Menuju konten utama

Danantara Raih Pendanaan Swasta Terbesar di Asia Tenggara

Danantara dikabarkan akan menarik 3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari total pinjaman 10 miliar dolar AS untuk investasi.

Danantara Raih Pendanaan Swasta Terbesar di Asia Tenggara
Pekerja membersihkan kaca gedung Wisma Danantara Indonesia di Jakarta, Selasa (8/7/2025). Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjalin kerja sama investasi dengan perusahaan asal Arab Saudi, ACWA Power senilai 10 miliar dolar AS atau setara Rp162 triliun yang berfokus pada proyek pembangkit energi terbarukan, turbin gas siklus gabungan, hidrogen hijau, dan desalinasi air. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dikabarkan menarik 3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari total pinjaman 10 miliar dolar AS untuk investasi. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai berbagai proyek investasi, di antaranya pembangunan pabrik peteokimia serta investasi bersama Dana Kekayaan Negara Qatar dan Cina.

Menurut Reuters, fasilitas pinjaman kepada Danantara tersebut merupakan pinjaman terbesar yang disalurkan di Asia Tenggara oleh lima bank swasta. Fasilitas pinjaman itu juga merupakan pendanaan sektor swasta pertama bagi Danantara, yang didirikan pada bulan Februari dan diberi kendali atas aset senilai lebih dari 900 miliar dolar AS.

DBS, HSBC, Natixis SA, Standard Chartered, dan United Overseas Ban adalah kelima bank swasta yang pada minggu lalu ditunjuk sebagai pengatur utama (lead arranger) fasilitas pinjaman 10 miliar dolar AS tersebut. Sebagai lead arranger, kelima bank itu nantinya akan menggandeng bank-bank lain untuk menyalurkan dana dari total fasilitas pinjaman yang diberikan.

Kata sumber, kelima bank itu juga termasuk di antara 11 bank asing yang mengajukan proposal sebagai debitur Danantara. Sayangnya, DBS, Natixis dan HSBC menolak berkomentar terkait pemberian fasilitas pinjaman ini, sedangkan dua bank lainnya tidak segera merespon permintaan tanggapan.

Sementara itu, fasilitas pinjaman senilai 10 miliar dolar AS tersebut akan tersedia selama tiga tahun ke depan. Dengan adanya fasilitas pinjaman ini, Danantara belum memiliki niat untuk menerbitkan surat utang atau obligasinya sendiri untuk saat ini.

Apalagi, fasilitas pinjaman itu memiliki suku bunga yang setara dengan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia, dan masing-masing bank berkomitmen untuk memberi pinjaman 1 miliar dolar AS tanpa jaminan maupun garansi dari pemerintah.

"Danantara adalah sebuah obligasi pemerintah," kata sumber itu.

Sebagai perbandingan, pada Januari lalu pemerintah Indonesia merilis obligasi berdenominasi dolar AS senilai 900 juta dolar AS dengan tenor lima tahun dan imbal hasil 5,30 persen.

Di sisi lain, Danantara telah mempertimbangkan proposal pemberian fasilitas pinjaman dari beberapa bank asing lain, namun ditolak karena Sovereign Wealth Fund Indonesia tersebut tidak dapat menyetujui persyaratan yang diajukan. Sebab, calon-calon debitur itu meminta garansi pemerintah.

Sementara itu, salah satu proyek yang akan menggunakan dana awal dari fasilitas pinjaman tersebut adalah pembangunan pabrik klor-alkali dan etilen diklorida senilai sekitar 800 juta dolar AS milik perusahaan petrokimia Chandra Asri Pacific, seiring dengan telah ditandatamganinya kesepakatan antara Danantara dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal sebagai Otoritas Investasi Indonesia.

Kemudian, awal tahun ini Danantara juga telah menandatangani perjanjian dengan Otoritas Investasi Qatar dan Perusahaan Investasi Cina mengenai potensi investasi bersama, kendati belum jelas proyek mana dalam kemitraan ini yang akan dibiayai dengan fasilitas pinjaman ini.

Baca juga artikel terkait HOLDING BUMN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra