tirto.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga tetap di level 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility masih pada level 6,50 persen.
"Keputusan BI rate dan sejumlah kebijakan lain dimaksud merupakan bagian terintegrasi dari bauran kebijakan Bank Indonesia yang tetap konsisten untuk tetap semakin memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta untuk mempertahankan inflasi pada tahun 2026 dan 2027 berada di kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring, Rabu (22/7/2026).Perry juga menyampaikan bahwa ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran sejak awal Juli 2026. Eskalasi perang itu mengganggu lalu lintas perdagangan melalui Selat Hormuz sehingga memicu kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas dunia.
Menurut Perry, kondisi tersebut mendorong inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5 persen pada tahun ini. Di saat yang sama, bank-bank sentral dunia diperkirakan akan kembali memperketat kebijakan moneternya, termasuk bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang diproyeksikan menaikkan Fed Funds Rate lebih cepat pada triwulan IV 2026.
Di pasar keuangan global, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga memicu arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset-aset safe haven. Akibatnya, dolar Amerika Serikat menguat terhadap berbagai mata uang dunia.
"Ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang kembali meningkat tersebut mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," kata Perry.
Di dalam negeri, BI menilai perekonomian Indonesia masih cukup terjaga. Konsumsi pemerintah meningkat berkat percepatan belanja negara, termasuk pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara dan penyaluran bantuan sosial. Sementara itu, konsumsi rumah tangga tetap ditopang berbagai stimulus pemerintah, seperti bantuan pangan, diskon tarif transportasi, hingga program magang dan pelatihan vokasi.
Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 4,9-5,7 persen. Namun, Perry mengingatkan ketahanan sektor eksternal perlu terus diperkuat di tengah gejolak global yang masih tinggi.
Menurut dia, penguatan bauran kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus menarik aliran modal asing. Hingga 20 Juli 2026, kepemilikan investor nonresiden pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) meningkat menjadi Rp288,7 triliun atau sekitar 27,1 persen dari total outstanding, naik dari Rp238,1 triliun pada pertengahan Juni.
Selain mempertahankan suku bunga, BI juga akan mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing, memperluas instrumen operasi moneter, serta memberikan insentif bagi investor asing melalui penurunan biaya swap lindung nilai (hedging). Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah tingginya volatilitas pasar global.
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































