Menuju konten utama

Kurs Dolar AS ke Rupiah Menguat karena America Shutdown?

America Shutdown dinilai banyak pihak memiliki dampak signifikan terhadap nilai rupiah menguat. Simak kurs dolar AS terhadap rupiah hari ini (6/10).

Kurs Dolar AS ke Rupiah Menguat karena America Shutdown?
kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

tirto.id - Nilai tukar atau kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menguat ke level Rp16.563 pada perdagangan hari ini, Senin (6/10/2025). Lantas, benarkah kurs dolar AS ke Rupiah mengaut karena America Shutdown? Ini ulasan lengkapnya

Mengutip laporan Bloomberg hari ini (6/10) pukul 12.00 WIB, rupiah dibuka menguat 0,25% ke Rp16.564 per dolar AS. Kemudian, Bank Indonesia pada pukul 12.00 WIB menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp16,528.9 dan harga jual sebesar Rp16,695.1.

BI juga menetapkan kurs tengah rupiah pada hari ini (6/10) pukul 12.00 WIB berada di angka Rp16,612. Sementara itu, America Shutdown dinilai banyak pihak memiliki dampak signifikan terhadap nilai rupiah yang menguat.

Apakah America Shutdown Mempengaruhi Kurs Rupiah Menguat?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus menguat seiring kebijakan penutupan pemerintah (government shutdown) AS.

Melansir laporan Antaranews, America Shutdown didorong oleh kebuntuan pendanaan belanja kesehatan, meningkatkan risiko keterlambatan rilis data ekonomi utama, termasuk jobless claims dan non-farm payrolls untuk September 2025.

Menguatnya rupiah terhadap dolar AS ini juga dijelaskan oleh Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede. Ia menilai, America Shutdown memiliki dampak signifikan terhadap nilai rupiah yang menguat.

“Rupiah hari ini diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.600-Rp16.725 per dolar AS,” kata Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, saat dihubungi Tirto.id, Kamis (2/10/2025).

Penguatan rupiah ini, menurutnya, didorong oleh penutupan sementara (shutdown) pemerintah AS karena tidak tercapainya kesepakatan antara Partai Republik dan Demokrat terkait batas atas pendanaan.

Akibatnya, penghentian pemerintah AS yang ke-15 ini akan membuat berbagai macam data yang dirilis oleh lembaga pemerintah AS, salah satunya terkait data ketenagakerjaan juga turut terhenti.

“Penutupan pemerintah AS juga telah merumahkan sekitar 750 ribu pegawai federal, dengan perkiraan kerugian ekonomi harian sebesar 400 juta dolar AS,” ujar Josua, kepada Antaranews, dikutip Kamis (2/10/2025).

America Shutdown bermula dari ketegangan antara Partai Republik dan Demokrat di Senat. Dalam hal ini, Partai Republik tidak memiliki suara mayoritas yang dibutuhkan.

Senat Demokrat menolak versi resolusi berkelanjutan yang disahkan DPR AS yang akan mendanai pemerintah federal selama tujuh minggu tambahan, hingga 21 November.

Senat Demokrat menilai Rancangan Undang-Undang (RUU) pendanaan yang digagas Partai Republik tidak cukup menjawab kekhawatiran mereka terkait kebijakan layanan kesehatan.

Sebaliknya, Partai Republik berpendapat bahwa versi resolusi berkelanjutan yang bertujuan mencegah penutupan pemerintah, merupakan proposal bersih yang mempertahankan tingkat pengeluaran saat ini.

RUU pendanaan ini juga memberikan waktu tambahan untuk menegosiasikan rancangan undang-undang alokasi anggaran penuh untuk Tahun Anggaran 2025. Saat ini, probabilitas pasar diperkirakan mengalami 90 persen penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis points (bps) bulan Oktober, dengan peluang hampir 70 persen untuk penurunan lebih lanjut pada akhir tahun.

Sentimen positif juga berasal dari surplus perdagangan Indonesia menjadi 5,49 miliar dolar AS pada September 2025 dari 4,17 miliar dolar AS pada Agustus 2025, yang sebagian besar disebabkan impor lebih lemah.

Sementara itu, inflasi tahunan meningkat menjadi 2,65 persen dari 2,31 persen, didorong oleh rebound harga pangan yang bergejolak dan inflasi inti lebih kuat.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa shutdown pemerintahan AS juga membuat harga emas dunia kembali meningkat. Berdasarkan laporan Tirto, Ibrahim Assuaibi memprediksi adanya kemungkinan harga emas mencapai 4.000 (dolar AS) pada bulan Oktober.

“Ada kemungkinan di bulan Oktober itu akan menyentuh level di 4.000 (dolar AS) ini secara teknikal. Kalau seandainya terkoreksi, ya terkoreksi pun juga support pertamanya itu adalah di 3.853 (dolar AS), support kedua 3.821 (dolar AS),” ujar Ibrahim, kepada Tirto.id, dikutip Kamis (2/10/2025).

Pembaca yang ingin mengikuti berita Internasional dapat klik tautan di bawah ini.

Kumpulan Berita Internasional

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo