Gerilya Bisnis Sex Toys

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 12 Desember 2016
Dibaca Normal 4 menit
Penjualan mainan seks secara online terus meningkat. Penjualan dengan sistem ini lebih disukai karena menyangkut privasi pembeli.
tirto.id - Berjualan sex toys alias mainan seks sudah pasti bukan sebuah profesi yang bisa dibanggakan di depan calon mertua. Tapi, R menjalaninya karena tergiur dengan keuntungannya yang cukup besar. Ia baru banting setir karena hendak menikah.

R pernah berjualan sex toys selama 2 tahun. Alat-alat itu dijualnya secara bergerilya lewat online, melalui blognya sendiri. Ia tak menjualnya lewat toko-toko online yang terkenal ataupun di toko fisik. Meski demikian, keuntungan yang diperoleh R cukup lumayan.

Permintaan orang-orang Indonesia atas sex toys memang tak sebesar konsumen di luar negeri. Tapi menurut R, sekali ada pelanggan, ia bisa mematok selisih keuntungan yang cukup tinggi. Produk pemenuh kebutuhan biologis itu diibaratkan obat terlarang. Ia beredar di “bawah tanah”, konsumennya terhitung sedikit dan malu-malu, namun sekali pesan, ia akan membayar lunas meski harganya mahal.

Lalu mengapa ia memutuskan untuk berhenti? “Karena waktu itu saya mau menikah. Harus ganti kerjaan lah. Masa bilang ke calon mertua saya jualan sex toys. Haha.. Sebesar apapun keuntungannya ya mending cari kerja lain yang katakan lah normal,” ungkapnya.

R yang kala itu hampir menginjak usia 30 tahun akhirnya banting setir ke bisnis jual beli motor bekas, ikut seorang temannya yang sesama orang Magelang. Ia berganti kesibukan dari sehari-hari mengawasi pesanan di depan laptop menjadi wira-wiri ke banyak tempat untuk mengurus penjualan motor. Ia mengaku kadang merasa lucu saat mengingat pekerjaan lamanya, sebab berjualan sex toys di Indonesia sebenarnya sangat menantang.

Pertama, sebagaimana keputusan R saat akan menikah, ia terkendala dengan pandangan orang Indonesia yang masih asing dengan keberadaan sex toys. Tak hanya itu, atas alasan moral, sex toys sering dianggap tak pantas keberadaannya apalagi sampai diperjualbelikan. Ia masih setabu isu seks itu sendiri yang sedikit-sedikit perlu diawasi dengan ketat, atau jika perlu, dilarang.

Kedua, sex toys di Indonesia adalah barang ilegal. Ia sering tak diloloskan oleh petugas Bea dan Cukai Indonesia atas dasar rawan disalahgunakan remaja. Ini adalah perkataan pihak Bea dan Cukai sendiri sebagaimana dikutip Antara. Atas dasar inilah R mengaku usahanya bagaikan pertaruhan. Jika barang tak sampai di tangan, maka ia harus mengembalikan uang muka kepada calon pelanggan. Ia merugi, sebab mendatangkan sex toys dari luar negeri juga tak murah.

Ketegasan petugas Bea dan Cukai terlihat, misal, pada bulan Oktober lalu saat Kantor Wilayah Bea Dan Cukai Banjarmasin memusnahkan ribuan barang-barang ilegal tanpa cukai hasil tangkapan sejak 2014-2015 . Salah satunya adalah bertumpuk-tumpuk paket sex toys beragam jenis yang diduga akan dijual kembali oleh si pemesan. Barang-barang itu dimasukkan ke dalam tong, dirsiram bensin, lalu dibakar habis tak tersisa.

Atas reaksi yang sedemikian ketat, pantas saja rata-rata penjual sex toys di Indonesia bergerilya di dunia maya. Serupa dengan penuturan R dan menurut penelusuran Tirto.id, sex toys memang tak dijual lewat situs-situs online kenamaan. Para penjualnya membuat blog atau website ala kadarnya untuk menjaring konsumen. Diyakini bahwa jalur online adalah satu-satunya jalan eksistensi jual-beli sex toys di Indonesia. Pesan, transfer uang, barang baru dikirim. Jika ingin yang tak rawan penipuan, bisa ketemu langsung alias COD-an.

Sukses Lewat E-Commerce

Kondisi ini berbeda dengan di negara-negara lain terutama di Amerika Serikat atau Eropa dimana sex toys bukanlah barang tabu. Ia serupa barang lain yang memiliki toko untuk tempat para pelanggannya memilihi sepuasnya lalu membelinya.

Meski demikian, peluang untuk berbisnis di era digital ini memang lebih menjanjikan jika dijual juga di dunia maya. Bahkan sebagian orang ada yang memang memilih untuk memasuki bisnis sex toys online dan meninggalkan pekerjaan lamanya atas motivasi untung yang lebih menggairahkan.

Brian Sloan adalah salah satunya. Dua tahun lalu kisahnya diangkat di sejumlah media, salah satunya di Bussines Insider. Ia bercerita tentang alasan berhenti jadi seorang pengacara dan mulai menggeluti bisnis jual-beli sex toys online. Sederhana saja: keuntungannya berlipat lebih banyak. Pendapatan pebisnis asal AS itu dalam hitungan per tahun saja mencapai $ 1 juta.

Sloan dan kolaboratornya di Very Intelligent E-Commerce, Inc memotong jalur distribusi pada umumnya yang memakan banyak biaya dan fokus ke penjualan online. Produk terbaru Sloan dan kawan-kawan adalah mainan seks untuk pria, diluncurkan sebagai kampanye penyumpulan dana bernama Indiegogo. Target utamanya hanya lah $45.000, tetapi ternyata terkumpul hingga $260.000.

Sloan pintar memanfaatkan celah bisnis. Ia berkata bahwa industri dewasa dipenuhi oleh orang-orang yang tahu bagaimana menggunakan internet. Produsen bisa mematok harga yang tinggi karena konsumennya selalu ada. Namun, menurut Sloan kondisi ini menjadi riskan karena tak didukung dengan strategi pemasaran lewat e-commerce. Padahal banyak barang yang dijual lewat strategi e-commerce dan keuntungan perusahaan naik. Mengapa bisnis sex toys tidak?

“Hanya satu merek mainan seks untuk pria dan beberapa perusahaan besar khusus sex toys yang memiliki strategi marketing lewat internet dan teknologi penjualan online dalam level yang kokoh dan bisa diandalkan,” ujar Sloan.

Bisnis Sloan berkembang karena ia berkeyakinan bahwa usahanya bukan sesuatu yang memalukan. Bahkan ia didukung oleh anggota keluarga lain. Ia juga menekankan bahwa cuek adalah rumus paling mujarab untuk mengembangkan bisnis, terlepas juga dari faktor fokus dan mau berkorban banyak hal demi pertumbuhan marjin keuntungan. Ia hingga rela pindah ke Cina untuk lebih dekat ke produsen pembuat produk jualannya. Soal stigma buruk, ia tepis jauh-jauh.

INFOGRAFIK Harbolnas Bisnis Mainan Seks


Terus Tumbuh

Sloan dan pebisnis mainan seks lain di dunia sebenarnya hanya sedang memanfaatkan momen pertumbuhan bisnis alat bantu seks yang kian hari kian menjanjikan. “Yang seksi selalu menjual”. Meski masih banyak kalangan masyarakat yang menganggapnya tabu, rumus ini sudah sejak lama menjadi patokan dalam industri esek-esek, tak terkecuali industri sex toy.

Secara teknis, benda apapun yang mempunyai fungsi menggantikan orang dan/atau alat kelaminnya dalam hubungan seksual adalah sex toy. Untuk menstimulasi sensasi, sex toy sudah lebih lama keluar di pasaran dalam bentuk produk yang menyerupai penis, vagina, dan lain sebagainya. Favorit konsumen baik laki-laki maupun perempuan adalah tipe yang bisa bergetar saat dinyalakan (vibrator). Bahkan kini robot seks sudah diproduksi dengan sedemikian canggihnya dalam rangka memuaskan hasrat konsumen (jomblo).

Marketwatch mengutip data dari Statistic Brain yang menyebut keuntungan dari industri sex toy di tahun 2014 mencapai angka $15 miliar. Para pengamat memperkirakan angka ini akan naik menjadi $52 miliar di tahun 2020. Pengguna sex toy memang cukup banyak, yakni sebesar 23 persen dari total orang dewasa di dunia. Di situs Amazon saja, produk mainan seks mencapai 60.000 buah. Di website-website kecil, produk yang ditawarkan terdiri dari jumlah yang lebih banyak lagi.

Sementara itu, merujuk data IBISWorld yang dirujuk Bloomberg, pendapatan toko-toko penjual sex toys dan alat-alat pendukung seks lain mencapai hampir $610 juta di tahun 2013. Atas potensi ini, mantan analis untuk Goldman Sach Shauna Mei sejak tahun 2010 lalu mendirikan AHAnoir, website baru AHAlife yang khusus memajang produk-produk dewasa, termasuk beragam jenis sex toys. Konsumen tinggal mendaftarkan emailnya untuk nanti dikabari produk-produk terbaru.

Strategi ini membuahkan hasil yang di luar dugaan. Baru kampanye penggalangan dana untuk situsweb tersebut, dana yang terkumpul sudah mencapai $ 21 juta. Jumlah calon konsumen yang mendaftar di situsweb dan menyertakan alamat emailnya demi barang terbaru juga mencapai 1 juta orang. Terhitung 2016, jumlahnya kian bertambah dan situsweb tersebut makin populer.

Mei mengatakan bahwa toko online barunya siap memenuhi hasrat para “dominatrix” di atas ranjang maupun pasangan yang menginginkan ada kebaruan dalam kehidupan personal mereka. Ragam barang yang ditawarkan meliputi lingerie, vibrator, dan barang-barang berbahan kulit. Mei mengatakan bahwa ia juga berupaya untuk “mengenalkan tabu baru” ke pelanggannya. Alih-alih tak nyaman, Mei ingin pelanggan terbuka untuk urusan seksual—yang baginya adalah salah satu aspek penting dalam hidup.

“Kami ingin fokus dalam memberi pencerahan tentang dunia seksual. Terlalu banyak orang yang malu-malu dan menjauh dari proses mempelajari salah satu bagian hidup paling kritis dan penting dalam kehidupan mereka,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait HARBOLNAS atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight