Menuju konten utama

Cerita Safrizal saat Banjir Bandang di Padang: Semua Ludes

Safrizal hanya bisa menyelamatkan sepasang baju dan celana yang ia gunakan saat hendak pergi mengungsi.

Cerita Safrizal saat Banjir Bandang di Padang: Semua Ludes
Kondisi lokasi rumah Safrizal paska banjir bandang di kawasan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (2/12/2025). Rumah Safrizal sebelumnya berada tidak jauh dari rumah yang saat ini masih berdiri tersebut. (tirto.id/Fajar Alfaridho Herman)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Raut kesedihan tampak dari wajah seorang pria paruh baya bernama Safrizal (56) ketika menceritakan kejadian banjir bandang yang dialaminya beberapa waktu yang lalu di kawasan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat.

Hujan lebat selama beberapa hari di Kota Padang menyebabkan DAS Kuranji yang berada tidak jauh dari rumah Safrizal itu pun meluap dan meluluhlantahkan puluhan bangunan, termasuk rumah Safrizal.

Ia bercerita, bermula pada Selasa (23/11/2025) debit air di DAS Kuranji mengalami peningkatan secara tiba-tiba. Akibatnya, sekitar dua rumah yang sebelumnya berada sekitar 10 meter dari pinggir sungai rubuh dan terbawa arus, yang dimana salah satu rumah tersebut merupakan rumah peninggalan orang tuanya.

“Sejak saat itu, perasaan saya sudah mulai tidak enak, saya susah tidur, karena rumah yang hanyut ini tidak jauh dari rumah saya,” kata dia saat diwawancara kontributor Tirto, Selasa (2/12/2025).

Beberapa hari berlalu, hujan pun tak kunjung reda, aliran sungai juga semakin membesar, kekhawatiran Safrizal semakin bergejolak.

Puncaknya pada Kamis (25/11/2025), kekhawatiran Safrizal pun ternyata benar. Ketika bangun sekira pukul 06.00 WIB, ia pun langsung ke teras rumahnya untuk melihat kondisi aliran sungai.

“Saat itu air yang besar dan kencang itu sudah berada beberapa meter saja di depan rumah saya. Karena firasat saya tidak enak, maka saya membangunkan lima anggota keluarga saya yang lainnya, saya bangunkan anak-anak saya untuk segera keluar rumah pergi mengungsi,” kata dia.

Ia menambahkan, “Anak-anak saya saat itu mau berusaha untuk mengeluarkan sejumlah barang-barang, tapi saya larang, saya paksa agar segera keluar. Setelah semuanya keluar, baru saya keluar rumah. Kalau tidak keluar dulu semuanya, hati saya tidak tenang.”

korban banjir bandang di Padang

Salah seorang korban banjir bandang di Kota Padang, Safrizal (56) saat diwawancarai, Selasa (2/12/2025). Safrizal harus kehilangan seluruh harta bendanya yang tersapu banjir bandang dan hanya menyisakan pakaian di badan. (tirto.id/Fajar Alfaridho Herman)

Hanya selang beberapa jam setelah mereka mengungsi, aliran sungai ternyata semakin membesar. Rumah yang ditinggali Syafrizal itu pun rubuh dan hanyut terbawa derasnya aliran sungai.

Saat itu, ia tak kuasa menahan tangis melihat rumah yang dibangun melalui jerih payahnya sendiri hilang dalam sekejap tak bersisa.

Ia hanya bisa menyelamatkan sepasang baju dan celana yang ia gunakan saat hendak pergi mengungsi.

Sawah dan kebun yang menjadi ladang pencahariannya pun sudah hilang tersapu banjir bandang.

“Mungkin sekian saja cerita dari saya ya, kalau diingat-ingat sedih rasanya, memikirkan saat itu saja saya takut, sebegitu mengerikannya, karena ini pertama kalinya yang sebesar itu, biasanya tidak sampai ke rumah saya,” kata dia.

“Sudah bisa menyelamatkan nyawa saja sudah alhamdulillah. Biar saja harta benda hilang, tapi nyawa tidak bisa tergantikan,” kata dia menambahkan.

Saat ini, Safrizal bersama puluhan masyarakat lainnya mengungsi di salah satu musala yang berada tidak jauh dari rumahnya. Ia berharap agar pemerintah segera memberi kejelasan terkait keberlangsungan kehidupannya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Fajar Alfaridho Herman

tirto.id - Flash News
Kontributor: Fajar Alfaridho Herman
Penulis: Fajar Alfaridho Herman
Editor: Abdul Aziz