Menuju konten utama

IHSG Ditutup Loyo ke level 7.549, Imbas CDIA Ambrol?

Dilihat berdasarkan sektornya, penurunan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur (-3,21 persen) dan keuangan (-2,13 persen).

IHSG Ditutup Loyo ke level 7.549, Imbas CDIA Ambrol?
Pengunjung berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (26/6/2025). ANTARA FOTO/Fauzan/rwa.

tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ke level 7.549 pada perdagangan Rabu (30/7/2025) sore. Indeks saham parkir di zona merah dengan penurunan 0,89 persen atau -68,02 poin dari pembukaan di 7.638,71.

Pada perdagangan hari ini, Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang ambruk hingga 9,29 persen dan terkunci batas auto rejection bawah (ARB) ke Rp1.660 per saham jadi sorotan.

Jatuhnya saham emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu tersebut terjadi usai Auto Rejection Atas (ARA) selama 11 hari beruntun dengan peningkatan 863,16 persen sejak resmi melantai di bursa.

Analis dari Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan menilai aksi profit taking menjadi pemicu utama koreksi setelah kenaikan signifikan CDIA pasca-IPO.

“Momentum kenaikan melambat, fear juga mulai meningkatkan apalagi harga sudah naik sangat signifikan saat ipo, jadi ya sahamnya turun signifikan di perdagangan hari ini, bisa dibilang profit taking,” katanya saat dihubungi Tirto, Rabu (30/7/2025).

Menurutnya, sinyal penurunan sudah terlihat sejak dua hari lalu. Pasalnya, saham yang baru melantai pada 9 Juli lalu ini sudah terdistribusi sebanyak Rp600 miliar.

Ekky memperkirakan penurunan masih akan berlanjut dalam jangka pendek, dengan level support potensial di kisaran Rp1.300.

“Kalau dilihat dari pergerakan saat ini, CDIA mungkin masih akan turun ke level Rp1.300. Tapi kita perlu pantau apakah di level itu ada rebound atau tidak," ujarnya.

Namun, ia menambahkan bahwa jika momentum membaik kembali, potensi kenaikan jangka panjang masih terbuka. "Jika momentum kenaikan membaik lagi, tidak menurun, kemungkinan jangka panjang kenaikan berlanjut," tambahnya.

Meski demikian, penurunan IHSG hari ini tak semata disebabkan pergerakan CDIA. Jika dilihat berdasarkan sektornya, penurunan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur (-3,21 persen) dan keuangan (-2,13 persen). Untuk sektor infrastruktur, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan market cap Rp1,060 triliun (7,74 persen) per 29 Juli 2022 mengalami penurunan 1,26 persen pada hari ini.

Sementara di sektor keuangan, saham bank-bank dengan kapitalisasi pasar jumbo terpantau ambles. BBCA, yang memiliki kapitalisasi Rp1.025 triliun (7,48 persen) turun 0,38 persen. Kemudian, BBRI dengan kapitalisasi Rp588 triliun (4,29 persen) turun 3,57 persen dan BMRI dengan kapitalisasi Rp435 triliun (3,18 persen) turun 1,91 persen.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto juga menganalisis dampak pergerakan CDIA terhadap IHSG pada perdagangan, Selasa kemarin. Berdasarkan penjelasannya, kontribusi CDIA terlihat pada penurunan IHSG ke level 7.617 atau susut 0,04 persen saat penutupan. Padahal, 10 menit sebelum penutupan, atau tepatnya pukul 15.50 WIB, IHSG masih tumbuh 7.680 atau naik 0,86 persen.

Menurutnya, penurunan CDIA yang saat itu masih disuspensi, terjadi karena adanya transaksi melalui Full Call Auction (FCA) di menit terakhir penutupan pasar. Imbasnya, nilai per saham CDI turun dari dari Rp1.950 ke Rp1.830 atau terkoreksi 6,13 persen.

Meski demikian, bobot saham CDIA ke IHSG terbilang minim, hanya sekitar 0.73 persen. Penurunan tersebut juga menyebabkan rangking CDIA dalam Free Float Adjusted Capitalization (FFAC) merosot dari semula 13 ke 17.

Menurut Rudiyanto, pengaruh saham CDIA dan saham PP lainnya seperti BREN terhadap IHSG disebabkan lembar saham free float yang minim. "Akibatnya meski kapitalisasi pasar tinggi, bobot dalam perhitungan indeks terdiskon cukup signifikan di faktor free float," jelasnya.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana