tirto.id - Suasana haru menyelimuti Stasiun Bekasi Timur, Kamis (30/4/2026). Warga berduyun-duyun menyampaikan karangan bunga dan doa untuk para korban kecelakaan Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat.
Berdasar pantauan kontributor Tirto di lokasi, sejumlah penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek turut menyampaikan doa serta meletakkan karangan bunga. Deretan bunga dengan ucapan duka tertata di pintu masuk stasiun.
Karangan bunga tersebut sebagai simbol solidaritas dan kepedulian terhadap para korban serta keluarga yang ditinggalkan. Tidak sedikit mereka yang terlihat menundukkan kepala, mengheningkan cipta, dan berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Salah satu yang menyatakan duka adalah Nona (40). Dia sengaja membeli karangan bunga seusai menjemput anaknya pulang sekolah, kemudian menyempatkan diri berdoa bagi korban kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Perempuan asal Bekasi ini mengaku tergerak datang ke lokasi untuk menyampaikan belasungkawa setelah terus mengikuti kabar insiden tersebut melalui media sosial dan pemberitaan.
"Setiap lihat di media sosial, di berita, ya Allah… enggak kuat banget," kata Nona saat ditemui kontributor Tirto, Kamis (30/4/2026).
Nona bilang tidak sempat menulis di karangan bunga yang dibawanya. Namun, ia meletakkannya di lokasi kejadian sambil berbisik. “Selamat tinggal, semoga tenang di sana.”
Nona merasakan suasana di lokasi terasa berbeda dan penuh duka. Oleh sebab itu ia tidak bisa berlama-lama, selain memanjatkan doa bagi para korban.

Orang muda dari Aksi Kamisan Bekasi melakukan aksi doa Bersama. Massa aksi membaca puisi dan tabur bunga hingga menyalakan lilin di depan Stasiun Bekasi Timur.
Akbar, perwakilan dari Aksi Kamisan Bekasi, menilai indisiden yang dipicu miskomunikasi tersebut sebagai memiliki kejanggalan. Kecelakaan pun tidak hanya melibatkan kereta dengan kereta, tapi juga ada kendaraan lain.
Akbar bilang, peristiwa kecelakaan tersebut menunjukkan kurangnya pembelajaran dari tragedi serupa di Bintaro yang menelan banyak korban jiwa. Dia mengatakan, kecanggihan teknologi saat ini, seharusnya dapat mencegah kecelakaan semacam itu.
“Kami menuntut keras kepada seluruh dinas terkait, pemerintah, pejabat berwenang, termasuk KAI, untuk bertanggung jawab atas kejadian ini,” kata Akbar dalam pernyataan di Aksi Kamisan Bekasi.
Aksi Kamisan juga berharap ada penjelasan terbuka serta langkah konkret dari pihak terkait guna mencegah insiden serupa terulang kembali.
Sebelumnya diberitakan, terjadi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak bagian belakang KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.
Kecelakaan menyebabkan 16 korban meninggal dunia. Korban yang telah teridentifikasi, yakni Tutik Anita Sari (31), Harum Anjasari (27), Nur Alimantun Citra Lestari (19), Farida Utami (50), Vica Acnia Fratiwi (23), Ida Nuraida (48), Gita Septia Wardany (20), Fatmawati Rahmayani (29), Arinjani Novita Sari (25), Nur Ainia Eka Rahmadhynna (32), Nuryati (41), Nur Laela (39), Enggar Retno Krisjayanti (35), Ristuti Kustirahayu, Adelia Rifani, dan Mia Citra.
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































