tirto.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini masih terjadi dipicu perilaku investor yang terjebak fenomena fear of missing out (FOMO) atau takut ketinggalan momentum.
“Nah, fear of missing out ini terjadi dari investor yang berpikir bahwa saham-saham yang sekarang mereka invest itu termasuk yang saham kita sebut saham olahan,” kata Airlangga kepada para wartawan saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Centre (SICC), Kabupaten Bogor, pada Senin (2/1/2026).
Airlangga menyatakan saham-saham yang masuk kategori saham 'olahan' itu dikenai aturan yang mewajibkan perusahaan menaikkan porsi saham yang beredar di publik (free float) menjadi minimal 15 persen. Walakin, investor melepas saham tersebut lebih dini. Padahal, kata dia, ada saham yang berfundamental baik mengalami kenaikan.
“Sehingga dengan demikian mereka melepas saat sekarang. Tetapi kalau kita lihat saham-saham yang fundamentalnya bagus juga ada naik,” ucap Airlangga.
Airlangga berkata meski IHSG di awal pekan mengalami turbulensi, net inflow atau aliran modal asing kembali masuk ke pasar modal Indonesia.
“Pertama kita lihat terjadi net inflow asing. Net inflow asing berarti kepercayaan asing terhadap perbaikan itu ada,” tukas Airlangga
Sebagai informasi, IHSG ditutup melemah ke level 7.922,73 pada perdagangan Senin. Mengutip RTI Business, indeks turun 406,875 poin atau sebesar 4,88 persen dari perdagangan hari sebelumnya yang finish di posisi 8.329,606.
Pergerakan IHSG sepanjang hari ini diwarnai oleh 58 saham menguat, 720 melemah dan 36 saham stagnan atau belum mengalami perubahan. Kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp14.268 triliun.
Aktivitas perdagangan di bursa tercatat cukup aktif dengan 49,96 miliar saham berpindah tangan melalui 2.948.937 kali transaksi. Sementara nilai jual-beli saham tersebut tercatat mencapai Rp29,03 triliun.
Dari sisi sektoral, performa indeks bergerak beragam dengan sektor industri dasar dan kimia menjadi penopang penopang utama penurunan perdagangan sebesar 10,6 persen.
Lalu disusul oleh sektor energi dengan penurunan 7,89 persen, sektor cyclical sebesar 7,89 persen, infrastruktur 6,27 persen, dan sektor properti 6,21 persen.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id





































