tirto.id -
"PDB (Produk Domestik Bruto) diperkirakan tumbuh 4,94 persen (rentang estimasi 4,93-4,95 persen) pada Triwulan-I 2025 dan 4,95 persen (rentang estimasi 4,9-5,0 persen) pada tahun 2025," kata ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, dalam keterangannya, dikutip Senin (5/5/2025).
Tidak seperti sebelumnya, menurut Riefky, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah tidak bisa lagi bertumpu pada faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, serta libur Natal dan Tahun Baru. Hal ini terlihat dari terbatasnya dampak faktor musiman, yang hanya mampu mendorong ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5 persen akhir 2024.
"Pada periode libur akhir tahun lalu, masyarakat cenderung memilih untuk berlibur dan melakukan aktivitas wisata kedestinasi yang lebih dekat secara jarak, menyiratkan pelemahan daya beli seiring dengan mengecilnya pengeluaran untuk kebutuhan tersier," jelas Riefky.
Apabila tidak dimitigasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang terus melemah seiring dengan semakin kecilnya dorongan dari faktor musiman dan masih belum mampunya melakukan revitalisasi mesin pertumbuhan ekonomi struktural. Suramnya kondisi ekonomi domestik saat ini diperparah oleh tekanan perang dagang yang dipicu oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Pengenaan tarif impor terhadap 90 negara dan kawasan serta adanya risiko tindakan balasan dari berbagai negara, menciptakan efek kejut yang masif terhadap perekonomian global, meningkatkan ketidakpastian dan kepanikan di sektor riil serta pasar keuangan seluruh dunia. Kendati, saat ini rencana pengenaan tarif impor oleh AS sedang ditangguhkan, potensi perang dagang berskala global masih mungkin terjadi.
"Memicu berbagai risiko negatif terhadap Indonesia, seperti arus investasi, perdagangan internasional, inflasi impor, depresiasi mata uang, tekanan di postur fiskal, serta perlambatan ekonomi secara menyeluruh," imbuh Riefky.
Sementara itu, pengenaan tarif perdagangan 32 persen kepada Indonesia, memicu perubahan langkah diplomasi-perdagangan, yang alih-alih mengambil tindakan balasan, pemerintah lebih memilih untuk melakukan negosiasi dengan Gedung Putih. Selain itu, untuk meminimalkan dampak dari perang dagang, pemerintah juga tengah mencari diversifikasi pasar untuk produk-produk dalam negeri.
Di sisi lain, PMI manufaktur Indonesia kembali mengalami kontraksi, dengan di April berada di level 46,7 dari di Maret lalu yang masih tumbuh positif di level 52,4. Penurunan tersebut mencerminkan kelebihan pasokan pasca-Ramadhan, permintaan ekspor yang lemah, dan meningkatnya kehati-hatian pengusaha di tengah ketidakpastian global.
"Berdasarkan prakiraan kami, PDB Kuartal I Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 4,93 persen tahun-ke-tahun karena konsumsi rumah tangga yang lemah. Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak akan stimulus struktural dan upaya baru untuk meningkatkan kepercayaan domestik," papar Kepala Ekonom Senior Samuel Sekuritas Indonesia Research, Fithra Faisal Hastiadi, dalam keterangannya, dikutip Senin (5/5/2025).
Sebagai informasi saja, Badan Pusat Statistika (BPS) siang ini akan melaporkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Produk Domestik Bruto) Triwulan I 2025. Pengumuman tersebut akan disampaikan pukul 11.00 WIB, di Kantor BPS, Jakarta Pusat.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id




































