Menuju konten utama

Kompak dengan Mata Uang Asia, Rupiah Dibuka Lesu ke Rp16.774

Tak hanya rupiah, mata uang kawasan Asia lainnya kompak mengalami pelemahan.

Kompak dengan Mata Uang Asia, Rupiah Dibuka Lesu ke Rp16.774
Warga memperlihatkan uang rupiah saat layanan penukaran uang rupiah layak edar pada mobil kas keliling Bank Indonesia (BI) di Pasar Tradisional Setonobetek, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (18/9/2025). ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/YU

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah 25,50 poin atau 0,15 persen ke Rp16.774. Koreksi rupiah berlanjut setelah ditutup turun 64 poin aatau 0,39 persen ke level Rp16.749 per dolar AS pada perdagangan Kamis (25/9/2025).

Tak hanya rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang (JPY) turun 0,03 persen, dolar Singapura (SGD) terkoreksi tipis 0,01 persen, sementara dolar Taiwan (TWD) melemah 0,37 persen.

Selanjutnya, Won Korea Selatan (KRW) terpantau turun 0,14 persen, peso Filipina (PHP) tertekan 0,44 persen, dan Ringgit Malaysia (MYR) melemah 0,28 persen. Ada pula yuan China (CNY) terkoreksi yang minus 0,03 persen, dan baht Thailand (THB) yang merosot 0,16 persen.

Di sisi lain, pergerakan mata uang negara maju masih terpantau beragam. Euro (EUR) terhadap dolar menguat 0,02 persen, sedangkan poundsterling (GBP) justru turun 0,02 persen.

Pelemahan cukup dalam dialami Dolar Australia (AUD), yakni sebesar 0,11 persen, sedangkan dolar Kanada (CAD) naik 0,03 persen dan franc Swiss (CHF) menguat 0,05 persen.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam analisisnya pada Kamis (25/9/2025), menyampaikan bahwa penguatan dolar disebabkan oleh ketegangan geopolitik yang terjadi di Eropa.

Ini salah satunya dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump, pada Selasa (23/9/2025), yang menyebut Washington tengah mempersiapkan sanksi baru untuk negara-negara Eropa yang membeli minyak dari Rusia.

Selain itu, pidato Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell juga dinilai turut andil menekan rupiah. Dalam pidatonya beberapa hari lalu, Powell menekankan bahwa sinyal pelemahan pasar tenaga kerja AS mendorong the Fed untuk menyeimbangkan kembali prospek risikonya, dan mengafirmasi alasan penurunan suku bunga.

"Ke depannya, mandat ganda Fed menghadirkan keseimbangan yang rumit, meskipun kecenderungannya semakin mengarah pada perlindungan pasar tenaga kerja. Kemajuan menuju target inflasi 2 persen tampaknya tersendat, tetapi risiko kenaikan harga belum terwujud," jelas Ibrahim.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dwi Aditya Putra