Menuju konten utama

Kapal-Kapal Meksiko Pasok Bantuan ke Kuba yang sedang Diancam AS

Meski Presiden AS Donald Trump mengancam tarif impor bagi negara mana pun yang mengirim minyak ke Kuba, namun Meksiko tetap kirim bantuan kemanusiaan.

Kapal-Kapal Meksiko Pasok Bantuan ke Kuba yang sedang Diancam AS
Perayaan hari kemerdekaan Kuba di pusat Kota Santa Clara. SHUTTERSTOCK
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dua kapal Meksiko dilaporkan telah berlabuh di Kuba pada Kamis (12/2/2026) untuk memasok bantuan kemanusiaan. Hal ini dilakukan di tengah tekanan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan pasokan bahan bakar ke Havana.

Dikutip dari Al Jazeera, dua kapal Meksiko itu telah berlabuh di Havana. Salah satunya diidentifikasi sebagai kapal Papaloapan dan kedua kapal itu membawa palet-palet berwarna putih yang segera dibongkar usai berlabuh.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyebut bahwa bantuan-bantuan lain akan segera dikirimkan. Hal ini disampaikan Sheinbaum dalam konferensi pers pada Kamis pagi.

"Hari ini kapal-kapal tiba [di Kuba]. Ketika mereka kembali, kami akan mengirimkan lebih banyak dukungan dalam bentuk yang berbeda," kata Sheinbaum.

Konferensi pers itu juga digunakan Sheinbaum untuk menegaskan ulang kedaulatan Kuba sebagai prioritas utama Meksiko dalam polemik AS dan Kuba. Sheinbaum menyebut pihaknya akan mengambil peran sebagai pembuka "pintu bagi dialog untuk keberlanjutan" antara dua negara yang berpolemik itu.

Kuba dalam Ancaman AS

Apa saja yang dikirimkan Meksiko ke Kuba tak dijelaskan lebih lanjut secara rinci. Hanya saja, pengiriman itu dilakukan di tengah ancaman AS untuk menerapkan sanksi tarif kepada setiap negara yang memasok bahan bakar ke Havana.

Pada akhir Januari lalu, Presiden AS Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif pemberlakuan sanksi tersebut. Trump kala itu menyebut sanksi ini akan membuat Kuba "tidak mampu bertahan".

Dalam pernyataannya, pemerintahan Trump telah menggolongkan Kuba sebagai "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa". Trump kemudian berulang kali mendesak Kuba untuk "membuat kesepakatan", meski tak jelas apa yang akan dimasukkan dalam kesepakatan itu.

Sanksi ekonomi dan ancaman AS ke Kuba sebenarnya memiliki sejarah panjang sejak era Perang Dingin. Namun, keputusan Trump di kawasan Amerika Tengah telah memperburuk situasi Kuba.

Para ahli di PBB telah memperingatkan bahwa rentetan peristiwa sejak penculikan Presiden Venezuela, penghentian pasokan minyak antara Venezuela-Kuba, dan ancaman sanksi pada negara yang membantu Kuba berpotensi menyebabkan bencana kemanusiaan di tersbeut.

Menukil CBC, perpanjangan embargo yang diterapkan AS untuk Kuba telah memperparah krisis yang sedang berlangsung di sana. Sejak Pandemi Covid-19, perekonomian Kuba yang bergantung pada pariwisata telah terhantam pada titik yang mengkhawatirkan.

Menurut eks duta besar Kanada untuk Kuba, Mark Entwisle, wilayah tersebut telah menghadapi persoalan atas kurangnya makanan dan obat-obatan selama beberapa waktu. Dengan pasokan energi yang terputus karena AS, kondisi itu disebut "akan terus memburuk".

Masyarakat Kuba kini dilaporkan harus hidup dengan pemadaman listrik selama 10 hingga 11 jam perhari akibat kekurangan stok energi. Pada Minggu (8/2/2026), Bandara Internasional José Martí Havana merilis pengumuman bahwa mereka mulai kehabisan bahan bakar pesawat.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, Stéphane Dujarric, juga menggambarkan situasi di Kuba sebagai memprihatinkan. Ia menyebut pihak Gutteres menilai kondisi Kuba akan terus memburuk.

"Saya bisa bilang bahwa sekretaris jenderal [Gutteres] sangat prihatin dengan situasi kemanusiaan di Kuba, yang akan memburuk, dan jika tidak runtuh, jika kebutuhan minyaknya tidak terpenuhi," kata Dijarric.

Kesaksian warga Kuba juga mengindikasikan pemadaman listrik sebagai situasi yang mempersulit kehidupan masyarakat. Salah satu warga Kuba yang kini tinggal di Kanada, Luis Escalona, menyebut semuanya serba sulit setelah pemadaman listrik Kuba tak terelakkan..

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar