tirto.id - Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memberikan sanksi tarif impor kepada setiap negara yang memasok minyak ke Kuba, menempatkan Meksiko dalam kesulitan diplomatik. Meksiko merupakan mitra dagang utama AS, di sisi lain juga memasok minyak penting bagi Kuba.
Dikutip dari CNN, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan pada Jumat (30/1/2026) bahwa pihaknya mengecam ancaman tarif Trump tersebut. Ia memperingatkan bahwa pengenaan tarif akan "memicu krisis kemanusiaan yang luas" di Kuba.
Dalam keterangannya, Sheinbaum mengisyaratkan kesulitan yang didera Meksiko akibat ancaman Trump. Ia menyebut tak ingin Meksiko mendapatkan sanksi tarif dari AS, tetapi juga tak mau melanggar komitmennya untuk membantu Kuba.
“Tentu saja, kami tidak ingin mengambil risiko [diterapkannya] tarif lebih lanjut terhadap Meksiko, namun melalui saluran diplomatik, kami mengupayakan kerangka dialog dan komunikasi yang mencegah situasi serius bagi rakyat Kuba,” kata Sheinbaum.
Pernyataan itu merupakan respons atas ancaman Trump yang baru saja menandatangani perintah eksekutif berisi ancaman tarif bagi negara pemasok minyak ke Kuba. Dalam perintah itu, Trump mengklaim bahwa Kuba merupakan "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa".
Keputusan itu diresmikan usai Trump menyatakan secara terbuka bahwa Kuba merupakan negara yang gagal. Hal ini ia sampaikan kepada wartawan pada Minggu (25/1).
"Kuba adalah negara yang gagal. Hal ini sudah terjadi sejak lama, namun sekarang tidak ada Venezuela yang bisa menopangnya. Jadi kami berbicara dengan orang-orang dari Kuba, orang-orang tertinggi di Kuba, untuk melihat apa yang terjadi," kata Trump.
Pasca menculik Presiden Venezuela pada 3 Januari lalu, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan kepada Kuba. Pernyataan publik Trump tentang Kuba merupakan salah satunya.
Selain itu, dalam pernyataan Gedung Putih ketika mengumumkan ancaman tarif tersebut, AS mengklaim Kuba telah bersekutu dengan "negara-negara yang bermusuhan dan aktor-aktor jahat". Pernyataan itu juga memuat tuduhan Kuba telah "menampung kekuatan militer dan intelijen" dari musuh-musuh AS.
Oleh pemerintahan Trump, Kuba dituduh jadi tempat beroperasinya fasilitas transmisi sinyal intelijen Rusia. Mereka juga menuduh Havana menyediakan perlindungan bagi organisasi "seperti Hizbullah dan Hamas", selain menghasut "kekacauan dengan menyebarkan ideologi komunis".
Meksiko dan Venezuela Pemasok Minyak bagi Kuba
Sebelum Trump menggencarkan kampanye blokade ekonomi ke Kuba, Meksiko dan Venezuela merupakan dua negara pemasok minyak yang penting bagi Kuba di tengah krisis energi yang tengah melanda negara itu. Pada 2025 lalu, Meksiko jadi pemasok 44 persen minyak impor Kuba.
Venezuela yang kini dipimpin presiden sementara, Delcy Rodríguez, sejauh ini juga telah menerima intervensi AS, termasuk membuka keran ekspor minyak ke AS setelah bertahun-tahun ditutup. Meskipun Rodríguez ikut mengecam ancaman tarif terhadap penyokong Kuba.
Di sisi lain, Meksiko menganggap AS dan Kuba sama-sama penting. AS sejauh ini jadi negara tujuan utama ekspor minyak Meksiko dengan lebih dari 50 persen minyak ekspor Meksiko dikirim ke Negeri Paman Sam. Namun, Meksiko juga telah menyatakan komitmennya untuk membantu krisis energi di Havana.
Kuba Mengecam, Sebut Kebijakan Trump Bersifat Genosida
Krisis energi yang tengah melanda Kuba juga makin memburuk pasca penculikan Presiden Venezuela oleh AS. Pemadaman listrik, kelangkaan BBM, hingga penghentian kantor stasiun radio dan TV terjadi di sana.
Dengan adanya ancaman tarif yang dikeluarkan Trump, krisis energi dikhawatirkan dapat memicu penduduk Kuba harus hidup dalam kondisi ekstrem. Pada Jumat lalu, Pemerintah Kuba mengecam keputusan Trump dan memperingatkan hal tersebut.
Menurut Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel, ancaman tarif Trump telah didasarkan pada "dalih kosong". Menurutnya, upaya Trump hanyalah langkah untuk "mencekik" perekonomian Kuba.
"Langkah baru ini menunjukkan sifat fasis, kriminal, dan genosida dari komplotan rahasia yang telah membajak kepentingan rakyat Amerika demi keuntungan pribadi," kata Miguel Díaz-Canel.
Senada, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez juga menuduh AS sedang berupaya untuk memeras negara-negara lain agar bergabung secara paksa dalam “blokade total” terhadap pasokan bahan bakar.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































