Menuju konten utama

BI Proyeksikan Rupiah Menguat Rp17.800 Per Dolar AS pada 2027

Faktor yang membuat rupiah lebih kuat pada 2027, di antaranya prospek ekonomi global yang dinilai akan lebih baik, yakni tumbuh sebesar 3,3 persen.

BI Proyeksikan Rupiah Menguat Rp17.800 Per Dolar AS pada 2027
Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan paparan saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Komisi XI DPR menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon tunggal Gubernur BI Destry Damayanti untuk menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri sebagai Gubernur BI. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia memperkirakan rupiah akan menguat di kisaran Rp17.300-Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2027.

Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan penguatan rupiah dapat terjadi karena adanya lima dorongan utama.

"Pada 2027, rupiah diperkirakan dalam tren menguat di kisaran 17,300 hingga 17,800. Hal ini didukung dengan 5 faktor utama," kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).

Faktor yang membuat rupiah lebih kuat di tahun depan, pertama adalah prospek ekonomi global yang dinilai akan lebih baik di 2027, yakni tumbuh sebesar 3,3 persen. Pada saat yang sama, risiko geopolitik juga diperkirakan akan semakin reda.

"Dan membaiknya persepsi risiko investasi yang dapat mendorong kembali aliran masuk modal ke emerging market serta mengurangi tekanan penguatan dalam USD," imbuh Destry.

Kedua, penguatan rupiah juga diperkirakan terjadi karena fundamental ekonomi Indonesia yang semakin kuat, dengan didukung pertumbuhan yang lebih tinggi, inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat, dan imbal hasil investasi yang menarik.

Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan domestik dinilai akan semakin berkembang.

"Ketiga, implementasi kebijakan ekspor satu pintu dan implementasi PP DHE SDA (Peraturan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam) diperkirakan akan meningkatkan penerimaan devisa dan penerimaan negara sekaligus memperkuat cadangan divisa dan nilai tukar rupiah," rinci Destry.

Keempat, komitmen kuat Bank Indonesia dalam menjaga solidaritas rupiah melalui intervensi valuta asing (valas), kebijakan suku bunga dan lindung nilai, pendalaman pasar uang dan valas serta pengelolaan likuiditas dan cadangan divisa juga dinilai akan semakin menguatkan posisi mata uang Garuda terhadap Greenback.

"Kelima, tentunya terkait dengan penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan monetar diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan daya tarik investasi, portfolio asing dan memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan," kata Destry.

Sementara itu, meski sempat tertekan, posisi rupiah saat ini dinilai sudah semakin baik. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, hingga 31 Agustus 2026 nilai tukar rupiah berada di level Rp17.715 per dolar AS, menguat sebesar 1,57 persen dibandingkan dengan akhir Juli 2026 yang sebesar Rp17.994 per dolar AS.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto