tirto.id - Paparan timbal dan mikroplastik kini dinilai menjadi ancaman kesehatan yang tak lagi bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari anak-anak di Indonesia. Dari cat rumah yang mengelupas, debu yang terkontaminasi, hingga wadah plastik yang digunakan untuk makanan dan minuman, berbagai sumber paparan itu disebut berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak sejak usia dini, bahkan sejak masih berada dalam kandungan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai persoalan ini perlu dipandang sebagai isu kesehatan jangka panjang karena dampaknya tidak hanya menyasar fisik, tetapi juga perkembangan saraf, perilaku, dan fungsi organ tubuh anak. Di saat yang sama, IDAI mulai memperkuat kerja sama dengan pemerintah untuk menyusun langkah penanganan yang lebih sistematis.
Ketua Umum PP IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan ancaman mikroplastik menjadi perhatian karena partikel tersebut sulit terurai dan terus berada di lingkungan.
“Bukti-bukti sudah menunjukkan bahwa paparan mikroplastik itu memang karena tidak bisa didegradasi, dia akan terus ada. Bahkan sampai mekonium bayi baru lahir itu sudah ada mikroplastiknya,” kata Piprim dalam acara yang diselenggarakan IDAI bersama Echo Jantung pada Senin (06/04/2026).
Temuan mikroplastik pada mekonium atau tinja pertama bayi yang baru lahir, menunjukkan bahwa paparan terhadap partikel plastik berukuran sangat kecil itu dapat terjadi sejak masa kehamilan. Menurut IDAI, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pencemaran lingkungan telah masuk ke fase paling awal kehidupan manusia.
Selain mikroplastik, perhatian besar juga diarahkan pada timbal, logam berat beracun yang kerap ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggal anak. dr. Irene Yuniar menjelaskan bahwa timbal sebenarnya tidak memiliki fungsi biologis di dalam tubuh manusia.
“Sebetulnya timbal tidak boleh ada di dalam tubuh. Tapi kalau ada, batas toleransi itu sampai lima mikrogram. Masalahnya, kadar lima itu sebetulnya sudah ada efek buat IQ dan perilaku," ujarnya dalam acara yang sama.
Paparan timbal dapat berasal dari sumber yang dekat dengan keseharian, seperti cat rumah lama yang mengelupas, pipa air tua, debu tanah yang tercemar, hingga mainan anak yang tidak memenuhi standar keamanan. Karena paparan sering berlangsung perlahan dan tanpa gejala langsung, dampaknya kerap tidak dikenali sejak awal.
Menurut Irene, gangguan yang muncul tidak selalu tampak sebagai masalah kesehatan yang spesifik. Dalam banyak kasus, perubahan perilaku anak justru lebih dulu terlihat.
“Kita sering bilang anak ini bandel, padahal mungkin ada karena paparan dari luar tadi," katanya.
Dalam kadar yang lebih tinggi, timbal dapat menyebabkan gangguan saraf, anemia, keterlambatan pertumbuhan, hingga gangguan ginjal. Sebagian dampaknya bersifat reversibel, tetapi sebagian lain dapat menetap.
“Bayangin, sampai gangguan saraf, anemia atau kurang darah, terlambat tumbuh, bahkan bisa sampai gangguan ginjal. Dan kalau sudah terjadi gangguan, ada yang bisa balik, ada yang menetap," ujar Irene.
Anak-anak disebut menjadi kelompok paling rentan karena organ tubuh mereka masih berkembang dan sistem detoksifikasi tubuh belum bekerja sempurna seperti orang dewasa.
Mikroplastik Menyebar ke Berbagai Organ Tubuh
Mikroplastik sendiri merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima mikron yang dapat masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, maupun udara. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini mudah berpindah ke berbagai organ tubuh setelah terpapar secara terus-menerus. Irene menyebut dampaknya tidak terbatas pada satu sistem organ saja.
“Apa pun sistem tubuhnya, mikroplastik bisa merusak dari sistem saraf sampai sistem pernapasan," katanya.
Piprim menambahkan, penggunaan bahan plastik dalam kehidupan sehari-hari seharusnya mulai lebih diperhatikan, terutama ketika plastik digunakan untuk makanan atau minuman panas.
“Bahan-bahan yang kita gunakan untuk makan, untuk minum, terutama kalau dipanaskan, ini tentu sangat berbahaya buat kesehatan kita," ujarnya.
Di tengah tingginya risiko paparan, kondisi gizi anak disebut dapat menjadi faktor yang membantu tubuh mengurangi dampak zat berbahaya tersebut. Irene menjelaskan bahwa kecukupan vitamin, kalsium, dan zat besi berfungsi sebagai penghalang alami terhadap penyerapan timbal.
“Kalau kita tercukupi vitamin, kalsium, dan zat besi, itu seperti barier-nya, sehingga absorpsi timbal ke tubuh makin berkurang," jelasnya.
Sebaliknya, kekurangan nutrisi tertentu justru memperbesar peluang timbal masuk ke dalam tubuh.
“Kekurangan nutrien tertentu justru memicu peningkatan penyerapan timbal ke tubuh.” tambah Irene.
Meski sejumlah penelitian global telah menunjukkan luasnya paparan mikroplastik dan timbal, IDAI mengakui data primer di Indonesia masih belum memadai, terutama untuk mengetahui seberapa besar dampaknya pada anak di dalam negeri.
“Data primer kami belum punya. Tapi dengan adanya publikasi seperti itu, kita harus awareness. Bisa jadi itu juga ada di kita," kata Piprim.
Karena itu, IDAI mendorong penguatan penelitian nasional agar gambaran paparan pada anak Indonesia dapat dipetakan secara lebih akurat.
Menurut Piprim, pembahasan mengenai paparan timbal telah masuk dalam kerja bersama antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, World Health Organization, dan UNICEF.
“Sejak muncul berbagai penelitian mengenai tingginya kandungan timbal, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan WHO, UNICEF, dan berbagai pihak lain untuk menangani masalah ini," ujarnya.
Langkah yang disiapkan meliputi survei nasional kadar timbal pada anak, peluncuran data awal paparan, penyusunan panduan nasional bagi tenaga kesehatan, serta koordinasi lintas kementerian untuk mengatur aspek lingkungan, industri, dan pendidikan.
“Nanti akan dibuat panduan nasional dan didistribusikan ke seluruh pelosok, serta harus bekerja sama dengan kementerian lain," kata Piprim.
Di tingkat rumah tangga, IDAI menilai langkah pencegahan tetap penting dilakukan. Orang tua diminta lebih selektif memilih mainan anak, membatasi penggunaan plastik yang berisiko, serta membiasakan anak menjaga kebersihan tangan.
Piprim juga menyarankan penggunaan bahan alami sebagai alternatif alat bermain.
“Kalau bisa, alat permainan edukatif dari bahan yang lebih alami seperti kayu. Indonesia tidak kekurangan bahan itu," ujarnya.
Bagi IDAI, isu timbal dan mikroplastik bukan lagi semata urusan medis, melainkan persoalan lingkungan yang membutuhkan gerak bersama banyak pihak.
“Masalah ini tidak bisa sendiri. Kita harus bekerja bersama kementerian lain untuk menyediakan hal-hal yang tepat di masa mendatang," tutur Irene.
===========
Dini Puspita Ramadhani berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.
Penulis: Intern tirto
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































