tirto.id - Dalil aqli adalah salah satu jenis dalil yang memiliki kedudukannya tersendiri di dalam agama Islam. Simak pengertian dan contoh dalil aqli di dalam artikel ini.
Pengertian dalil sendiri adalah suatu hal yang dicari pada apa yang dicari. Baik itu berupa alasan, keterangan, dan pendapat yang merujuk pada pengertian, hukum, atau hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang dicari.
Dilansir dari NU Online, definisi dalil menurut para ahli ushul fiqh adalah sesuatu yang dengannya memungkinkan untuk sampai kepada pengetahuan yang bersifat berita (bukan pengetahuan indrawi). Dalil tersebut terbagi menjadi dua, yaitu murni aqli (rasional), murni sam'i (tekstual), dan gabungan keduanya.
Pengertian Dalil Aqli
Dalil aqli adalah dalil yang mencakup penalaran melalui akal atau bisa dinalar. Jenis dalil ini meliputi pula petunjuk, pertimbangan akal pikiran yang sehat, obyektif, tidak mendapatkan pengaruh dari keinginan, ambisi, atau kebencian akibat emosi.
Dikutip dari laman Kemenag, dalil aqli adalah proses menerima menggunakan akal secara murni dan bebas. Kebenaran dalil ini mengandung kategori nisbi (relatif) karena merupakan produk manusia.
Seperti dilansir dari NU Online, maksud dalil aqli meliputi sejumlah dalil rasional. Dalil aqli akan mendapatkan jawaban atas suatu hal berdasarkan pemikiran logis manusia.
Sebut saja ada seorang anak yang sedang memainkan ayunan di taman. Setiap individu berakal yang melihatnya tentu dapat menyimpulkan bahwa anak itu pasti mempunyai ibu.
Kendati tidak pernah melihat ibunya, orang yang menyaksikan anak tersebut bermain tetap bisa memperoleh jawaban sesuai kesimpulan rasionalnya sendiri. Tepatnya seorang anak pasti lahir dari rahim seorang ibu.
Demikian juga ketika melihat semesta yang begitu teratur. Umat Islam dapat menyaksikan berbagai keindahan karya ciptaan Allah SWT meskipun tidak bisa melihat-Nya.
Kedudukan Dalil Aqli dalam Agama Islam
Ajaran agama Islam bukan hanya mengakui kedudukan dalil aqli sebagai hujjah. Akan tetapi, umat muslim juga kerap mencari kebenaran-kebenaran dalil naqli sesuai pemikiran dalil aqli.
Hampir semua ilmu dalam khazanah Islam lahir dari rahim dalil aqli. Sebab, proses untuk memahami dalil naqli sendiri sering kali membutuhkan argumen yang sifatnya rasional dan logis.
Mengutip NU Online, ilmu tafsir membutuhkan dalil aqli untuk menentukan apa kesesuaian (munâsabah) suatu ayat, surat dengan ayat, atau surat lainnya untuk menyelesaikan kesan pertentangan antar-ayat (tanâqudl).
Dengan begitu, dalil aqli akan menentukan tentang tafsiran apa yang dianggap paling relevan. Kemudian mempraktikkan metodologi tafsir yang hendak dipakai dan seterusnya.
Allah SWT dan Rasulullah SAW sudah memberikan petunjuk literal tentang metodologi tafsir dan apa tafsiran tiap ayat yang sebenarnya dikehendaki Allah. Semua itu adalah hasil ijtihad para ulama dengan dalil rasional.
Begitu halnya dalam kaitan ilmu hadis yang membutuhkan dalil aqli untuk menentukan teori sahih tidaknya suatu sanad, kriteria keterpercayaan para perawi, dan kriteria persambungan riwayat antar perawi.
Kemudian menentukan kriteria kritik matan, tata cara menyelesaikan tanâqudl (pertentangan makna antarhadis), tata cara penentuan tarjih riwayat/matan, dan seterusnya dalam ilmu hadis.
Contoh Dalil Aqli
Dinukil dari laman Kemenag, bentuk dalil aqli berupa ijtihad mencakup sejumlah ijma dan qiyas. Ijma merupakan kesepakatan pemikir muslim atas suatu hal untuk menentukan hukum syariat.
Sementara qiyas menyesuaikan dengan peristiwa yang telah memiliki sumber hukum. Khususnya untuk menyelesaikan peristiwa yang benar-benar belum mempunyai ketentuan hukum.
Adapun contoh dalil aqli berasal dari pemikiran logis seorang manusia bisa mencakup pandangan relatif tertentu. Misalnya dalil aqli Islam agama yang benar sebagai berikut:
Secara umum, Al-Qur'an menjadi sumber hukum dalil naqli dalam ajaran dan kepercayaan Islam. Akan tetapi, ada seseorang yang meragukan tentang kebenaran agama dan kitab tersebut.
Oleh sebab itu, kebenaran agama Islam harus melewati proses pengkajian dalil aqli atau penalaran logis terlebih dahulu. Tepatnya melihat apakah Al-Qur'an tersebut memang mengandung kebenaran.
Sumber hukum agama Islam ini ternyata memiliki kesamaan 100 persen di seluruh dunia. Keaslian yang istimewa ini menjadi salah satu patokan pemikiran bahwa kepercayaan Islam murni benar dan serupa, berbeda dengan sejumlah kitab lain yang telah mengalami perubahan isi.
Sifat Dalil Aqli
Penggunaan akal untuk menentukan suatu perkara atau menggunakan dalil aqli dapat menunjukkan sifat-sifat tertentu. Mengutip NU Online, sesuai pendapat Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi at-Talmisani, tiga sifat dalil aqli mencakup wajib, mustahil, dan jaiz.
Dalil aqli wajib meliputi hal-hal yang tidak bisa diterima secara logis ketiadaannya. Misalnya seorang anak lahir dari rahim ibu, kemudian pemikiran setuju bahwa ibu semestinya ada.
Adapun dalil aqli mustahil mencakup penalaran terhadap suatu hal yang tak bisa diterima keadaannya. Seperti contoh di atas, ibu dari seorang anak mustahil tidak ada.
Selain itu, dalil aqli dengan sifat jaiz memperlihatkan keadaan dan ketiadaan dalam tingkatan yang sama. Sebut saja Allah SWT yang bisa memilih apakah diri-Nya ingin menciptakan suatu hal maupun tidak.
Ingin melihat berbagai materi pendidikan agama Islam maupun mata pelajaran lainnya? Simak terus sejumlah artikel terbaru tentang materi ajar melalui tautan berikut.
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id





































