tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9). Rupiah dibuka di level Rp17.585 per dolar AS, melemah 38 poin atau sekitar 0,22 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah tersebut sejalan dengan IHSG yang dibuka di zona merah.
Pada perdagangan Kamis (10/9), rupiah sebenarnya juga sudah mengalami pelemahan sebesar 36 poin atau 0,21 persen. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.547 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.511 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah sikap investor yang cenderung wait and see.
Pelaku pasar memilih menahan diri sebelum mengambil posisi baru karena sedang menunggu keluarnya data ekonomi Amerika Serikat, khususnya Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI). Kedua indikator tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan inflasi di AS.
Di sisi lain, sentimen domestik terhadap rupiah masih dinilai cukup positif. Dolar AS secara umum juga masih berada dalam tekanan. Namun, kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun ke sekitar 4,84 persen menjadi faktor yang menahan potensi penguatan rupiah.
“Meskipun sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah,” ujar Amru dikutip Antara (10/9/2026).
Faktor lain yang turut menjadi perhatian pasar adalah perkembangan harga minyak dunia. Harga minyak masih berada di atas 100 dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
IHSG Dibuka Turun ke Level 6.552,79
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali berada di zona merah pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9). IHSG dibuka turun 36,55 poin atau 0,55 persen ke level 6.552,79.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, ketika IHSG ditutup melemah cukup signifikan akibat sentimen negatif dari pasar global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada perdagangan Kamis (10/9), IHSG ditutup turun 88,86 poin atau 1,33 persen ke level 6.589,34. Penurunan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45 yang melemah 8,27 poin atau 1,25 persen ke posisi 655,98.
“IHSG dan bursa regional Asia melemah yang terbebani meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang menyebabkan melonjaknya harga minyak dan kekhawatiran inflasi, serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat,” terang Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.
Ketegangan antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang membebani sentimen investor. Belum terdapat tanda-tanda kuat bahwa konflik tersebut akan segera mereda.
Salah satu risiko terbesar dari eskalasi konflik tersebut adalah terganggunya aliran energi melalui Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute strategis bagi perdagangan minyak dunia.
Apabila distribusi energi melalui kawasan tersebut terganggu, pasokan minyak global dapat mengetat dan mendorong harga minyak semakin tinggi. Kenaikan harga energi kemudian berpotensi meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan harga barang sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch yang dirujuk dalam kajian Nico, terdapat probabilitas sekitar 60,2 persen terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Selain faktor-faktor tersebut, investor juga mencermati kebijakan fiskal pemerintah. Pemerintah menargetkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 40,31-40,64 persen pada 2027. Sedangkan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) 2027 diproyeksikan berada pada kisaran 6,5-7,3 persen dengan asumsi tengah 6,9 persen.
Pemerintah juga menargetkan pendalaman pasar SBN domestik mencapai 100 persen. Dari sisi basis investor, jumlah investor SBN ritel telah mencapai sekitar 1,081 juta orang. Penerbitan SBN ritel pada 2026 ditargetkan mencapai Rp160-170 triliun, meningkat dibandingkan realisasi penerbitan sebesar Rp152 triliun pada 2025.
“Kami menilai target rasio utang pemerintah di kisaran 40,31-40,64 persen terhadap PDB pada 2027 menunjukkan pemerintah masih berupaya menjaga keberlanjutan fiskal di tengah kebutuhan pembiayaan yang tetap besar,” ujar Nico.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





































