tirto.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, meminta kepada masyarakat agar percaya dengan data-data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS). Sebab, Lembaga pemerintah non-kementerian yang bertanggung jawab untuk menyediakan data-data statistik ini telah menjalankan tugasnya selama puluhan tahun, sejak 1960.
“Saya rasa, kita mesti percaya. Kalau misalnya angka dari BPS kita tidak percaya, kepada siapa lagi gitu? Mereka kan (lembaga) statistik yang sudah bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun bekerja,” kata dia kepada awak media, usai Pembekalan Retret Kadin 2025, di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Kamis (7/8/2025) malam.
Alih-alih mempermasalahkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025 yang dinilai segelintir pihak telah diotak-atik, kata Anin, pihaknya hanya akan fokus untuk mengangkat ekonomi kuartal III 2025 agar tumbuh lebih tinggi. Apalagi, angka pertumbuhan ekonomi kuartal II memang sudah dipublikasikan oleh BPS awal pekan ini.
“Paling bagus kita fokus kepada mengangkat ekonomi lebih banyak lagi, daripada utak-atik angkanya. Karena angka itu memang angka yang sudah di-publish, sudah ditampilkan,” lanjut Anindya.
Merespon anggapan permainan data dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II 2025, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan perhitungan yang dilakukan BPS telah mengacu pada standar internasional. Selain itu, data-data pendukung yang digunakan pun sudah sesuai.
“Data-data pendukungnya sudah oke, sudah semua. (Data) pendukungnya sudah mantap lah,” tegas dia, di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (6/8/2025).
Sementara itu, sebelumnya Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengaku tak percaya dengan data yang disampaikan BPS, di mana pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 mencapai 5,12 persen. Bahkan, menurutnya data-data terkait pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal II 2025 yang disajikan pagi tadi janggal dan dapat menimbulkan tanda tanya ke publik.
“Pertumbuhan ekonomi triwulan 2 2025 penuh kejanggalan dan tanda tanya publik. Saya TIDAK PERCAYA dengan data yang disampaikan mewakili kondisi ekonomi yang sebenarnya,” kata dia, dalam keterangannya kepada awak media.
Bagaimana tidak, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya di mana terdapat momentum Ramadhan dan Lebaran di kuartal II, pertumbuhan kuartal II 2025 seharusnya lebih terbatas karena tak ada dorongan dari hari besar keagamaan tersebut.
“Pertumbuhan triwulanan paling tinggi merupakan triwulan dengan ada momen ramadhan-lebaran. Triwulan 1 2025 saja hanya tumbuh 4.87 persen, jadi cukup janggal ketika pertumbuhan triwulan 2 mencapai 5,12 persen,” tambah Huda.
Selain itu, pertumbuhan industri pengolahan yang mencapai 5,68 persen –jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2025 juga tidak sejalan dengan PMI manufaktur Indonesia yang di bawah 50 poin dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini bahkan dapat diartikan kalau perusahaan tidak melakukan ekspansi (tambahan produksi) secara signifikan.
“Selain itu, kondisi industri manufaktur juga tengah memburuk, dengan salah satu leading indikatornya adalah jumlah PHK yang meningkat 32 persen (YoY) selama periode Januari-Juni,” papar dia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































