Kampanye Prabowo di Pilpres 2019: Bermalas Dahulu, Ofensif Kemudian

Oleh: Husein Abdulsalam - 15 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kampanye Prabowo menekankan di daerah-daerah lumbung suara Jokowi, terutama di Jawa Tengah.
tirto.id - Salah satu momen paling diingat mengenai kampanye Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2019 ialah saat ia berpidato di Stadion Kridosono, Sleman, dalam rangkaian kampanye terbuka pada Senin, 8 April lalu. Saat berpidato, Prabowo menyoroti pengelolaan negara yang ia anggap keliru, kekayaan negara yang dikuasai segelintir elite, dan uang negara yang lari ke luar negeri; perihal yang tidak mengagetkan lagi bila itu diucapkan Prabowo.

Saat menyinggung netralitas TNI dan Polri, Nada Prabowo meninggi: "Hai adik-adikku, kau yang ada di tentara, polisi yang masih aktif. Ingat kau adalah tentara rakyat, kau polisi rakyat. Seluruh rakyat Indonesia."

Tangannya kemudian menggebrak meja podium. Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu berkata, "Kau tidak boleh mengabdi pada segelintir orang, apalagi membela antek-antek asing, apalagi kau bela antek-antek asing."

Amien Rais, yang sebelumnya duduk di belakang Prabowo bersama para elite pendukung capres 02 itu, mendadak berdiri tak lama setelah Prabowo menggebrak-gebrak meja podium. Ia berjalan menghampiri Prabowo sembari mengacungkan tangannya, membentuk simbol dua jari ala Prabowo-Sandiaga. Ketua Majelis Tinggi PAN itu berusaha meredakan emosi Prabowo.

Prabowo mengunjungi Sleman, Yogyakarta, pada hari ke-15 masa kampanye terbuka. Sejak kampanye terbuka pada 23 Maret hingga 13 April 2019, Prabowo mendatangi 50 kabupaten dan kota. Ketua Umum Gerindra ini mengawali masa kampanye terbuka di Kota Manado dan mengakhirinya di Kota Surabaya pada 12 April 2019.


Kampanye Prabowo: dari "Kurang Serius" ke "Marah"

Tirto menghimpun kegiatan Prabowo selama delapan bulan terakhir (23 September 2018 - 13 April 2019). Kegiatan ini meliputi kunjungan Prabowo ke daerah, menerima tamu, menghadiri undangan acara, menghadiri acara resmi KPU sebagai kandidat presiden, dan kampanye terbuka. Kami mungkin tidak mencatat beberapa aktivitas Prabowo sebab tidak diberitakan media.

Hasil penelusuran itu menunjukkan Prabowo paling tidak rajin berkegiatan dibandingkan kandidat lain.

Sepanjang 202 hari itu, Tirto mencatat ada 114 kegiatan Prabowo. Itu paling kecil dibandingkan kegiatan calon wakil presiden pendampingnya sendiri, Sandiaga Uno (277 kegiatan), serta lawannya, Jokowi (248 kegiatan) dan Ma'ruf Amin (145 kegiatan).

Prabowo jarang berkegiatan pada September 2018 hingga Januari 2019. Total kegiatannya pada periode itu sebanyak 47 kali. Prabowo paling banyak berkegiatan pada Desember 2018 (15 kegiatan) dan paling sedikit pada September 2018 (5 kegiatan).

Prabowo baru terlihat mulai tancap gas menyambangi daerah-daerah selepas Januari 2019. Pada Februari 2019, total kegiatannya sebanyak 23 kali. Sedangkan pada Maret dan April, total kegiatannya sebanyak 30 kali dan 14 kali.

Tidak heran bila pada akhir pekan kedua Oktober 2018, politikus Demokrat Andi Arief mengatakan Prabowo tidak serius jadi capres karena tidak kunjung menyapa masyarakat di daerah.

"Ini otokritik: Kalau dilihat cara berkempanyenya, sebetulnya yang mau jadi Presiden itu @sandiuno atau Pak Prabowo, ya. Saya menangkap kesan Pak Prabowo agak kurang serius mau jadi Presiden," ujar Andi Arief yang saat itu menjabat wakil sekretaris jenderal Partai Demokrat.


Sedangkan satu pekan jelang masa kampanye berakhir, Prabowo terlihat semakin ofensif. Pidato Prabowo di Sleman adalah gambaran dari hal itu. Di sana, Prabowo tak cuma menggebrak-gebrak meja podium tapi juga mengatakan Indonesia telah “diperkosa” segelintir elite di Jakarta.

“Ibu pertiwi sedang diperkosa, hak rakyat sedang diinjak. Segelintir orang elite di Jakarta seenaknya saja merusak negara ini. Mereka adalah … boleh enggak bicara agak keras di sini, tinggal 10 hari lagi. Mereka adalah bajingan-bajingan,” ujar Prabowo.


Menurut Ferdinand Hutahaean, kemarahan Prabowo itu menunjukkan puncak kekesalannya terhadap kondisi bangsa saat ini. Bagi juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga itu, berbagai keuntungan yang didapatkan Jokowi-Ma'ruf saat berkampanye turut membuat kesal Prabowo dan kubunya.

"Kalau dipikir marah, memang marah karena melihat situasi yang sekarang. Bagaimana kita kampanye saja sulit, izin, segala macam dan bagaimana kelompok kita selalu menjadi yang teraniaya, sementara 01 [Jokowi-Ma'ruf] dengan bebas melakukan apa saja, tanpa ada yang bisa melarang," ujar Ferdinand, politikus Demokrat, saat dihubungi reporter Tirto (6/4/2019).



Menjaga Basis Lama, Merebut Basis Lawan

Sepanjang 202 hari masa kampanye, Prabowo berkegiatan di 73 kabupaten/kota. Jumlah kabupaten/kota yang jadi tempat Jokowi berkegiatan memang lebih banyak daripada itu, tetapi tidak terpaut jauh. Sepanjang masa kampanye, Jokowi berkegiatan di 88 kabupaten/kota.

Prabowo berkegiatan paling banyak di Kota Jakarta Pusat (10 kegiatan) dan Jakarta Selatan (8 kegiatan). Di kedua tempat ini, Prabowo sering menerima tamu, menghadiri acara yang diadakan pendukungnya maupun Komisi Pemilihan Umum (KPU), serta bertemu Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang bertempat tinggal di Kuningan, Jakarta Selatan.

Bila 73 kabupaten/kota dirinci menurut hasil perolehan suara Pilpres 2014, 27 di antaranya merupakan wilayah yang berhasil dikuasai Prabowo-Hatta. Itu mencakup wilayah dengan jumlah pemilih besar pada Pilpres 2014, seperti Kabupaten Bogor dan Jakarta Timur, sekaligus tempat yang rajin dikunjungi Jokowi selama delapan bulan terakhir.


Ketika dirinci lagi, 7 dari 27 kabupaten/kota itu berada di Jawa Barat, lumbung suara Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 yang juga tempat favorit Jokowi bersafari politik sejak menjabat presiden.

Sementara itu, 44 kabupaten/kota lain yang jadi tempat kegiatan Prabowo merupakan wilayah kekalahan Prabowo-Hatta di Pilpres 2014.

Sebanyak 15 dari 44 kabupaten/kota itu berada di Jawa Tengah, daerah basis massa PDIP dan Jokowi-JK. Perolehan suara Prabowo selalu terpaut lebih dari 20 persen dibandingkan Jokowi-JK di tiap kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Banyaknya daerah lumbung suara Jokowi-JK yang jadi tempat berkegiatan Prabowo mungkin terkait strategi BPN Prabowo-Sandiaga mengubah markasnya ke Jawa Tengah.


======

Tim riset Tirto: Yuti Ariyani, Desi Purnamasari, Scholastika Gerintya Saraswati, Frendy Kurniawan, Irma Garnesia, dan Hanif Gusman menghimpun data kampanye Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga. Wan Ulfa Nur Zuhra terlibat dalam visualisasi data kampanye kedua kandidat.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight