Menuju konten utama

Ada Mikroplastik di Hujan Jakarta, Ini Fakta dan Bahayanya

BRIN temukan 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta. Simak apa itu mikroplastik dan bahayanya.

Ada Mikroplastik di Hujan Jakarta, Ini Fakta dan Bahayanya
Ilustrasi Cuaca. foto/istockphoto

tirto.id - Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap terdapat partikel mikroplastik berbahaya dalam air hujan di Jakarta. Pembaca dapat menyimak beberapa fakta menarik penelitian tersebut beserta bahaya mikroplastik.

Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, mengungkapkan hasil penelitian sejak tahun 2018 yang menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di ibu kota. Mikroplastik diduga terbentuk dari degradasi limbah plastik melayang di udara akibat aktivitas manusia.

"Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka," kata Reza, mengutip Antaranews, Senin (27/10).

Temuan tersebut lantas menimbulkan kekhawatiran karena partikel mikroplastik berukuran sangat kecil dan dapat terhirup manusia atau masuk ke tubuh melalui air atau makanan.

Apa itu Mikroplastik di Hujan Jakarta?

Melansir laman resmi Ayo Sehat Kemenkes, mikroplastik merupakan merupakan porongan plastik yang ukurannya sangat kecil dari 5 milimeter hingga 1 mikron. Secara umum, terdapat dua jenis mikroplastik, yaitu mikro primer dan mikro sekunder.

Mikro primer diproduksi langsung untuk produk tertentu yang dipakai manusia (seperti sabun, deterjen, kosmetik, dan pakaian. Mikroplastik primer diproduksi dalam ukuran kecil dan biasanya berbentuk butiran

Sementara itu, mikro sekunder yang berasal dari penguraian sampah plastik di lautan. Mikroplastik sekunder terdegradasi secara lingkungan dari plastik yang lebih besar, biasanya membentuk serat, fragmen atau film, dan busa

Adapun tipe mikriplastik terdiri dari empat bentuk. Pertama, butiran yang berbetuk bulat halus. Kedua, fragmen yang merupakan pecahan dari plastik makro.

Ketiga, tipe film yang sangat tipis bahkan hampir transparan biasanya berasal dari plastik pembungkus. Keempat, berbentuk serat yang biasanya berasal dari senar pancingan dan serat pakaian.

Dalam penelitian BRIN dijelaskan bahwa Mimikroplastik adalah material sintetis berukuran 1 hingga <5000 μm yang tersedia dalam bentuk teratur (granul), tidak teratur (fragmen atau film), serat, dan busa. Mikroplastik juga merupakan partikel yang tidak larut dalam air yang berasal dari sumber primer dan sekunder.

Semua bahan ini, termasuk bahan sintetis dari pakaian, karet sintetis (terutama dari gesekan ban), furnitur rumah tangga, sistem pengelolaan limbah (seperti tempat pembuangan akhir, limbah, dan lumpur air limbah), dan emisi industri, dapat menyebabkan pelepasan ke udara

Sementara itu, mikroplastik di hujan Jakarta ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan.

Temuan Penelitian BRIN Mikroplastik di Hujan Jakarta

Penelitian berjudul The Deposition of Atmospheric Microplastics in Jakarta-Indonesia: The Coastal Urban Area terbit dalam laman Science Direct pada bulan Januari 2022.

Penelitian ini mengkaji karakteristik (bentuk, ukuran, dan polimer) serta laju deposisi mikroplastik atmosfer di Jakarta. Sampel diperoleh dengan menggunakan alat penakar hujan selama 12 bulan.

Melansir laman Antaranews, peneliti BRIN menemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta.

Fenomena mikroplastik di hujan Jakarfta terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri. Kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama hujan, yang dikenal dengan istilah atmospheric microplastic deposition.

Berikut beberapa poin temuan BRIN dalam penelitaian mikroplastik di hujan Jakarta:

  • Hasil studi menemukan bahwa bentuk mikroplastik pada semua periode pengambilan sampel didominasi oleh serat (86,36%), diikuti oleh fragmen (10,61%) dan busa (3,03%).
  • Secara statistik, persentase bentuk mikroplastik setiap bulan memiliki variasi yang bermakna.
  • Laju deposisi mikroplastik atmosfer pada musim hujan 4 kali lipat dibandingkan musim kemarau.
  • Faktor meteorologi (curah hujan dan kecepatan angin) secara signifikan memengaruhi laju deposisi.
  • Ukuran mikroplastik atmosfer secara signifikan memengaruhi deposisi.
  • Mikroplastik atmosfer di Jakarta berasal dari emisi aktivitas lokal.
  • Polimer yang terdeteksi meliputi poliester, polistirena, polibutadiena, dan polietilena.
  • Laju deposisi pada musim hujan (23.422 partikel m−2d−1) lebih tinggi dibandingkan musim kemarau (5.745 partikel)
  • Serat merupakan bentuk mikroplastik atmosfer yang dominan dibandingkan dengan bentuk lain seperti fragmen, busa, dan butiran.
  • Mikroplastik atmosfer dikenal sebagai partikel yang dapat bernapas, artinya dapat terhirup oleh manusia dan mengendap di alveoli. Hal ini menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan manusia.
  • Secara umum, mikroplastik atmosfer berasal dari emisi tekstil sintetis, ban karet, berbagai serpihan plastik, debu, dan resuspensi partikel lalu lintas.
  • Studi BRIN membuktikan bahwa mikroplastik atmosfer terdapat di udara Jakarta dan perlu dipantau secara berkala oleh pemerintah.

Bahaya Mikroplastik dalam Hujan

Secara umum, mikroplastik dapat tersebar melalui berbagai jalur, seperti udara, air, dan tanah. Partikel mikroplastik yang terbawa angin juga bisa mencemari udara dan lingkungan sekitar.

Seiring waktu, mikroplastik dari berbagai sumber ini terus terakumulasi dalam ekosistem. Partikel-partikel kecil ini ditemukan mencemari sungai, laut, udara, hingga tanah pertanian.

Akibatnya, mikroplastik menjadi sulit untuk dihilangkan dari lingkungan dan dapat memberikan dampak buruk terhadap kehidupan laut, keseimbangan ekosistem, serta kesehatan manusia.

Bahaya mikroplastik dalam hujan di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Peradangan kronis pada saluran pernapasan dan sistem pencernaan.
  2. Gangguan hormon endokrin akibat paparan bahan kimia seperti Bisphenol A (BPA) yang terdapat dalam plastik.
  3. Risiko penyakit kardiovaskular dan stres oksidatif karena akumulasi jangka panjang.
  4. Penurunan berat testis janin, kerusakan sel epitel reproduksi, serta penurunan jumlah sperma.
  5. Berperan sebagai pembawa logam berat dan mikroba patogen, yang memperparah efek buruk terhadap kesehatan manusia serta mempercepat penyebaran berbagai kontaminan lainnya.

Baca juga artikel terkait MIKROPLASTIK atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo