tirto.id - Policy Strategist Yayasan Indonesia Cerah, Sartika Nur Shalati, mewanti-wanti soal potensi kerugian yang bisa ditanggung Danantara dalam proyek gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME).
Pasalnya, Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) pada 2020 pernah memproyeksikan bahwa proyek gasifikasi batubara oleh PT Bukit Asam (PTBA) dapat menimbulkan kerugian hingga Rp5 triliun atau setara 377 juta dolar Amerika Serikat (AS) per tahun tahun.
“Nah, kalau misalnya Danantara mengalokasikan uang yang mana itu berasal dari bank-bank BUMN, berisiko terjadi krisis kerugian seperti yang dialami PLN, dan negara lagi-lagi harus menanggung, menomboki beban kerugian yang dialami oleh Danantara, sama kayak PLN,” ujar Sartika dalam Cerah Insight Talk di Jambuluwuk Thamrin Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/2025).
Dalam kesempatan sama, Climate & Energy Campaigner Greenpeace Indonesia, Adila Isfandiari, juga mengingatkan bahwa banyak investor maupun perbankan kini sudah mulai mundur dari proyek-proyek bahan bakar fosil, termasuk batubara, bahkan DME.
Kerena itu, ketimbang gasifikasi batubara, ia menyarankan Danantara untuk berinvestasi di proyek-proyek energi terbarukan.
“Dan juga sebenarnya kalau kita bicara mengenai Danantara, kita sebenarnya punya harapan yang besar dengan Danantara ini. Bahwa bagaimana Danantara ini bisa membawa transformasi, terutama untuk transisi energi Indonesia, untuk ekonomi Indonesia. Karena tadi sudah terbukti, sebenarnya berinvestasi kepada gas atau fosil ini kan membawa kerugian,” tutur Adila.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































