tirto.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, meyakini industri manufaktur yang saat ini masih dalam kondisi kontraksi tidak kalah saing meski pemerintah menandatangani banyak kesepakatan dagang dengan negara asing.
"Kita mesti siap itu karena saya menyaksikan sendiri penandatanganannya, di Belgia. Ratifikasinya setahun dengan negara-negara EU, tapi bisa dimanfaatkan dari sekarang untuk siap-siap. Nah, kebetulan apa yang dibutuhkan mereka itu mirip-mirip. Ya itu sama Amerika ya, jadi apa tadi ... alas kaki, tekstil, garmen, elektronik," katanya, kepada para pewarta, di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Kamis (7/8/2025).
Dalam catatan, pemerintahan Prabowo memang menandantangani beragam kesepakatan dagang dengan beberapa negara dunia seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang direncanakan ditandatangani pada September mendatang, Indonesia-Peru CEPA yang bakal diteken 11 Agustus mendatang, hingga Indonesia-Canada (ICA) CEPA yang sedang dalam pembahasan.
Anindya yakin, daya saing industri manufaktur nasional tak akan tergerus. Ia beralasan, barang yang diimpor ke Indonesia dalam kesepakatan dagang Indonesia dengan asing, terutama Amerika dan Uni Eropa, adalah bahan mentah atau bahan baku seperti gandum, kapas, kedelai hingga minyak kelapa sawit mentah (crude paling oil/CPO). Sebaliknya, barang yang dikirim Indonesia ke negara-negara asing adalah barang jadi, seperti tekstil, produk garmen, alas kaki, hingga produk-produk elektronik.
"Jadi saya rasa sih sebenarnya semua itu tergantung dari konsumen. Tapi, yang pasti akan membuat bahan baku jadi lebih murah," lanjut Anindya.
Sementara itu, kesepakatan Indonesia dengan Uni Eropa, melalui IEU-CEPA, membuat Indonesia mendapat karpet merah lantaran bisa mengirimkan CPO dan produk turunan ke sana.
"Tapi, yang paling menarik di sana ialah karpet merah buat minyak kelapa sawit. Ya, bukan berarti semuanya beres, tapi sudah hampir dipastikan 80 persen sudah beres (untuk IEU-CEPA)," ucapnya
Terlepas dari itu, Anindya menilai kesepakatan dagang yang dijajaki Indonesia dengan Uni Eropa, Kanada, Peru, dan banyak negara lainnya juga merupakan salah satu cara pemerintah dan pengusaha untuk memperluas pasar pasca Amerika Serikat mengenakan tarif resiprokal 19 persen terhadap Indonesia. Namun, pada saat yang sama, kerja sama dagang juga dilakukan untuk meningkatkan nilai perdagangan Indonesia ke banyak negara di dunia.
"Jadi, ini sambil menyelam, minum air. Sambil menyiapkan tarif Trump, menyiapkan juga EU (CEPA). Ya, kebetulan Uni Eropa itu size-nya sama (dengan AS). Sama-sama bisa total trade-nya itu mungkin menuju kepada bertahap ya. Menurut saya dua-duanya itu bisa bertahap. Sama 5-10 tahun ke depan 100 miliar dolar," tambahnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





































