Menuju konten utama
Pendidikan Agama Islam

Daftar Dalil Al-Qur'an dan Hadits Bahwa Allah Tak Bertempat

Daftar dalil di Al-Qur'an dan Hadits yang menyebutkan bahwa Allah tak bertempat, salah satunya ada di surah Al-Ikhlas.

Daftar Dalil Al-Qur'an dan Hadits Bahwa Allah Tak Bertempat
Ilustrasi Allah. foto/istockphoto

tirto.id - Daftar dalil Al-Qur’an dan hadis bahwa Allah SWT tak bertempat di antaranya Surah Asy-Syura ayat 11, Surah Al-Ikhlas ayat 2, hadis riwayat Imam Bukhari, hingga pendapat Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi'i.

Ilmu tentang ketuhanan atau kerap disebut aqidah terus mengalami perkembangan. Seiring berjalannya zaman, muncul banyak pertanyaan di kalangan umat Islam seputar akidah. Salah satunya seperti apakah Allah SWT bertempat?

Ada sebagian muslim yang meyakini bahwa Allah SWT bertempat di atas Arsy. Namun, pernyataan tersebut tidak dapat dimaknai secara gamblang karena dapat menimbulkan kerancuan.

Ketauhidan yang diyakini mayoritas umat Islam selama ini adalah Zat Allah SWT tidak memerlukan ruang tertentu atau bergantung pada sesuatu lain.

Oleh sebab itu, mustahil bagi Allah SWT menempati ruang tertentu di alam semesta ini.

Daftar Dalil Al-Qur'an & Hadits Bahwa Allah Tak Bertempat

Dalam memahami perkara ketuhanan, diperlukan landasan berpikir yang berasal dari dalil naqli maupun dalil aqli.

Pertama, dalil naqli merupakan dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Kedua, dalil aqli adalah dalil dalam bentuk rasionalisasi dari dalil-dalil naqli.

Dalil naqli dan dalil aqli bagaikan dua sisi mata uang koin yang saling melengkapi satu sama lain.

Berikut ini uraian dalil-dalil dan argumen bahwa Allah SWT tidak bertempat:

1) Surah Asy-Syura Ayat 11

لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ

Artinya:

Tiada satu pun yg sama dengan Allah. Dan, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” (QS. Asy-Syura [42]: 11).

Ayat tersebut mengandung makna bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dapat menyerupai Allah SWT dalam segala hal.

Seluruh makhluk di dunia memerlukan ruang dan tempat. Allah SWT bukan makhluk, sehingga mustahil bagi tuhan bertempat.

2) Surah Al-Ikhlas Ayat 2 dan Surah Ali-Imran Ayat 97

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢

Artinya: "Allah yang Maha Dibutuhkan,” (QS. Al-Ikhlas [122]: 2).

فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧ …

Artinya:

…Sesungguhnya Allah Maha-tak butuh pada apa pun selain DiriNya,”(QS. Ali-Imran [3]: 97).

Surah Al-Ikhlas ayat 2 dan Surah Ali-Imran ayat 97 di atas menjelaskan bahwa segala sesuatu selain Allah (makhluk) membutuhkan Zat yang menciptakan, mengatur dan menentukan keberadaannya.

Dalam hal ini, Allah SWT yang memiliki kuasa menciptakan, mengatur dan menentukan keberadaan seluruh makhluk di dunia.

Allah SWT sendiri tidak membutuhkan apapun dari makhluk yang diciptakan-Nya.

Oleh sebab itu, apabila dipahami Allah SWT bertempat pada suatu ruang, keberadaan tuhan tersebut berarti membutuhkan hal lain. Hal tersebut tentu rancu, karena Allah mustahil memiliki kebutuhan kepada apapun.

3) Hadits Riwayat Imam Bukhari

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

Artinya:

Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia,” (HR. Bukhari)

Al-Hafiz Abu Bakr Ahmad Ibn al-Husayn al-Baihaqi, seorang ulama mazhab Syafi’i asal Iran dalam kitab al-Asma’ Wa al-Sifat menjelaskan maksud hadits riwayat Imam Bukhari bahwa Allah SWT sudah wujud sebelum selain-Nya belum ada.

Allah SWT telah wujud dari zaman azali dengan tiada suatu apapun yang bersama kekekalanNya. Tiada suatu apapun seperti air, udara, bumi, langit, Arsy, Kursi, manusia, jin, malaikat, tempat dan lain-lain yang menyerupai-Nya.

Oleh sebab itu, Allah SWT wujud sebelum, yang menciptakan, dan tidak membutuhkan tempat serta tidak memerlukan ciptaan-Nya.

4) Pendapat Imam Muhammad ibn Idris as-Syafi’i (Imam Syafi'i)

أنّ اللهَ تَعَالَى كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأزَلِيّةِ كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ لاَ يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّغَيُّرُ فِي ذَاتِهِ وَلاَ التَّبَدُّلُ فِي صِفَاتِهِ

Artinya:

Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya.

Maksud dari pernyataan Imam Syafi’i dalam kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin Jilid 2 tersebut adalah Allah SWT ada tanpa permulaan, disebut azali atau qadim, dan belum ada sesuatu apapun selain-Nya.

Kemudian Allah SWT menciptakan tempat, artinya bukan tempat-Nya, tetapi menciptakan makhluk-Nya.

Allah SWT bersifat tetap bersama sifat-sifat azaliNya, sebagaimana Allah ada sebelum adanya makhluk, dengan segala sifat kesempurnaan-Nya.

Begitu pula setelah diciptakannya makhluk, tidak berpengaruh terhadap kesempurnaan Allah SWT Mustahil ada perubahan pada Zat dan sifat-sifat Allah SWT.

Baca juga artikel terkait DALIL AL-QURAN atau tulisan lainnya dari Syamsul Dwi Maarif

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Dhita Koesno