tirto.id - Kekayaan para taipan terkaya Indonesia merosot hampir 22 miliar dolar AS, atau sekitar Rp368,5 triliun (kurs Rp16.751 per dolar AS), setelah MSCI memutuskan menunda sementara (interim freeze) rebalancing saham-saham Indonesia.
Tekanan ini berbarengan dengan aksi jual di pasar modal Indonesia hingga PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa memberlakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt).
Pada pagi ini, Kamis (29/1/2025), trading halt kembali diberlakukan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali masuk ke zona merah dan anjlok hingga 8 persen pada pukul 09:26. Setelah perdagangan dibuka kembali, IHSG bahkan sempat menyentuh titik terendah di level 7.481 atau turun 10,08 persen pada pukul 09:59.
Mengutip Bloomberg, kerugian terbesar di antara para taipan dialami Prajogo Pangestu, dengan penyusutan kekayaan sekitar 9 miliar dolar AS atau sekitar Rp150,83 triliun, menyusul pelemahan saham-saham emiten energi dan pertambangan miliknya.
Bloomberg Billionaires Index mencatat, nilai kekayaan bersih Prajogo kini berada di kisaran 31 miliar dolar AS, sementara secara tahun kalender (year to date/ytd), kekayaannya telah merosot sekitar 15 miliar dolar AS.
Sebagai catatan, kekayaan Prajogo Pangestu sempat naik tajam pada Juli tahun lalu, dengan tambahan 20 miliar dolar AS, setelah MSCI mencabut pembatasan pada tiga emiten dalam konglomerasinya—termasuk PT Barito Renewables Energy, perusahaan panas bumi yang menyumbang lebih dari sepertiga kekayaannya.
Pada Agustus, MSCI kembali memasukkan perusahaan-perusahaan tersebut dalam penilaian indeks, setelah sebelumnya mengecualikannya karena kekhawatiran atas tingginya konsentrasi saham di tangan pemegang saham pengendali.
Setelah pengumuman MSCI, saham Barito Renewables melonjak 20 persen, mendorong kekayaan Prajogo naik 3,5 miliar dolar AS dalam satu hari—menjadi rekor kenaikan harian terbesar sepanjang kariernya.
“Pembalikan MSCI menghapus beban besar,” kata Mohit Mirpuri, senior partner di SGMC Capital, kepada Bloomberg, sembari menambahkan bahwa volume perdagangan saham-saham yang terkait Prajogo saat itu termasuk yang tertinggi di Bursa Efek Indonesia.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































