Menuju konten utama

Ekonom Ungkap Alasan IHSG Anjlok, Bukan karena Pidato Prabowo

Ekonom InFast Bestari Gede bantah anjloknya IHSG disebabkan oleh pidato Presiden Prabowo Subianto. Dia sebut ada fenomena decoupling.

Ekonom Ungkap Alasan IHSG Anjlok, Bukan karena Pidato Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya saat upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Gedung Pancasila, kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6/2026). Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 mengusung tema Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia yang bermakna penegasan nilai Pancasila relevan untuk menjaga keutuhan bangsa dan sebagai jawaban terciptanya perdamaian dunia. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ekonom InFast, Bestari Gede, membantah merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terjadi karena pidato Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, selain bursa saham Tanah Air, bursa saham di sejumlah negara lain ikut menurun.

Kata Bestari, total ada 11 negara yang bursa sahamnya menurun. Penurunan bursa saham itu disebut terjadi di Rusia, Hongkong/China, Afrika Selatan, India, Afrika Selatan, Maroko, Sri Lanka, Ceko, Islandia, dan Kuwait.

“Secara mingguan, loma bursa yang mengalami penurunan terdalam adalah bursa saham Rusia (MOEX) sebesar 9,72 persem, disusul oleh bursa saham di Afrika Selatan (SA40) yang turun 6,02 persem, dan bursa saham Indonesia (JCI) yang turun 5,42 persen, baru ada China (HK50) turun 3,7 persen, dan Maroko (MASI) turun 1,4 persen," urainya dalam keterangan yang diterima, Kamis (25/6/2026).

"Secara bulanan, lima penurunan yang terdalam adalah bursa saham Rusia (MOEX) yang mengalami penurunan terbesar -13,65 persen, disusul bursa Hongkong yang turun -8,54 persen kemudian bursa Islandia (ICEX) yang turun 7,19 persen, bursa Afrika Selatan (SA40) yang turun 6,02 persen, dan bursa Indonesia (JCI) yang turun 5,2 persen," lanjut dia.

Bestari melanjutkan, secara tahunan, loma penurunan yang terdalam adalah bursa saham Indonesia (JCI) yang turun hingga 31,95 persen, disusul oleh bursa saham Rusia yang turun 18,91 persen, bursa saham China yang turun 8,66 persen, bursa saham India yang turun 8,07 persen, dan bursa Islandia yang turun 7,7 persen.

Menurut dia, berdasarkan pertumbuhan ekonomi atau PDB/GDP, sebagian besar negara-negara yang mengalami penurunan saham mencatatkan angka pertumbuhan yang di atas rata-rata dunia 3,2 persen.

Namun, Rusia memang mengalami konstraksi 0,2 persen dan Afrika Selatan yang tumbuh rendah 1,9 persen. Negara-negara yang tumbuh tinggi tersebut, yakni India yang ekonomi tumbuh hingga 7,8 persen pada kuartal 1 tahun 2026.

“Ini menunjukkan sebuah fenomena ekonomi yang disebut sebagai decoupling, artinya berpisah jalan, antara sektor riil dan pasar saham. Atau dengan kata lain, kinerja pasar saham tidak benar-benar mencerminkan situasi di sektor ekonomi masyarakat sehari-hari," klaim Bestari.

Ia menilai, pasar saham dapat bertumbuh tinggi. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi secara global malah minus. Hal ini disebut terjadi saat Covid-19 ketika harga saham tinggi usai ada stimulus bank sentral.

"Sebaliknya pasar saham bisa saja turun karena sentimen merespon volatilitas geopolitik tapi ekonomi sektor riil tetap tumbuh tinggi," tuturnya.

Ia turut menyinggung perubahan haluan dari pemerintahan Prabowo yang hendak menyelesaikan permasalahan struktural kebocoran penerimaan devisa dalam praktek under-invoicing dengan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah