tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus menguat sampai penghujung hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot exchange menguat 24 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp16.611 per dolar AS. Sedangkan pada perdagangan Rabu (1/10/2025), nilai mata uang Garuda ditutup di level Rp16.635 per dolar AS, naik 60 poin dari hari sebelumnya.
“Rupiah hari ini diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.600-Rp16.725 per dolar AS,” kata Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, saat dihubungi Kamis (2/10/2025).
Penguatan rupiah ini, menurutnya, didorong oleh penutupan sementara (shutdown) pemerintah AS karena tidak tercapainya kesepakatan antara Partai Republik dan Demokrat terkait batas atas pendanaan.
Akibatnya, penghentian pemerintah AS yang ke-15 ini akan membuat berbagai macam data yang dirilis oleh lembaga pemerintah AS, salah satunya terkait data ketenagakerjaan juga turut terhenti.
“Penutupan pemerintah AS juga telah merumahkan sekitar 750 ribu pegawai federal, dengan estimasi kerugian ekonomi harian sebesar 400 juta dolar AS,” tambah Josua.
Dihubungi terpisah, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penutupan pemerintah AS ini cukup mengerikan karena sampai memperlambat perjalanan udara, menangguhkan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh kampus-kampus, hingga menahan gaji pasukan AS.
Kemudian, dengan kondisi seperti ini ada kemungkinan mengakibatkan tenaga kerja AS kembali mengalami penurunan dan jumlah pengangguran meningkat drastis.
Pada akhirnya, kondisi ini akan membuat Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) mengurungkan penurunan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps) yang sebelumnya sudah ada sinyal kuat.
“Kita harus melihat juga tentang masalah perang dagang yang diterapkan oleh Trump, yang ini pun juga sebenarnya sangat ditolak ya, dibenci oleh Partai Demokrat. 1 Oktober sudah berjalan, kemudian di tanggal 14 Oktober itu akan dinaikkan untuk bea impornya. Nah ini pun juga akan membuat satu kegaduhan tersendiri bagi perpolitikan di Amerika,” jelas Ibrahim.
Selain membuat rupiah perkasa, shutdown pemerintahan AS juga membuat harga emas dunia pada hari ini diperdagangkan di level 3.893,25 dolar AS.
Bahkan, ada kemungkinan besar bahwa di bulan ini harga komoditas tersebut akan menyentuh level 3.933 dolar AS, lebih tinggi dari perkirakan sebelumnya yang sebesar 3.900 dolar AS.
“Ada kemungkinan di bulan Oktober itu akan menyentuh level di 4.000 (dolar AS) ini secara teknikal. Kalau seandainya terkoreksi, ya terkoreksi pun juga support pertamanya itu adalah di 3.853 (dolar AS), support kedua 3.821 (dolar AS),” tukas Ibrahim.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































