tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (10/92026) berada di level Rp17.512 per dolar AS, melemah tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya.
Pada perdagangan Rabu (9/9), rupiah memang mengalami penguatan yang cukup besar, yakni 121 poin atau 0,69 persen, dari sebelumnya Rp17.632 menjadi Rp17.511 per dolar AS.
Menurut analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah adalah derasnya arus modal asing yang masuk ke pasar obligasi pemerintah Indonesia.
Ketika investor asing membeli obligasi pemerintah Indonesia, mereka pada umumnya perlu menukarkan dolar atau mata uang asing lainnya ke rupiah terlebih dahulu. Permintaan terhadap rupiah yang meningkat akibat transaksi tersebut kemudian dapat memberikan tekanan penguatan terhadap nilai tukar rupiah.
Arus modal yang masuk ke pasar obligasi tersebut tercatat meningkat sekitar 90,5 juta dolar AS. Kondisi ini antara lain didukung oleh persepsi investor terhadap membaiknya kondisi fiskal Indonesia, khususnya defisit anggaran dan penerimaan pajak.
Selain itu, terdapat faktor spread yield, yaitu selisih tingkat imbal hasil antara obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi pemerintah negara lain, khususnya Amerika Serikat. Jika imbal hasil obligasi Indonesia relatif lebih menarik dibandingkan obligasi AS, investor dapat terdorong untuk menempatkan dananya di Indonesia karena berpotensi memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.
Faktor lain yang turut memengaruhi keputusan investor adalah kondisi inflasi di Amerika Serikat. Inflasi yang masih tinggi dapat membuat investor memperkirakan bahwa kebijakan moneter AS akan tetap ketat atau bahwa suku bunga AS belum dapat turun dengan cepat.
Selain memperhatikan kondisi domestik, investor juga menunggu data inflasi AS yang akan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed. Inflasi AS secara bulanan dan tahunan diperkirakan masing-masing 0,4 persen dan 0,2 persen.
“Dengan angka-angka inflasi tersebut di atas membuat tidak nyaman bagi The Fed, dan berakibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga minggu depan menjadi 60 persen lebih tinggi dari sebelumnya 35 persen,” ungkap Rully dikutip Antara, Rabu (9/9/2026).
IHSG Menguat ke Level 6.688,18
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (10/9) pagi menunjukkan pembukaan yang cukup positif. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka naik 9,98 poin atau 0,15 persen ke level 6.688,18, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Rabu (9/9) di 6.678,20.
Penguatan pada awal perdagangan ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar masih memiliki optimisme untuk melakukan pembelian saham setelah IHSG pada hari sebelumnya mengalami tekanan.
Sejalan dengan IHSG, Indeks LQ45, yang merepresentasikan 45 saham berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas tinggi, juga dibuka menguat 1,96 poin atau 0,30 persen ke level 666,21.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan perdagangan Rabu. Pada Rabu sore, IHSG justru ditutup melemah 8,24 poin atau 0,12 persen menjadi 6.678,20, sedangkan indeks LQ45 turun 1,33 poin atau 0,20 persen ke 664,25.
Salah satu penyebab utama tekanan terhadap pasar saham adalah kenaikan harga minyak mentah global. Kenaikan harga minyak menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan biaya energi dan produksi berbagai perusahaan. Jika biaya produksi meningkat, margin keuntungan perusahaan berpotensi tertekan.
Sentimen negatif tersebut juga terjadi di pasar saham Asia. Menurut Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, bursa Asia didominasi pelemahan karena harga minyak kembali meningkat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik menjadi faktor penting bagi pasar keuangan karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu wilayah utama dalam rantai pasokan minyak dunia.
Apabila konflik semakin meluas dan mengganggu distribusi minyak, pasar khawatir pasokan energi global akan terganggu. Kekhawatiran tersebut dapat menyebabkan harga minyak semakin tinggi dan pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mengambil sikap hati-hati menjelang rilis data penjualan ritel Juli 2026. Data ini penting karena penjualan ritel dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi masyarakat. Konsumsi merupakan salah satu komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Jika penjualan ritel meningkat, pasar dapat melihat bahwa daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi masih cukup kuat. Sebaliknya, apabila penjualan ritel kembali mengalami penurunan, terutama setelah sebelumnya turun selama tiga bulan berturut-turut, investor dapat mempertanyakan seberapa kuat konsumsi domestik dalam menopang pertumbuhan ekonomi.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id







































