tirto.id - Iran mengumumkan kenaikan upah minimum lebih dari 60 persen bagi para penduduk meski masih berperang dengan Amerika Serikat (AS). Seturut pemberitaan media lokal, Menteri Tenaga Kerja Iran mengumumkan kebijakan ini pada Minggu (15/3/2026).
Seturut The Straits Times, keputusan Pemerintah Iran ini merupakan bagian dari penyesuaian besaran upah minimum tahunan di negara tersebut. Kenaikan juga diputuskan Teheran berdasarkan inflasi yang meroket akibat sanksi internasional dalam beberapa bulan sebelum pecah perang dengan AS-Israel.
Dalam laporan kantor berita Tasnim, disebutkan bahwa Pemerintah Iran telah menyetujui ketentuan peningkatan upah minimum bulanan, dari 103 juta rial menjadi 166 juta rial (sekitar Rp2,13 juta).
Laporan Tasnim turut menyebut, aturan upah minimum baru akan berlaku pada tahun kalender Persia berikutnya, yang dimulai dalam beberapa hari ke depan. Kenaikan serupa juga berlaku pada tunjangan anak.
Sejak dikenai sanksi internasional pada 2025, mata uang rial Iran terus jatuh. Nilai USD 1 sempat menembus lebih dari 1,5 juta rial Iran pada awal 2026. Nilai tukar rial kini menguat, meskipun masih di angka sekitar 1,3 juta rial per 1 dolar AS.
Iran Ingatkan Perang Panjang Bisa Menghancurkan Ekonomi Dunia
Pada 11 Maret pekan lalu, Iran mengingatkan bahwa mereka dapat melancarkan perang panjang dengan AS dan Israel. Jika terjadi, hal ini dijelaskan dapat "menghancurkan" ekonomi dunia akibat penutupan jalur transit energi via Selat Hormuz.
Penasihat panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Ali Fadavi, juga memberikan pernyataan serupa. Ia menyebut bahwa AS akan menghadapi potensi kehancuran ekonomi jika terus melakukan peperangan dengan Iran.
"Mereka [AS] akan terlibat dalam gesekan jangka Panjang yang akan menghancurkan seluruh ekonomi Amerika dan ekonomi dunia," katanya kepada stasiun televisi milik pemerintah.
Hal yang terjadi pada Selat Hormuz kini memang menjadi perhatian dunia internasional. Sejak dimulainya perang pada 28 Februari, ketidakpastian di jalur distribusi komoditas energi ini telah membuat Harga minyak dunia melonjak.
Teheran terus menyebut bahwa selat tersebut akan ditutup. Sementara itu, AS kini mulai menanggapi penutupan Hormuz dengan serius, seiring harga minyak dunia yang masih terkatrol tinggi.
Akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump berupaya untuk mengajak negara-negara sekutu AS ikut mengirimkan kapal perang ke selat pemisah Iran dan Oman itu.
"Banyak negara, terutama negara-negara yang terkena dampak upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz, akan mengirim kapal perang bersama Amerika Serikat untuk menjaga agar selat tersebut tetap terbuka dan aman," tulis Trump melalui unggahan media sosial miliknya pada Sabtu (14/3/2026).
Dalam unggahan tersebut, Trump menyebutkan sejumlah negara, termasuk Cina yang selama ini dianggap sebagai mitra strategis Iran dan musuh perang dagang AS.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































