake n Grind mengaku akun Instagram-nya sedang dibatasi (restricted) sehingga belum bisa memberikan klarifikasi lebih lanjut. Mereka berjanji bakal segera memberikan penjelasan resmi kepada publik setelah bisa kembali mengakses akunnya.

Akun Instagram Bake n Grind yang kini bisa diakses hanyalah akun @bakengrind.ads yang berisi unggahan promosi produk-produknya, seperti kopi vegan, dan roti tawar serta croissant bebas gluten dan telur.

Perbedaan Alergi dan Intoleransi Gluten

Sebelum membahas lebih jauh soal alergi terhadap gluten, masyarakat mungkin perlu memahami apa itu gluten. Mengutip artikel Hello Sehat, yang sudah ditinjau secara medis, gluten sendiri adalah protein yang ditemukan pada padi-padian dan serealia, gandum, gandum hitam (rye), jelai (barley) dan triticale.

Protein ini umumnya digunakan untuk menambah tekstur serta rasa pada makanan seperti pasta, roti, dan sereal. Meski gluten aman untuk dikonsumsi, seperti dinukil dari artikel Alodokter, ada sebagian orang dengan kondisi tertentu yang tidak bisa mengonsumsi gluten.

Penting dicatat, alergi makanan dan intoleransi bukanlah satu hal yang sama. Pakar Global Health Security dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa alergi merupakan reaksi imun, sementara intoleransi adalah gangguan pencernaan tanpa reaksi imun.

Cinnamon Toast

Cinnamon Toast. foto/IStockphoto

Artinya, alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan virus, bakteri, atau parasit justru bereaksi terhadap makanan. Sementara intoleransi makanan terjadi ketika tubuh tidak mampu mencerna makanan dengan baik atau ada makanan tertentu yang mengiritasi saluran pencernaan Anda.

“Alergi umumnya lebih serius dan berpotensi berat, sedangkan intoleransi lebih ringan tapi tetap bisa mengganggu kualitas hidup kalau tidak dikendalikan,” ungkap Dicky kepada Tirto, Jumat (10/10/2025).

Beda dengan alergi, intoleransi makanan disebabkan oleh kurangnya produksi enzim tertentu dan sistem pencernaan yang lebih sensitif pada suatu zat. Ketika alergi berkaitan dengan sistem imun dan bisa berdampak pada banyak organ, seperti informasi yang tertera di Hello Sehat, intoleransi makanan biasanya hanya memengaruhi sistem pencernaan.

Sekitar 90 persen kasus alergi makanan dipicu oleh kacang, telur, susu, gandum, ikan, wijen, dan kerang. Alergi kacang merupakan kasus alergi paling umum. Reaksi alergi dapat muncul segera setelah mengonsumsi makanan pemicu alergi atau beberapa jam kemudian.

Ilustrasi susu

Ilustrasi susu. FOTO/iStockphoto

Gejala alergi bisa meliputi mulut terasa gatal, terbakar, atau membengkak, hidung meler atau mampet, muka atau mata membengkak, muncul ruam kemerahan pada kulit, kulit gatal-gatal (biduran), sesak napas, napas terdengar nyaring (mengi), mual dan muntah, sakit perut, serta diare.

Sementara gangguan spesifik intoleransi gluten umumnya berupa gangguan abdomen. Pengamat kebijakan kesehatan sekaligus anggota PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Iqbal Mochtar, menerangkan hal itu misalnya berupa perut kembung, muntah dan diare. Tapi, pada saat bersamaan ada juga gangguan non-spesifik seperti sakit kepala, lelah berkepanjangan, dan munculnya ruam-ruam pada kulit.

“Kalau misalnya ada orang yang menderita celiac disease terus tanpa sengaja mengonsumsi gluten, maka itu akan terjadi reaksi autoimun pada saluran cernanya yang menyebabkan terjadinya iritasi, bukan perlukaan, tetapi iritasi. Dan selanjutnya menimbulkan gejala-gejala seperti gangguan saluran cerna,” tutur Iqbal saat dihubungi jurnalis Tirto, Jumat (10/10/2025).

Ilustrasi Sakit perut

Ilustrasi Sakit perut. foto/istocphoto

Pada kasus yang lama, hal itu kemudian menyebabkan anemia yang berkepanjangan dan membuat orang merasa kecapekan. Menurut Dokter Iqbal, efek pada mereka yang menderita celiac disease biasanya lebih permanen, sementara non-celiac disease sebaliknya.

Meski celiac disease secara umum bisa disebut sebagai alergi, mekanisme celiac disease lewat proses autoimun. Sedangkan alergi proses alergi yang libatkan antigen dan antibodi.

Iqbal mengatakan, anak-anak lebih rentan mengalami celiac disease atau alergi gluten. Hal itu dikarenakan pertumbuhannya yang belum sempurna.

“Nah, keluhan atau tanda yang muncul itu yang biasanya itu adalah gangguan perut, kemudian itu ada gangguan iritabilitas ya, jadi dia mudah rewel, mudah menangis dan sebagainya. Kemudian efek berikutnya itu bisa membuat gangguan pertumbuhan, karena celiac disease itu kan mengganggu absorpsi ya, absorpsi dari makanan. Mengganggu pertumbuhan dan bahkan bisa menyebabkan kelainan-kelainan yang lebih serius,” ungkap Iqbal.

Rendahnya Literasi dan Pengawasan Pelaku Usaha

Persoalan alergi maupun intoleransi gluten masih sering dianggap remeh, padahal ada risiko kesehatan yang tak bisa disepelekan ketika mereka yang mengalami kondisi itu secara tidak sengaja mengonsumsi gluten.

Selain masalah literasi, Dicky mengungkap bahwa rendahnya kesadaran soal alergi dan intoleransi gluten di kalangan pelaku usaha disebabkan pula okeh terbatasnya pengawasan dan hukum di Indonesia.

“Jadi banyak restoran atau produsen makanan ini mencantumkan label gluten free misalnya tanpa memahami bahwa bagi sebagian orang sedikit saja kontaminasi silang itu bisa berbahaya, bisa sangat serius,” tutur Dicky.

Selain bisa menyesatkan konsumen, dampak klaim palsu seperti gluten free membuat orang dengan alergi atau intoleransi gluten mengonsumsi produk berisiko yang bisa memicu reaksi serius dan mengganggu usus mereka.

Di lain sisi, Dicky bilang, klaim palsu gluten free juga bisa menurunkan kepercayaan publik. Artinya, jika masyarakat mengetahui bahwa label makanan sering tidak akurat, mereka akan kehilangan kepercayaan pada label gizi dan keamanan pangan secara umum.

Foto Body Roti Lapis Salad Telur

Roti Lapis Salad Telur. Foto/Istockphoto

“Selain itu, ini juga akan menyebabkan beban sistem kesehatan Jadi reaksi akibat konsumsi gluten pada orang intoleransi ini bisa menyebabkan perawatan berulang,” ungkap Dicky.

Klaim palsu gluten free semacam ini juga ia sebut termasuk misleading labeling, yang seharusnya bisa dikenai sanksi sesuai regulasi keamanan pangan misalnya dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Dicky menekankan pada akhirnya hal ini bukan sekedar isu label, tapi juga isu kesehatan publik dan perlindungan konsumen. Sudah saatnya media, sekolah, dan tenaga kesehatan meningkatkan literasi pangan agar ada kampanye edukatif tentang potensi alergi dan intoleransi makanan.

“Supaya jangan dianggap sebagai gaya hidup semata. Dan kesadaran tentang alergi dan intoleransi gluten ini masih harus ditegakkan. Supaya kita juga melindungi sebagian dari masyarakat kita yang ketahuan [alergi dan intoleransi gluten],” tutup Dicky.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - News Plus
Reporter: Fina Nailur Rohmah
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty