tirto.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Maret 2026.
Perry menegaskan, kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Bank Indonesia, kata dia, akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga ke depan sejalan dengan perkiraan inflasi 2026-2027 yang tetap terkendali rendah dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Perry juga menekankan pentingnya memperkuat efektivitas transmisi kebijakan, baik moneter maupun makroprudensial, agar mampu mendorong permintaan domestik. Upaya ini berjalan beriringan dengan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga konsumsi rumah tangga serta investasi, dengan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.
Di sisi eksternal, tekanan mulai terlihat. Surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 tercatat sekitar 1 miliar dolar AS, menurun dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 2,5 miliar dolar AS. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya permintaan global terhadap ekspor nonmigas.
Aliran modal asing juga menunjukkan dinamika yang beragam. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, arus modal masih mencatatkan net inflow sebesar 1,6 miliar dolar AS, terutama ke instrumen sekuritas rupiah Bank Indonesia. Namun, pada Maret 2026, terjadi net outflow sekitar 1,1 miliar dolar AS, dipicu meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap kuat di level 151,9 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah—jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Ke depan, risiko dari perlambatan ekonomi global dan kenaikan harga minyak dunia dinilai berpotensi menekan neraca transaksi berjalan. Defisit diperkirakan dapat melebar mendekati batas atas kisaran 0,1 hingga 0,9 persen dari PDB.
Nilai tukar rupiah sendiri pada 16 Maret 2026 tercatat di level Rp16.985 per dolar AS, melemah 1,29 persen dibandingkan akhir Februari. Tekanan ini sejalan dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya serta keluarnya aliran modal dari pasar emerging.
"Guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitasintersefensi baik di pasar NDF luar negeri, offshore NDF maupun transaksi spot dan di NDF di pasar dalam negeri.Selain itu Bank Indonesia juga mengoptimalkan seluruh instrumen moneteruntuk meningkatkan aliran masuk modal asing guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," jelas Perry.
Dengan bauran kebijakan tersebut, Bank Indonesia meyakini stabilitas rupiah tetap terjaga, didukung oleh imbal hasil yang kompetitif dan prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif solid.
"Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil didukung oleh komitmen Bank Indonesiaimbal hasil yang menarik serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," jelasnya.
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































