Menuju konten utama

Langkah Pemprov DKI Cegah Pencemaran Mikroplastik di Udara

Pemprov DKI menjadikan temuan BRIN soal mikroplastik sebagai alarm polusi plastik sudah kompleks.

Langkah Pemprov DKI Cegah Pencemaran Mikroplastik di Udara
Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyemprotkan water mist di Jalan TB Simatupang, Jakarta, Jumat (19/9/2025). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menegaskan komitmennya dalam menekan pencemaran akibat sampah plastik, termasuk mikroplastik yang kini ditemukan dalam air hujan di Jakarta.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai langkah preventif dan responsif untuk mengurangi dampak pencemaran mikroplastik.

Langkah pertama yang dilakukan DLH Jakarta untuk menekan dampak dari paparan mikroplastik adalah dengan mengedukasi masyarakat untuk mendaur ulang sampah.

“Kampanye pengurangan sampah plastik sekali pakai, serta edukasi masyarakat untuk memilah dan mendaur ulang sampah,” ujar Asep di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Selain menggencarkan kampanye pengurangan sampah plastik dan daur ulang, DLH Jakarta juga melakukan pemantauan terhadap aktivitas industri.

Asep menegaskan, langkah pemantauan itu dilakukan untuk mengurangi limbah industri yang buruk bagi kualitas udara serta air di Jakarta.

“Pemantauan dan pembinaan industri, agar lebih ramah lingkungan dan mengurangi limbah yang berpotensi mencemari udara maupun air,” tegasnya.

Menurut Asep, Pemprov DKI memandang hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait temuan mikroplastik dalam air hujan bukan dengan kekhawatiran. Ia justru beranggapan temuan itu adalah sebuah pengingat penting bahwa polusi plastik sudah masuk fase kompleks.

“Temuan ini menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa isu polusi plastik sudah memasuki fase yang kompleks dan membutuhkan kerja bersama, bukan sebagai hal yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan,” ujarnya.

Sejak 2022, DLH Jakarta disebutnya telah memantau konsentrasi mikroplastik di perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu, serta memperluas pemantauan hingga ke sungai-sungai utama. Berdasarkan hasil pemantauan pada 2022–2024, ditemukan kelimpahan mikroplastik antara 9.891 hingga 12.489 partikel per meter kubik.

“DLH sedang memperkuat kolaborasi dengan BRIN, Kementerian Lingkungan Hidup, dan perguruan tinggi untuk memperdalam riset dan pemantauan lanjutan, termasuk pada kualitas air hujan. Kami juga akan meningkatkan pengawasan sumber pencemar di sungai dan sistem drainase, serta memperluas edukasi publik tentang bahaya mikroplastik,” kata Asep.

DLH juga terus memperkuat kebijakan pengurangan plastik sekali pakai melalui Pergub No.142 Tahun 2019, termasuk edukasi kepada pedagang pasar tradisional dan pelaku usaha kecil agar beralih ke kantong belanja ramah lingkungan.

Di sisi lain, Profesor Riset BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa fenomena hujan mikroplastik sebenarnya tidak hanya ditemukan di Jakarta, tetapi juga di wilayah sekitar seperti Jabodetabek hingga pesisir utara Jawa.

“Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Kami juga melakukan penelitian lanjutan di 18 kota besar dan kecil di Indonesia,” ujar Reza.

“Hasil sementara menunjukkan bahwa seluruh sampel udara mengandung mikroplastik, baik berukuran besar maupun kecil,” lanjutnya.

Ia menyebutkan, tingkat kehadiran mikroplastik di Jakarta masih berada pada kisaran 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari. Fenomena ini, menurutnya, adalah alarm penting karena udara yang dihirup masyarakat kini turut mengandung partikel mikroplastik dari aktivitas manusia.

“[Temuan mikroplastik di air hujan] itu sebenarnya [ada juga di] Jabodetabek dan sekitarnya. Jadi tidak hanya Jakarta, termasuk yang ada di pesisir utara Jawa. Jadi memang itu kan bertukar, bolak-balik, bolak-balik,” jelasnya.

Reza menambahkan, fenomena ini juga telah ditemukan secara global, mulai dari Jerman hingga Jepang.

“Hampir seluruh kajian menunjukkan adanya mikroplastik di udara. Di luar saja ada, apalagi di kita yang terpengaruh angin muson,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait MIKROPLASTIK atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Bayu Septianto