Menuju konten utama

CIO Danantara Pastikan DSI Tetap akan Cari Profit sebagai Trader

Meski pada tahap awal DSI beroperasi sebagai trader, model bisnis perusahaan tetap terbuka untuk dikembangkan sesuai kemampuan sumber daya manusianya.

CIO Danantara Pastikan DSI Tetap akan Cari Profit sebagai Trader
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir (tengah), Pj Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (kanan), dan Pj Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik (kiri) menyampaikan keterangan terkait hasil pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, memastikan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) tetap akan berorientasi mencari keuntungan (for profit) meski dibentuk untuk memperbaiki tata kelola perdagangan komoditas nasional.

Menurut Pandu, pemerintah sempat mempertimbangkan apakah DSI akan dibentuk sekadar sebagai badan pemerintah atau sekaligus menjadi operator bisnis. Namun, Presiden Prabowo Subianto akhirnya memutuskan DSI berada di bawah Danantara agar memiliki orientasi bisnis dan profitabilitas layaknya sovereign wealth fund.

“Pilihan Pak Presiden adalah untuk ini dimasukkan ke Danantara. Jadi mindset-nya for profit. Balik kepada Danantara sebagai sovereign wealth fund, memang ini buat generasi berikutnya, jadi for profit mentality itu tetap harus ada,” ujarnya dalam Investor Daily Roundtable di Hotel Mulia, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).

Pandu menjelaskan pembentukan DSI dilatarbelakangi masih adanya praktik under invoicing dan potensi transfer pricing dalam perdagangan komoditas Indonesia, terutama di sektor batu bara. Menurut dia, persoalan tersebut sudah lama menjadi perhatian pelaku industri.

Ia mengaku saat masih aktif di asosiasi batu bara, praktik perdagangan yang tidak melalui tata kelola baik sempat mencapai sekitar 40 persen. Meski kondisinya kini dinilai jauh membaik, praktik serupa disebut masih ditemukan di sejumlah sektor lain.

“Sekarang jauh lebih baik, tapi tetap ada juga isu under invoicing ini. Bukan hanya di batu bara, tapi juga di sektor-sektor lain,” tuturnya.

Secara struktural, Pandu mengatakan DSI saat ini dimiliki 99 persen oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan 1 persen oleh BP BUMN. Dalam enam bulan ke depan, perusahaan itu akan fokus membangun tim dan operasional awal di tiga sektor prioritas, yakni batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy.

Menurut dia, periode Juni hingga Desember 2026 akan menjadi masa transisi untuk membangun kapasitas bisnis dan sumber daya manusia sesuai karakter masing-masing sektor.

Pandu juga menegaskan bahwa pada tahap awal DSI akan beroperasi sebagai trader atau agen perdagangan komoditas dengan orientasi profit. Meski demikian, model bisnis perusahaan tetap terbuka untuk dikembangkan sesuai kemampuan sumber daya manusia dan perkembangan operasional ke depan.

Pembangunan organisasi DSI pun, kata dia, akan dilakukan secara bertahap, mengikuti pola pengembangan Danantara sejak awal berdiri. “You cannot build all three at one go. Semuanya step by step,” ujar Pandu.

Selain itu, Pandu juga turut membantah anggapan bahwa peluncuran DSI menjadi penyebab melemahnya IHSG. Menurut dia, kondisi pasar modal saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

"Ya balik lagi, kalau misalnya pasar modal, itu kan menyangkut juga currency. Currency itu sangat penting," tuturnya.

Meski demikian, ia memastikan Danantara bersama pemerintah akan terus membangun kepercayaan pasar untuk memperkuat IHSG maupun nilai tukar rupiah. "Sekarang kita juga harus juga membangun confidence yang ada. Nah, itu, dari sisi komunikasi menjadi penting, dari sisi policy juga lebih penting. Nah, ini saya serahkan balik kepada regulator dan government," tuturnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana