Menuju konten utama

INACA Soroti Langkah Strategis Pulihkan Industri Penerbangan RI

Berbagai tantangan baik dari dalam negeri maupun global membuat sektor ini belum sepenuhnya pulih ke kondisi sebelum pandemi Covid-19.

INACA Soroti Langkah Strategis Pulihkan Industri Penerbangan RI
Pesawat tinggal landas di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (11/10/2021). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Industri penerbangan nasional dinilai masih menghadapi tekanan berat selama 2024 dan 2025. Berbagai tantangan baik dari dalam negeri maupun global membuat sektor ini belum sepenuhnya pulih ke kondisi sebelum pandemi Covid-19.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, mengatakan memanasnya geopolitik global mempengaruhi industri penerbangan seperti misalnya terganggunya rantai pasok untuk pesawat dan sparepart, serta harga minyak dan kurs rupiah terhadap dollar AS yang cenderung meningkat.

Sementara di dalam negeri, kebijakan pemerintah serta iklim usaha yang diwarnai persaingan bisnis tajam juga membuat industri ini belum sepenuhnya pulih dari pandemi Covid-19.

"Hal ini mengakibatkan jumlah penumpang domestik untuk penerbangan berjadwal selama tahun 2024 stagnan dengan tahun 2023. Selain itu jumlah pesawat juga turun karena banyak pesawat yang masuk perawatan MRO dan kesulitan mendapatkan spareparts," jelas dia dalam keterangan diterima, Jumat (1/8/2025).

Di sisi lain, dia juga menyoroti beberapa tantangan penerbangan nasional, baik untuk maskapai penerbangan berjadwal, tidak berjadwal dan kargo yang harus disikapi bersama stakeholder penerbangan.

Beberapa diantaranya adalah regulasi yang kurang fleksibel, risiko nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pengadaan spareparts, hubungan dengan pengelola bandara dan Airnav, asalah operasional penerbangan tidak berjadwal (terbang malam, terbang khusus , air ambulance dll), serta legal charter (penerbangan charter ilegal).

Maka, lanjut Dia, diperlukan langkah-langkah strategis jangka pendek, menengah dan panjang agar tantangan ini bisa segera teratasi dan industri penerbangan pulih seperti sebelum pandemi Covid-19.

Beberapa langkah strategis tersebut diantaranya dilanjutkannya kembali pembahasan permasalahan industri penerbangan secara holistik dan komprehensif. Ini mulai dari bisnis dan operasional penerbangan sampai dengan hal-hal pendukungnya dengan melibatkan pentahelix stakeholder yaitu pemerintah lintas kementerian dan lembaga; kalangan bisnis; akademisi; media; dan masyarakat.

Kedua perlu adanya peningkatan kondisi finansial maskapai penerbangan baik maskapai penerbangan berjadwal, tidak berjadwal, kargo dan perintis melalui regulasi operasional bisnis penerbangan yang lebih adil.

Ketiga menyelenggarakan konektivitas penerbangan secara komprehensif dengan sistem hub dan spoke baik untuk penerbangan domestik maupun internasional.

Keempat melakukan deregulasi terkait proses ekspor-impor sparepart baik yang melekat maupun tidak melekat di pesawat dengan menggunakan Ilustrated Part Catalog (IPC) serta berdasarkan aturan Tokyo Round dari WTC.

Kelima meningkatkan implementasi safety management system (SMS) dan peningkatan safety culture dalam operasional penerbangan dari semua stakeholder baik itu regulator (pemerintah), operator penerbangan (maskapai, bandara, MRO dll), dan masyarakat.

Terakhir, dibentuknya Dewan Transportation Board bekerjasama dengan moda transportasi lain dan stakeholder terkait untuk mengembangkan transportasi multi moda dalam rangka mendukung pertumbuhan perekonomian nasional Indonesia.

"INACA berharap peningkatan dukungan stakeholder penerbangan terhadap maskapai penerbangan nasional baik berjadwal, tidak berjadwal, kargo dan perintis tersebut dapat meningkatkan konektivitas penerbangan dan menjembatani kesenjangan pembangunan, mendukung desentralisasi, meningkatkan daya saing komoditas lokal," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI PENERBANGAN atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Insider
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Hendra Friana