Menuju konten utama
Periksa Data

Jejak Kasus Kematian Satwa di Kebun Binatang Indonesia

Tirto mencatat ada beberapa kasus kematian satwa di yang disebabkan buruknya tata kelola kebun binatang di Indonesia.

Jejak Kasus Kematian Satwa di Kebun Binatang Indonesia
Ilustrasi Kebun Binatang. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Beberapa waktu belakangan, kebun binatang di Medan, Medan Zoo, menjadi perbincangan.

Kematian Nurhaliza, harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina berusia 9 tahun, menambah daftar satwa yang mati di Kebun Binatang Medan Zoo. Kematian Nurhaliza sekaligus menandakan harimau ketiga yang mati di Medan Zoo sejak November 2023. Sebelumnya, harimau Sumatra lain mati karena malnutrisi pada bulan November, disusul oleh seekor harimau Benggala bernama Avatar yang juga mati awal Desember.

Mengutip laporan Tirto, kematian harimau-harimau tersebut menyisakan empat harimau Sumatra yang masih bertahan di Medan Zoo. Itupun semuanya dalam kondisi sakit, dengan tiga diantaranya sulit disembuhkan.

Medan Zoo memang disoroti akibat kondisi dan pengelolaannya yang mengkhawatirkan. Sejumlah video kondisi Medan Zoo yang tersebar di media sosial memperlihatkan keadaan kebun binatang yang tidak terawat dengan kondisi satwa yang memprihatinkan.

Tak cukup sampai di situ, beragam masalah lain muncul; mulai dari terlilit utang untuk pakan satwa, gaji pegawai yang tertunggak, hingga carut marut urusan pengelolaan kebun binatang milik Pemerintah Kota (Pemkot) Medan tersebut. Pasalnya, secara aset, Medan Zoo terpisah dari Pemkot Medan. Hal ini membuat Pemkot Medan tak berkewajiban memberikan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk Medan Zoo.

Sederet permasalahan pengelolaan kebun binatang tersebut terekam bukan kali pertama terjadi di Indonesia.

Tirto mencatat, beberapa kebun binatang di Indonesia pun turut mengalami beragam masalah serupa hingga menyebabkan kasus penelantaran yang berujung pada kematian satwa.

Berikut deretan kasus kematian satwa akibat buruknya tata kelola kebun binatang di Indonesia yang terjadi dalam kurun beberapa waktu terakhir.

  1. Kasus Kematian “Nurhaliza” Harimau Sumatera di Medan Zoo (2023)
Nurhaliza, harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina berusia 9 tahun ditemukan mati pada 31 Desember 2023 di Kebun Binatang Medan Zoo.

Berdasarkan catatan Tirto, Nurhaliza mendapatkan medical check-up terakhir pada 14 November 2023. Kala itu, hasil temuan tim medis mendapati sejumlah masalah kesehatan seperti gangguan paru dan napas yang tersengal. Pada hari terakhir 2023, tepatnya Minggu (31/12/2023), Nurhaliza ditemukan mati pukul 16.48 WIB.

Diagnosa medical check-up sebelumnya adalah Nurhaliza mengalami pneumonia dan renal disease. Renal disease adalah gangguan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan tak dapat disembuhkan.

Mengutip laporan Tirto, Juru Kampanye di The Wildlife Whisperer of Sumatra, Arisa Mukharliza, menyampaikan Medan Zoo merupakan satu-satunya kebun binatang di Sumatra Utara yang memiliki harimau Sumatera terbanyak. Arisa menambahkan, kini masih ada empat harimau tersisa di Medan Zoo yang mengalami kondisi sakit.

Menurut dia, semua pihak perlu bersiap dengan datangnya kabar kematian harimau lain dari Kebun Binatang Medan.

“Bintang Sorik, (harimau) jenis kelamin jantan saat ini dalam keadaan kritis dan dari prognosa dokter hewan dinyatakan infausta artinya tidak dapat disembuhkan lagi. Sisanya (harimau lain), prognosis dubia, kesembuhannya diragukan,” kata Arisa kepada reporter Tirto, Selasa (16/1/2024).

2. Kasus Kematian Dua Monyet di Mini Zoo Bogor (2022)

Akhir tahun 2022, Bogor Mini Zoo sempat menjadi perbincangan karena adanya temuan dua monyet ekor panjang yang sudah menjadi bangkai di dalam kandang seluas sekitar 5 meter kubik. Temuan tersebut diantaranya diungkap oleh Ketua Animal Defenders Indonesia, Doni Herdaru, dan diunggah ulang oleh akun Radar Bogor.

Dari video yang beredar, terlihat kondisi memprihatinkan dari kebun binatang mini (mini zoo) di Pamoyanan, Bogor Selatan, Kota Bogor. Tampak juga beberapa bangkai monyet dibiarkan dalam kandang bersama sejumlah monyet yang masih hidup. Bahkan, seekor bayi monyet terlihat mengorek-ngorek tanah seperti mencari makan.

Dikutip dari pemberitaan Kompas, Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, yang menginspeksi lokasi itu bersama tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, menyebut kondisi mini zoo tersebut tidak terawat. Ia juga meminta agar tempat tersebut tak beroperasi lagi.

”Saya lihat kondisinya tidak terawat dan banyak hal yang tidak sesuai juga. Karena itu, saya minta agar ini tidak beroperasil, tidak dikunjungi dulu. Hal itu dilakukan sambil tim dari pemkot dengan BKSDA bersama-sama melakukan pendalaman terhadap kondisi di sini,” ujarnya dikutip dari Kompas (18/12/2022).

3. Kasus Kematian “Dumbo” Anak Gajah di Kebun Binatang Surabaya (2021)

Seekor anak gajah bernama Dumbo di Kebun Binatang Surabaya (KBS) mati, Rabu (15/12/2021) pukul 03.26 WIB. Mengutip laporan Tirto, pemerhati satwa Singky Soewadji menyayangkan pihak KBS yang terlihat menutup-nutupi peristiwa ini.

"Saya heran kenapa seluruh staf, medis dan petinggi di KBS menutupi kematian anak gajah ini? Gajah merupakan satwa Appendix I yang dilindungi oleh undang-undang. Itu masuk pidana," katanya.

Dikutip dari pemberitaan Jawapos, terkait kematian ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur mengatakan KBS telah melanggar kewajiban lembaga konservasi pasca kematian Gajah Dumbo tersebut.

Kewajiban yang dilanggar adalah menginformasikan sesegera mungkin terkait hal-hal yang telah atau sedang terjadi di balai konservasi tersebut. Untuk kasus gajah Dumbo, KBS baru memberi informasi kepada BKSDA setelah terjadi kematian.

4. Kasus Kematian Gajah “Yani” di Kebun Binatang Bandung (2016)

Pada bulan Mei 2016, Yani, gajah Sumatra koleksi Kebun Binatang Bandung, yang telah lumpuh selama sekitar seminggu, akhirnya ditemukan mati pada Rabu (11/5/2016) sore.

Dikutip dari laporan VOA, keterlambatan penanganan dan tidak adanya dokter hewan di kebun binatang tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kematian gajah berusia 40 tahun yang diberi nama Yani tersebut.

Yani tidak mendapat perawatan bahkan pengobatan apapun. Dia dibiarkan sakit hingga sekarat dengan hanya ditemani oleh seorang pawang. Yani diketahui tidak mendapat penanganan medis secara serius karena Kebun Binatang Bandung sudah tidak memiliki tenaga dokter hewan sejak setahun sebelum kematiannya karena masalah keuangan.

Mengutip laporan Tirto, Walikota Bandung saat itu, Ridwan Kamil dan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, kompak menyalahkan pihak pengelola Kebun Binatang Bandung atas kematian Gajah Yani tersebut.

Terpisah, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menyebut pengelola Kebun Binatang Bandung kesulitan keuangan. Salah satu indikatornya, tidak memiliki dokter hewan tetap.

"Dokter hewan tidak ada, katanya mereka kekurangan dana. Ini satwa-satwa dilindungi dan milik negara. Akan kami sita kalau mereka tidak sanggup (merawat)," ujar Kepala BBKSDA Jawa Barat Sylvana Ratina saat ditemui di Kebun Binatang Bandung, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu malam (11/05/2016) dikutip dari Tempo.

5. Kasus Kematian Tragis “Michael” Singa di Kebun Binatang Surabaya (2014)

Jasad Michael, seekor singa Afrika berusia 1,5 tahun, penghuni Kebun Binatang Surabaya (KBS), Jawa Timur, ditemukan menggantung dengan jeratan sling baja di lehernya pada Januari 2014. Kondisinya sangat mengenaskan. Polisi menyatakan Michael mati terbunuh. Namun, apa yang menyebabkan ia terbunuh masih misterius hingga kini.

Kisah tragis Michael melengkapi catatan kematian hewan-hewan lain di KBS. Kebun binatang yang berdiri sejak 1918 ini punya sejarah kelam, banyak hewan mati tak terurus sejak beberapa tahun sebelumnya seperti kematian Melani, harimau Sumatra, yang disebut terlihat sangat kurus sebelum akhirnya meninggal. Penyebabnya ditengarai adalah konflik antara manajemen dan pengurus KBS yang berlarut-larut.

Jika ditarik ke belakang, kasus kematian hewan di KBS memang memprihatinkan, Mengutip laporan Tirto, KBS di Surabaya sempat dianggap sebagai kebun binatang “pembunuh” dengan daftar panjang hewan-hewan yang mati di sana.

Berdasarkan data yang dikutip dari Antara, sejak awal Januari-Februari 2014 saja, ada 11 hewan mati di KBS antara lain singa, kambing gunung, rusa, dua ekor kijang, komodo, babon, sapi afrika, anoa dan unta.

Sementara itu, data pengelola KBS menunjukkan bahwa sekitar 130 satwa mati dalam kurun waktu sembilan bulan pada 2012.

Lebih jauh, data yang dikutip dari BBC mengungkap, pada tahun 2010, pada jangka waktu enam bulan saja, terdapat 26 ekor satwa mati. Jumlah kematian satwa pada tahun 2008 dan 2009 di Kebun Binatang Surabaya rata-rata mencapai 320 ekor per tahun.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Periksa Data, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Periksa data
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Farida Susanty