tirto.id - "... Diam itu emas," kata peribahasa kuno, yang telah dituturkan sejak berabad-abad silam. Namun, tidak semua aksi diam itu bisa disebut sebagai aksi yang patut diganjar oleh emas. Salah-salah, aksi diam justru membuat kita secara tidak langsung menjadi penyebab bagi nahas yang dialami oleh orang lain.
Saat terjadi kecelakaan di jalan, misalnya, ada dorongan dalam diri kita untuk menolong korban. Akan tetapi, pada saat bersamaan, muncul pertimbangan-pertimbangan lain: bagaimana jika pertolongan saya justru membuat cederanya makin parah? bagaimana jika nanti saya, amit-amit, malah berurusan dengan polisi? bagaimana dengan orang lain yang ada di sini? pasti mereka juga bakal menolong korban.
Pada akhirnya, yang kita ikuti bukan lagi dorongan menolong korban, melainkan pertimbangan-pertimbangan yang membuat kita memilih diam, terutama karena sudah ada orang lain yang, menurut kita, bakal memberikan bantuan. Tak cuma dalam kecelakaan lalu lintas, skenario macam ini pun bisa ditemukan dalam kejadian-kejadian lain, seperti pelecehan seksual, perundungan di tempat umum, serta kekerasan dalam rumah tangga. Karena sudah ada orang lain, kita merasa tak lagi bertanggung jawab atas keselamatan seseorang.
Pada 1964, terjadilah kasus paling ekstrem dari skenario tersebut. Seorang perempuan di Connecticut, AS, bernama Kitty Genovese, yang baru pulang kerja pada pukul 03:00 dini hari, merasa dirinya dibuntuti. Perempuan 28 tahun itu pun berlari menuju apartemennya. Namun dia kalah cepat. Seorang pria bernama Winston Moseley berhasil menyerang dan menusuknya.
Di tengah serangan itu, Genovese berteriak minta tolong. Sejumlah orang di sekitar wilayah itu terbangun dan menyalakan lampu. Bahkan, ada seorang tetangga yang sudah keluar rumah dan membuat Moseley lari. Akan tetapi, entah kenapa tetangga tersebut tidak menolong Genovese, dan malah masuk lagi setelah menutup jendela. Moseley pun mendapat keleluasaan meneruskan aksinya.
Selama kurang lebih 30 menit, Moseley menyerang Genovese. Pria itu menusuk, memperkosa, dan merampok Genovese, yang akhirnya meninggal dunia. Bayangkan, serangan terjadi selama setengah jam dengan saksi berjumlah 38 orang, tetapi tak ada satu pun di antara mereka yang mengulurkan tangan untuk Genovese. Bahkan, tak ada yang menelepon polisi.
Kasus pembunuhan itu menggemparkan AS hingga akhirnya terjadi revolusi dalam sistem pelaporan kejahatan, termasuk diciptakannya sistem telepon darurat 911.

Di bidang psikologi, peristiwa nahas tersebut melahirkan konsep yang disebut bystander effect. Makin banyak orang yang ada di tempat kejadian perkara, makin kecil kemungkinan seseorang memberikan bantuan.
Dalam wawancara dengan BBC, Matt Langdon, pendiri Hero Construction Company, perusahaan yang bergerak di bidang pelatihan keberanian, berkata bahwa cara terbaik mengatasi bystander effect adalah dengan mengenyahkan segala pertimbangan yang membuat kita urung menolong seseorang.
"Ketika itu terjadi, itu akan menjadi gerbang bagi orang lain untuk ikut membantu dan mereka bisa jadi bakal termotivasi untuk mengatasi ketakutan mereka pula," tuturnya.
Membentuk Atmosfer Positif pada Kerumunan
Dengan kata lain, kata kuncinya adalah disrupsi terhadap status quo, dari diam menjadi aktif. Studi yang dilakukan oleh para ilmuwan Università Cattolica del Sacro Cuore di Milano, Italia, membuktikan bahwa disrupsi dalam suatu kerumunan mampu mengubah perilaku kerumunan tersebut secara lebih luas.
Disrupsi tidak harus selalu bersifat aktif. Artikel BBC yang memuat wawancara dengan Langdon di atas menceritakan peristiwa ketika seorang perempuan di kereta bawah tanah New York diserang oleh perempuan lain bernama Anna Lushchinskaya. Awalnya, serangannya cuma bersifat verbal, tetapi kemudian bereskalasi menjadi serangan fisik. Ketika itu terjadi, para penumpang kereta lain akhirnya mengintervensi sehingga aksi Lushchinskaya tidak melukai korbannya lebih parah.
Menariknya, dalam eksperimen yang dilakukan para peneliti di Milano, disrupsi yang dilakukan bisa dibilang bersifat pasif. Sebab, "disruptor utama" dari skenario tersebut sejatinya tidak melakukan apa-apa kecuali mengenakan kostum Batman. Hmm, bagaimana ceritanya?
Eksperimen tersebut dimulai dari masuknya seorang anggota tim peneliti yang berpura-pura hamil dengan bantuan perut prostetik ke dalam kereta metro di Milano. Situasi gerbong saat itu padat, semua kursi terisi. Di sisi gerbong lain anggota tim riset lainnya juga masuk untuk merekam situasi dan respons yang ditunjukkan para penumpang.
Hasilnya, ada 37,66 persen dari 70 penumpang (individu yang diobservasi) yang menawarkan tempat duduknya untuk ditempati eksperimenter perempuan tersebut. Oleh para peneliti, situasi pertama itu disebut sebagai kondisi kontrol yang menjadi patokan ketika eksperimen sesungguhnya dimulai. Di sinilah kemudian sosok Batman menjadi disruptor.
Ada penurunan jumlah individu yang diobservasi pada skenario kedua, dari 70 menjadi 68. Di sini, eksperimenter perempuan masuk dari satu pintu dengan kondisi gerbong penuh sehingga mau tak mau harus berdiri terlebih dahulu. Dari pintu lainnya, masuklah eksperimenter berkostum Batman yang juga berdiri. Kedua eksperimenter ini diinstruksikan untuk tidak membuat kontak apa pun selama eksperimen.
Jarak eksperimenter perempuan hamil dan Batman itu sekitar tiga meter. Si Batman didandani dengan kostum lengkap dan akurat, termasuk topeng yang tidak menutupi seluruh wajahnya. Hasilnya? Terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah orang yang menawarkan kursi terhadap si eksperimenter perempuan. Dari 68 individu yang diobservasi, 67,21 persennya, atau lebih dari dua per tiga populasi, menawarkan tempat duduk kepada sang "ibu hamil".
Dari situ, para peneliti pun mencatat siapa-siapa saja yang mau rela berkorban demi sesamanya. Ternyata, mayoritas yang menawarkan kursi kepada sang "ibu hamil" adalah perempuan juga, dengan rata-rata usia 41 tahun. Bagi mereka, ini penting karena, artinya, keberadaan "Batman" tadi tidak cuma berpengaruh pada demografi tertentu, melainkan kepada populasi secara umum.
Sekali lagi, dalam eksperimen ini, Batman tidak bertindak sebagai disruptor aktif. Perannya, ya, sebatas ada di tempat yang sama dengan eksperimenter yang berpura-pura hamil. Namun, dengan begitu saja, pengaruhnya sudah terasa. Bahkan, mereka yang tidak melihat keberadaan sosok Batman pun terpengaruh dengan adanya perubahan atmosfer dalam gerbong kereta.
Rupanya, 44 persen dari orang-orang yang menawarkan tempat duduk kepada "ibu hamil" mengaku tidak melihat keberadaan sosok Batman di gerbong. Para peneliti menilai, fenomena tersebut sejalan dengan teori social contagion, yakni proses ketika perilaku, keadaan emosional, atau gangguan, dapat menyebar antarindividu melalui mekanisme sosial.
“Temuan kami serupa dengan penelitian sebelumnya yang menghubungkan kesadaran saat ini (mindfulness) dan peningkatan perilaku prososial. Yakni, bagaimana hal ini dapat menciptakan konteks di mana individu menjadi lebih peka terhadap isyarat sosial. Tidak seperti intervensi mindfulness tradisional yang membutuhkan keterlibatan aktif, studi ini menyoroti bagaimana gangguan situasional saja mungkin cukup untuk menghasilkan efek serupa," tulis para peneliti.
Menolong Orang Lain Karena Diawasi Pahlawan Super
Lantas, mengapa sosok Batman bisa jadi pemicu (prime) yang efektif bagi terciptanya disrupsi yang kemudian menjalar, bahkan ke individu-individu yang tidak menyadari keberadaannya dan kemungkinan besar tidak masuk dalam demografi penggemar si pahlawan super?
Dalam makalahnya, Francesco Pagnani dkk. sebenarnya tidak menjelaskan detail perubahan yang terjadi dalam gerbong. Namun, mengingat mereka menggunakan Batman sebagai disruptor, terdapat kemungkinan adanya orang-orang yang secara langsung terpengaruh oleh Batman sebagai simbol. Orang-orang inilah yang kemudian menjadi awal dari "perubahan atmosfer" tersebut.
Kemungkinan itu sejalan dengan temuan dari penelitian psikologi sebelumnya yang menyoroti efek simbol sosok pahlawan terhadap perilaku prososial. Dalam sebuah studi yang dipublikasikan diFrontiers in Psychology pada 2018, misalnya, para peneliti menemukan bahwa paparan terhadap citra pahlawan super, sekecil apa pun itu, dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk menolong orang lain.
Dalam eksperimennya, para peneliti dari Hope College dan Virginia Commonwealth University di AS memperlihatkan adegan yang menampilkan superhero kepada para peserta eksperimen. Hasilnya, mereka yang terpapar dengan adegan-adegan itu memperlihatkan niat dan upaya lebih dalam menolong orang lain.
Artinya, asosiasi paparan terhadap figur pahlawan super dengan tindakan prososial memang bukan pepesan kosong. Studi lain yang dimuat di Journal of Psychology pada 2025 pun mendapati, menonton film bertema pahlawan super, wabil khusus Batman vs Superman (2016), dapat meningkatkan tendensi aksi prososial pada individu.
Sebelumnya hanya dikatakan bahwa 44 persen orang yang menawarkan tempat duduk tidak menyaksikan keberadaan Batman. Jumlah yang signifikan, tentu saja. Akan tetapi, pada saat bersamaan, itu berarti, mayoritas (56 persen dari orang yang melihat kehadiran Batman) menawarkan tempat duduk pada eksperimenter "ibu hamil" tadi.

Oleh karena itu, eksperimen di Milano bisa dijelaskan dalam dua tahap: pique technique dan social contagion. Semua bermula dari pique technique, ketikakeberadaan sesuatu yang berbeda dapat membuat perhatian manusia jadi lebih aktif. Kebetulan, dalam situasi ini, “sesuatu yang berbeda” yang muncul adalah figur dengan asosiasi positif seperti Batman. Kesadaran akan sosok itu lantas menjalar ke lebih banyak orang sehingga terjadilah social contagion. Beginilah, pada akhirnya, proses disrupsi positif terhadap bystander effect itu menjadi “Batman Effect”.
Meski demikian, studi ini tidak menganjurkan seseorang untuk berdandan layaknya superhero di tempat umum demi melakukan disrupsi. Keberadaan sosok Batman tadi hendaknya disikapi bukan sebagai tindakan disengaja, melainkan suatu kebetulan. Yang lebih mungkin dijumpai sehari-hari adalah kebetulan ada sosok penegak hukum di lokasi.
Namun, kunci utamanya bukan keberadaan sosok, melainkan disrupsi positif. Apa pun bentuknya, disrupsi positif adalah kunci mematahkan "sihir" bystander effect.
Awalnya, mungkin ada rasa takut menolong orang lain. Takut kalau kita sendiri yang terluka, takut terkena masalah hukum, dan masih banyak lagi. Namun, memang, tidak ada jalan lain selain mengalahkan ketakutan itu. Menurut psikolog Kate Swoboda, mengatasi ketakutan adalah sesuatu yang bisa dilatih.
"Jika Anda mempraktikkan perilaku berani sekali saja, hal itu sudah bisa Anda ulangi lagi. Semakin sering hal itu dilatih dan diulang, semakin dalam hal itu tertanam dalam identitas seseorang. Ketika itu sudah menjadi identitas seseorang, keberanian pun menjadi respons habitual seseorang alih-alih diam atau mundur," terangnya kepada BBC.
Melatih perilaku prososial atau keberanian pun tidak harus dimulai dari hal besar seperti yang dilakukan Ahmed al Ahmed di Pantai Bondi. Cukup dengan membela teman yang dirundung, misalnya, kita sudah memulai upaya untuk bersikap berani sehingga, pada akhirnya, kita bisa memberikan "Batman Effect" untuk memberi disrupsi positif bagi bystander effect yang bisa berujung fatal itu.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id






































