Menuju konten utama

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan di 5,50%, Ini Alasannya

Hal ini didasari oleh penguatan rupiah yang mulai terlihat setelah BI melakukan kenaikan agresif sebesar 75 basis poin dalam waktu kurang dari satu bulan.

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan di 5,50%, Ini Alasannya
Gedung Bank Indonesia di Solo. Flickr/Aditya Darmasurya
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Juni 2026.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai peluang BI menahan suku bunga mencapai 80-90 persen. Hal ini didasari oleh penguatan rupiah yang mulai terlihat setelah BI melakukan kenaikan agresif sebesar 75 basis poin (bps) dalam waktu kurang dari satu bulan.

"Menurut saya, peluang BI menaikkan BI Rate lagi besok sudah lebih kecil dibandingkan sebelum rupiah pulih. Skenario dasar saya adalah BI menahan BI Rate di 5,50 persen," kata Josua kepada Tirto, Kamis (18/6/2026).

Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada Mei lalu dan 25 bps dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada 9 Juni. Josua menilai langkah tersebut sudah cukup kuat sebagai sinyal keseriusan BI dalam menjaga stabilitas rupiah.

"Rupiah yang mulai pulih menjadi alasan penting bagi BI untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga lagi," ucapnya.

Meski demikian, keputusan BI tetap sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed dan pergerakan dolar Amerika Serikat. Josua menambahkan bahwa jika The Fed memberi sinyal suku bunga AS masih akan tinggi lebih lama, tekanan ke rupiah bisa kembali meningkat.

"BI masih bisa menggunakan instrumen lain seperti SRBI, intervensi valas yang terukur, penguatan imbal hasil instrumen moneter, dan insentif lindung nilai untuk menjaga daya tarik aset rupiah," jelasnya.

Josua juga mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga tambahan memiliki biaya ekonomi. Jika BI Rate dinaikkan terlalu cepat, biaya dana perbankan akan meningkat, bunga kredit lebih sulit turun, konsumsi dan investasi bisa tertahan, serta biaya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah berpotensi naik.

Strategi terbaik yang disarankan Josua adalah BI menahan suku bunga di 5,50 persen. "BI perlu menyatakan bahwa stabilisasi rupiah tetap menjadi prioritas, inflasi akan dijaga dalam sasaran, dan BI siap mengambil langkah lanjutan jika tekanan eksternal kembali meningkat," tuturnya.

Namun begitu, menurutnya kenaikan lanjutan sebesar 25 bps tetap menjadi skenario risiko jika rupiah kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS, harga minyak naik lagi, atau imbal hasil surat utang AS meningkat.

“Peluang kenaikan lagi sebesar 25bps tetap ada, tetapi lebih sebagai skenario risiko jika rupiah kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS,” kata dia.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA ACUAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama