Menuju konten utama

Cerita Pilu usai Kasus Berebut Beras Bulog di Sibolga-Tapteng

Salah satu korban tewas saat berebut beras di Gudang Bulog adalah seorang ibu. Anak dari ibu malang itu juga terluka dalam insiden tersebut.

Cerita Pilu usai Kasus Berebut Beras Bulog di Sibolga-Tapteng
Kondisi Kota Sibolga dan sekitarnya pada Senin (1/12/2025). Dua daerah ini diterjang banjir dan longsor bersamaan dengan sejumlah daerah lainnya di Provinsi Sumatera Utara beberapa hari lalu. (FOTO/Humas Polres Sibolga)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, mengonfirmasi ada warga yang meninggal dunia ketika berebut beras di gudang Bulog Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada Sabtu (29/11/2025). Salah satu korban diketahui merupakan seorang perempuan yang diduga tak kunjung dapat bantuan sejak bencana banjir dan longsor melanda wilayahnya.

Masinton belum membeberkan secara gamblang identitas korban. Namun dipastikan, korban adalah seorang ibu. Peristiwa berebut beras itu pun turut melukai buah hati si ibu malang tersebut. Kini, sang anak dikabarkan masih menjalani perawatan medis.

“Yang meninggal dunia satu ibu, anaknya satu dalam perawatan,” ujar Masinton Pasaribu kepada kontributor Tirto, Selasa (2/12/2025).

Penjarahan gudang Bulog terjadi Kabupaten Tapanuli Tengah terjadi pada Sabtu (29/11/2025). Masyarakat berebut makanan setelah tak kunjung memperoleh bantuan setelah bencana melanda.

Selain gudang Bulog, warga juga beramai-ramai mendatangi gerai minimarket untuk mengambil berbagai bahan kebutuhan pokok. Sebanyak 16 orang saat ini diamankan Polres Sibolga.

Meski demikian, Kasi Humas Polres Sibolga, AKP Suyatno, menyatakan bahwa para terduga pelaku berpeluang menjalani restorative justice (RJ) atau penyelesaian tindak pidana melalui dialog dan mediasi.

Seperti diketahui, ke-16 orang tersebut mengambil berbagai barang kebutuhan pokok dari sejumlah gerai minimarket tanpa membayar setelah bantuan untuk korban banjir dan longsor di Kota Sibolga dan sekitar tak kunjung tiba lebih dari 3 hari pascabencana.

“Mohon maaf, rencananya mau di-RJ-kan, sudah ada petunjuk dari pimpinan atas, akan dilaksanakan,” ujar Suyatno melalui sambungan telepon, Selasa (2/12/2025).

Ke-16 warga tersebut adalah MHH (20), SS (24), AZ (27), ZR (24), OFH (18), ART (19), DH (20), ISS (18), A (18), MS (18), BA (18), ER (21), DAM (18), ABS (18), D (18) dan BNH (17).

Mereka diduga mengambil sejumlah barang kebutuhan, seperti minuman dan makanan kemasan, gula, dan sabun. Berdasarkan informasi yang diperoleh, terdapat tujuh gerai minimarket waralaba yang dijarah warga pada Sabtu (29/11/2025) lalu.

Saat ini, ujar Suyatno, petugas sedang menyiapkan administrasi penyidikan (mindik) untuk proses RJ. Sedangkan ke-16 orang tersebut masih diamankan oleh petugas.

“Masih menyiapkan mindik-nya untuk di-RJ, semua pelaku masih diamankan,” ujarnya.

Demi menghindari penjarahan lebih lanjut, saat ini petugas gabungan yang terdiri dari polisi dan TNI melakukan pengawalan ketat terhadap sejumlah minimarket atau swalayan di Kota Sibolga.

Berdasarkan data teranyar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa (2/12/2025), jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Utara telah mencapai 283 jiwa.

Para korban tersebar di Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Pakpak Bharat, Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Nias. Sementara itu, jumlah korban hilang tercatat sebanyak 173 jiwa.

Pengungsi tersebar di beberapa titik, antara lain 15.765 jiwa di Kabupaten Tapanuli Utara, 2.111 jiwa di Kabupaten Tapanuli Tengah, 1.505 jiwa di Kabupaten Tapanuli Selatan, 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Kabupaten Humbang Hasundutan, dan 7.194 jiwa di Kabupaten Mandailing Natal.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Nanda Fahriza Batubara

tirto.id - Flash News
Kontributor: Nanda Fahriza Batubara
Penulis: Nanda Fahriza Batubara
Editor: Siti Fatimah