Menuju konten utama

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% pada Maret 2026

BI akan terus menjaga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% pada Maret 2026
Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen yang tertuang dalam asumsi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 bisa dicapai dengan sinergi kebijakan pemerintah dan bank sentral. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Maret 2026.

Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga tetap di level 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility tetap di 5,50 persen.

"Keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi Global akibat perang di Timur Tengah," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring, Selasa (17/3/2026).

Perry menegaskan, kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Bank Indonesia, kata dia, akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga ke depan sejalan dengan perkiraan inflasi 2026-2027 yang tetap terkendali rendah dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat pertahanan internal dari kemungkinan etalasi perang Timur Tengah termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional,” lanjut Perry.

Perry juga menekankan pentingnya memperkuat efektivitas transmisi kebijakan, baik moneter maupun makroprudensial, agar mampu mendorong permintaan domestik. Upaya ini berjalan beriringan dengan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga konsumsi rumah tangga serta investasi, dengan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.

Di sisi eksternal, tekanan mulai terlihat. Surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 tercatat sekitar 1 miliar dolar AS, menurun dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 2,5 miliar dolar AS. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya permintaan global terhadap ekspor nonmigas.

Aliran modal asing juga menunjukkan dinamika yang beragam. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, arus modal masih mencatatkan net inflow sebesar 1,6 miliar dolar AS, terutama ke instrumen sekuritas rupiah Bank Indonesia. Namun, pada Maret 2026, terjadi net outflow sekitar 1,1 miliar dolar AS, dipicu meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap kuat di level 151,9 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah—jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ke depan, risiko dari perlambatan ekonomi global dan kenaikan harga minyak dunia dinilai berpotensi menekan neraca transaksi berjalan. Defisit diperkirakan dapat melebar mendekati batas atas kisaran 0,1 hingga 0,9 persen dari PDB.

Nilai tukar rupiah sendiri pada 16 Maret 2026 tercatat di level Rp16.985 per dolar AS, melemah 1,29 persen dibandingkan akhir Februari. Tekanan ini sejalan dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya serta keluarnya aliran modal dari pasar emerging.

"Guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitasintersefensi baik di pasar NDF luar negeri, offshore NDF maupun transaksi spot dan di NDF di pasar dalam negeri.Selain itu Bank Indonesia juga mengoptimalkan seluruh instrumen moneteruntuk meningkatkan aliran masuk modal asing guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," jelas Perry.

Dengan bauran kebijakan tersebut, Bank Indonesia meyakini stabilitas rupiah tetap terjaga, didukung oleh imbal hasil yang kompetitif dan prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif solid.

"Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil didukung oleh komitmen Bank Indonesiaimbal hasil yang menarik serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," jelasnya.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA ACUAN atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana