Menuju konten utama
Byte

Grokipedia dan Metode Zaman Kegelapan

Elon Musk mengeklaim bahwa misi Grokipedia adalah menyampaikan "sebenar-benarnya kebenaran". Padahal di dalamnya justru masalah demi masalah bermunculan.

Grokipedia dan Metode Zaman Kegelapan
Grokipedia. foto/Geokipedia
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada 27 Oktober 2025, Elon Musk mengumumkan sesuatu yang disebutnya sebagai "peningkatan besar" dari Wikipedia. Namanya Grokipedia, sebuah ensiklopedia daring yang seluruh isinya ditulis oleh Grok, chatbot kecerdasan buatan milik perusahaannya, xAI. Menurut Musk, di balik peluncuran tersebut ada misi untuk menyampaikan "sebenar-benarnya kebenaran".

Sepintas terdengar mulia. Akan tetapi, kenyataannya jauh lebih kompleks. Dan untuk memahami apa sebenarnya Grokipedia, kita perlu bertanya: Elon Musk yang mana yang meluncurkan proyek ini?

Pada pertengahan dekade 2010-an, Musk menjelma menjadi sosok yang cukup dikagumi lewat berbagai terobosan yang dilakukan perusahaannya. Ia berbicara lantang soal perubahan iklim, mendirikan Tesla untuk mempercepat transisi kendaraan listrik, membangun SpaceX dengan ambisi membawa manusia ke Mars, dan menyumbang jutaan dolar untuk riset keamanan AI. Di permukaan, Musk terlihat layaknya sosok humanitarian yang peduli akan masa depan umat manusia.

Namun, pandemi Covid-19 kemudian melanda pada 2020. Dan ini menjadi titik balik persona publik sosok kelahiran Afrika Selatan tersebut.

Di tengah pandemi yang merenggut nyawa banyak manusia, Musk menjadi salah satu orang pertama yang secara terbuka meremehkannya. "Kepanikan akan virus corona ini sangat bodoh," tulisnya di Twitter pada Maret 2020. Itu adalah cuitan pertama Musk yang disukai lebih dari satu juta kali. Lalu, ketika fakta tentang Covid-19 berbicara sebaliknya dan akunnya mulai mendapat teguran dari pemeriksa fakta, Musk tidak mundur. Sikapnya justru semakin keras.

Di saat yang bersamaan, kehidupan pribadi Musk bergolak. Hubungannya dengan musisi Grimes, ibu dari tiga anaknya, mulai retak pada 2021. Dan yang lebih penting, putrinya Vivian mengumumkan telah menjadi transgender dan secara resmi mengubah namanya pada hari ulang tahunnya yang ke-18 pada 2022. Musk kemudian berkata kepada psikolog pop Jordan Peterson bahwa ia merasa telah kehilangan anaknya, dan menyimpulkan bahwa sang anak "dibunuh oleh woke mind virus".

Frasa "woke mind virus" menjadi semacam kompas baru bagi Musk. Para peneliti yang mengkaji radikalisasi mencatat bahwa transisi Vivian tampaknya menjadi "cognitive opening" bagi pergeseran ideologis Musk. Yakni, sebuah pintu tak kasatmata yang membuka jalan bagi seluruh ekosistem keyakinan baru. Pada Desember 2022, ia menulis, "The woke mind virus is either defeated or nothing else matters." Misi hidup Musk berubah. Baginya, yang terpenting adalah mengalahkan "virus" pemikiran terbuka dengan cara apa pun.

Transformasi Musk semakin konkret ketika ia mengakuisisi Twitter seharga 44 miliar dolar pada Oktober 2022 dan mengubahnya menjadi X. Di bawah kepemimpinannya, kebijakan moderasi konten dilonggarkan secara dramatis. Akun-akun yang sebelumnya diblokir karena menyebarkan ujaran kebencian dipulihkan. Konten-konten rasis, hoaks, dan teori konspirasi mengalir semakin bebas. Platform yang pernah menjadi ruang diskusi publik digital berubah menjadi, menurut banyak pengamat, megafon bagi kelompok sayap kanan.

Di tengah semua ini, Musk juga ikut dalam perlombaan AI yang mulai panas. Ia mendirikan xAI pada 2023 sebagai respons atas ketidakpuasannya terhadap arah OpenAI, perusahaan yang sebelumnya ia ikut dirikan dan kemudian ia tinggalkan. Dari sini lahirlah Grok, model bahasa besar milik xAI yang diposisikan sebagai alternatif dari ChatGPT atau Gemini. Dan dari Grok, lahirlah Grokipedia.

Kelemahan dan Ancaman

Grokipedia adalah ensiklopedia daring yang, pada saat peluncurannya, memiliki 885.279 artikel, yang kesemuanya ditulis dan "diperiksa faktanya" oleh Grok. Musk memosisikannya sebagai jawaban atas apa yang ia sebut sebagai "bias politis dan ideologis" Wikipedia, yang pernah ia juluki "Wokepedia."

Namun, begitu para peneliti dan jurnalis mulai menggali isinya, masalah demi masalah mengemuka.

Penelitian komprehensif dari Harold Triedman dan Alexios Mantzarlis di Cornell Tech menemukan bahwa sebagian besar konten Grokipedia sebenarnya adalah turunan dari Wikipedia. Sekitar 56 persen artikel Grokipedia membawa lisensi Creative Commons yang menunjukkan konten diadaptasi dari Wikipedia, dengan tingkat kemiripan rata-rata 90 persen. Dengan kata lain, Musk membangun "alternatif" Wikipedia dengan cara menyalin Wikipedia.

Tak hanya itu, juga banyak konten Wikipedia yang kemudian diubah seenak jidat. Artikel-artikel tentang topik kontroversial, termasuk tokoh-tokoh politik, isu sosial, dan peristiwa sejarah, menunjukkan kemiripan yang jauh lebih rendah dengan versi Wikipedia-nya.

Penelitian yang sama menemukan bahwa artikel-artikel non-CC-licensed (tak berlisensi Creative Commons) pada Grokipedia, 13 kali lebih mungkin mengandung sumber yang telah di-blacklist oleh komunitas Wikipedia dibandingkan artikel Wikipedia yang setara. Sumber-sumber yang dimaksud termasuk Stormfront, forum nasionalis kulit putih, dan InfoWars, situs teori konspirasi milik Alex Jones. Grokipedia mengutip Stormfront sebanyak 42 kali dan InfoWars sebanyak 34 kali. Sementara Wikipedia tidak mengutip keduanya sama sekali.

Kemudian, WIRED menemukan bahwa entri Grokipedia untuk topik "gay pornography" secara keliru mengklaim bahwa pornografi memperparah epidemi HIV/AIDS di tahun 1980-an. Entri tentang WIRED menyebut Musk pernah melabeli publikasi tersebut sebagai "propaganda kiri mentok".

Nah, dari sini, sebenarnya tidak ada yang mengherankan, khususnya jika kita mengikuti tingkah polah Musk sejak masa pandemi. Menurut laporan New York Times, Musk terlibat langsung dalam pengembangan Grok dan mendorongnya ke arah kanan pada sejumlah isu. Grokipedia, dengan kata lain, bukan sebuah ensiklopedia. Ia adalah cerminan dari pandangan dunia seorang miliarder yang dikemas dalam estetika otoritas ensiklopedis.

"Semua orang tahu apa itu Wikipedia. Mereka adalah otoritas dalam pengetahuan. Musk ingin melekatkan diri pada otoritas serupa untuk mengedepankan agenda politiknya," kata LK Seiling, peneliti AI di Weizenbaum Institute kepada The Intercept.

Persoalan Grokipedia tidak berhenti pada bias sang empunya. Bahkan jika kita mengabaikan soal bias, dapatkah kita memercayai sebuah ensiklopedia yang sepenuhnya ditulis oleh AI? Jawabannya, berdasarkan apa yang kita ketahui tentang cara kerja large language model, adalah tidak.

LLM seperti Grok tidak mengetahui fakta dalam arti yang sesungguhnya. Ia bekerja secara probabilistik, dengan memprediksi kata demi kata berdasarkan pola statistik dalam data pelatihannya. Ini berarti, ia bisa menghasilkan teks yang terdengar sangat otoritatif dan meyakinkan, bahkan ketika informasi yang dikandungnya salah sepenuhnya. Fenomena ini dikenal sebagai "halusinasi", di mana AI menghasilkan klaim yang tampak faktual tapi tidak memiliki dasar kebenaran.

Grokipedia

Grokipedia. foto/Geokipedia

Ini bukan sekadar teori. Ini adalah karakteristik yang diakui oleh hampir semua pengembang AI besar, termasuk OpenAI, Google, dan Anthropic. Semua sistem AI generatif saat ini dapat dan memang membuat kesalahan faktual, bahkan kadang dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi.

Musk, sebagai orang yang lama terlibat dalam pengembangan AI, mustahil tidak mengetahui hal ini. Namun, ia tetap nekat meluncurkan sebuah ensiklopedia, yang seyogianya merupakan puncak dari akurasi dan verifikasi, tetapi proses pembuatannya diserahkan kepada sistem yang, secara inheren, rentan terhadap kesalahan faktual. Ini bukan sekadar kelalaian. Malah, bisa dibilang ini adalah kesengajaan.

Contoh paling gamblang soal upaya Musk "merevisi kebenaran" barangkali adalah entri Grokipedia tentang Adolf Hitler. Hingga beberapa waktu setelah peluncurannya, kalimat pembuka entri tersebut menyebut Hitler sebagai "the Austrian-born Führer of Germany". Bahkan setelah direvisi, teks tersebut masih menyebut Hitler dengan gelar kehormatannya "Führer und Reichskanzler". Semenatra dosa terbesar Hitler, yakni holokaus, baru disebut pertama kali setelah sekitar 13.000 kata.

Patrick Gildersleve, dosen komunikasi dan AI di University of Exeter, mencatat bahwa Grokipedia sebenarnya lebih tepat digambarkan sebagai "remix basi dari sebuah sumber pengetahuan yang hidup", alih-alih sebuah ensiklopedia. Contoh lain, Artikel Donald Trump di Wikipedia telah diperbarui 185 kali sejak Grokipedia diluncurkan. Dalam periode yang sama, hanya satu perubahan yang disetujui di Grokipedia.

Wikipedia, dengan segala kekurangannya, dibangun di atas sesuatu yang tidak dimiliki Grokipedia, yaitu proses. Di balik entri-entri tersebut, ada jutaan editor manusia yang berdebat, memverifikasi, dan saling mengoreksi. Ada pula transparansi penuh dalam riwayat suntingan dan standar sumber yang ketat. Wikimedia Foundation sendiri menyatakan, "Pengetahuan Wikipedia akan selamanya bersifat manusiawi."

Akan tetapi, mungkin di sinilah letak ancaman yang sesungguhnya, dan ini bukan soal bagaimana Grokipedia bakal menggusur Wikipedia. Grokipedia tidak muncul di halaman pertama hasil pencarian Google dan tidak punya komunitas penyokong yang kuat. Namun, dari Grokipedia, kita telah melihat bagaimana konten pengetahuan berskala besar bisa dihasilkan, dikontrol, dan dibentuk oleh satu orang dengan modal dan ambisi yang besar.

Apa yang dilakukan Musk lewat Grokipedia adalah metode Zaman Kegelapan di mana kebenaran adalah hal absolut yang hanya ditentukan segelintir orang. Grokipedia adalah kelahiran kembali tirani pengetahuan yang membuat Galileo Galilei dijebloskan ke penjara karena bersikukuh bahwa Bumi yang mengitari Matahari, bukan sebaliknya.

Celakanya pula, AI perlahan telah menggantikan situs-situs seperti Wikipedia sebagai sumber informasi utama. Ini terbukti dari peringatan Wikimedia Foundation tentang penurunan trafik akibat penggunaan alat AI yang mampu menghadirkan jawaban instan, alih-alih memaksa pengguna untuk membaca dengan penuh ketelatenan. Artinya, meskipun Grokipedia saat ini terlihat seperti proyek gagal, preseden yang diciptakannya tak bisa disepelekan.

AI memang menawarkan kenyamanan dan kemudahan bagi penggunanya. Akan tetapi, satu hal yang tidak pernah boleh dilupakan adalah fakta bahwa semua alat AI yang ada kini dikontrol oleh segelintir orang yang bisa jadi punya agenda politik tertentu. Oleh karena itu, haram hukumnya menyerahkan kebenaran dan pengetahuan sepenuhnya kepada mereka.

Baca juga artikel terkait ENSIKLOPEDIA atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi