Menuju konten utama

Dirut Freeport soal Tambahan Saham 12%: Kami Masih Diskusikan

Selain divestasi saham, Freeport juga membahas terkait perpanjangan aktivitas penambangan emas oleh PTFI di Papua, setelah kontrak habis pada 2041.

Dirut Freeport soal Tambahan Saham 12%: Kami Masih Diskusikan
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas berjalan usai penuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (30/7/2025). Dalam keterangannya Tony Wenas menyampikan bahwa pertemuan dengan Presiden batal terlaksana. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tbk, Tony Wenas, belum bisa memastikan kapan kesepakatan pelepasan atau divestasi saham sebesar 12 persen kepada pemerintah Indonesia akan diteken. Kendati, sebelumnya CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan P Roeslani, mengklaim bahwa negosiasi akan rampung segera, karena saat ini diskusi sudah masuk tahap final.

“Kalau kami memang masih didiskusikan terus. Kalau dikatakan sudah final, kan kalau sudah disepakati, teken, baru mungkin bisa dikatakan final. Tapi mungkin seperti itulah yang bisa saya sampaikan,” ujar dia, kepada awak media, saat ditemui di sela acara Investor Daily Summit 2025, di JICC, Jakarta Pusat, Rabu (8/10/2025).

Dus, Tony pun belum bisa memastikan penambahan saham 12 persen kepada holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pertambangan, Mining Industry Indonesia atau MIND ID. Pun, dengan skema pelepasan saham secara cuma-cuma atau free of charge.

Meski begitu, dalam diskusi yang tengah berlangsung antara PTFI dan pemerintah Indonesia, Perseroan salah satunya juga membahas terkait perpanjangan aktivitas penambangan emas oleh PTFI di Papua, setelah kontrak habis pada 2041.

“Ya, itu (perpanjangan kontrak) bagian yang masih, sedang dibicarakan dengan pemerintah,” tambah Tony.

Perlu diketahui, perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sampai 2041 diberikan Presiden Joko Widodo pada 2018 silam. Sebagai gantinya, pemerintah mensyaratkan PTFI melepas 41,87 persen saham Freeport McMoRan –induk usaha PTFI senilai 3,85 miliar dolar Amerika Serikat (AS) kepada pemerintah Indonesia melalui MIND ID.

Sementara itu, jika pelepasan saham 12 persen disepakati, praktis pemerintah Indonesia akan menggenggam 63 persen saham PTFI, dari yang saat ini masih sebanyak 51 persen.

Di sisi lain, CEO Danantara, Rosan P. Roeslani sebelumnya menegaskan, pelepasan 12 persen saham PTFI kepada MIND ID didapatkan dari negosiasi yang telah dilangsungkan selama lebih dari 6 bulan lalu. Bukan karena keadaan kahar yang tengah dialami Perseroan, seiring dengan kasus longsornya tambang Grasberg di Papua Tengah.

Selain berdampak pada harga saham perseroan yang anjlok hingga 10,4 persen, penghentian sementara aktivitas pertambangan PTFI akibat longsoran material basah juga berpotensi membuat produksi tahun 2026 turun sekitar 35 persen dari perkirakan sebelumnya.

“Nggak, nggak (ada pertimbangan dengan keadaan kahar). Ini kan negosiasi bukan baru 1-2 bulan. Ini sudah berjalan beberapa bulan, sudah lebih dari 6 bulan,” tuturnya, kepada awal media, di sela-sela acara Investor Daily Summit 2025, di JICC, Jakarta Pusat, Rabu (8/10/2025).

Tidak hanya itu, dia juga memastikan bahwa pembahasan terkait divestasi saham ini juga sudah hampir rampung dan kesepakatan akan bisa ditandatangani segera. Namun demikian, dengan adanya kesepakatan ini, pemerintah akan memastikan lagi aspek keselamatan hingga operasional pertambangan Freeport.

“Insyaallah segera. Ini kan sedang proses, tapi semua kesepakatannya kita sudah secure (amankan), yang kita negosiasikan sebenarnya sudah semuanya selesai, ya. Sekarang tinggal melihat draft dari detailnya saja,” imbuh Rosan.

Baca juga artikel terkait DIVESTASI SAHAM atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra