Menuju konten utama

Menkes Ungkap Gaji Dokter di RI: Ada yang Miliaran Sebulan

Menkes Budi Gunadi soroti ketimpangan gaji dokter di RI. Ada senior yang kantongi miliaran sebulan, sementara yang lain setara tukang parkir.

Menkes Ungkap Gaji Dokter di RI: Ada yang Miliaran Sebulan
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memberikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). Dalam rapat tersebut Menkes mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi kekurangan sekitar 93.200 dokter umum secara nasional pada tahun 2032 apabila tidak dilakukan percepatan produksi tenaga medis. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menyoroti besarnya kesenjangan pendapatan atau take home pay di kalangan dokter Indonesia. Menkes mengungkap fakta mengejutkan ada dokter yang mampu meraup penghasilan hingga miliaran rupiah per bulan, sementara sebagian lainnya justru bernasib kontras.

“Bapak-Ibu, kita sering melihat banyak dokter-dokter yang mengeluh karena pendapatannya kecil. Kita akui. Tapi mungkin yang tidak pernah kita dengar adalah dokter-dokter yang penghasilannya miliaran sebulan. Itu kita nggak pernah dengar,” kata Budi dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi IX DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurut dia, persoalan utama yang perlu dibenahi bukan semata rendahnya pendapatan sebagian dokter, melainkan ketimpangan penghasilan yang terlalu lebar di dalam profesi tersebut.

“Jadi sesudah kita amati, gap-nya ini besar sekali,” ujarnya.

Budi membandingkan kondisi itu dengan sistem pengupahan di perusahaan maupun badan usaha yang umumnya memiliki batasan tertentu terhadap selisih penghasilan antara posisi tertinggi dan terendah.

“Mungkin kalau saya yang pernah datang dari perusahaan BUMN swasta, gap antara gaji tertinggi sama gaji terendah itu ada guidance-nya. Nah di profesi ini gap antara gaji tertinggi gaji terendah itu mungkin bisa ratusan sampai ribuan kali ya,” tutur dia.

Ia menjelaskan perhitungan tersebut mengacu pada keseluruhan pendapatan yang diterima dokter, termasuk gaji, tunjangan, dan jasa pelayanan kesehatan.

“Jadi yang lebih bermasalah adalah ketimpangan atau kesenjangan pendapatan. Pendapatan ini take home pay ya, bukan hanya dari gaji, tetapi juga dari tunjangan ditambah jasa layanan,” kata Budi.

Sementara itu, kata Budi, sebagian dokter lainnya hanya memperoleh pendapatan yang jauh lebih rendah.

“Nah yang ketiga topiknya adalah memang terdapat variasi besaran penghasilan yang jauh Bapak-Ibu ya, jauh. Saya nggak enak menyampaikan, di Jakarta sendiri pasti Bapak-Ibu tahulah ada yang dapatnya order-nya sebulan miliaran, ada yang dapatnya sebulan kita sering dengar apa kayak seperti tukang parkir yang ratusan ribu,” ujarnya.

Menurut Budi, ketimpangan tersebut juga terlihat dari besaran tunjangan yang diterima dokter spesialis yang sama di berbeda daerah. “Saya menyadari ya pasti biar bagaimana pun teman-teman dokter spesialis yang sama, lulusannya sama, lihat gini kan dia pasti akan sedih kan. ‘Kok teman saya di sana bisa dapat Rp80 juta, saya Rp3 juta’. Ya dokter gigi di Indragiri Hilir Rp1 juta, di Cianjur Jawa Rp30 juta tunjangannya ya,” katanya.

Oleh karena itu, Budi menuturkan Kemenkes tengah menyiapkan langkah-langkah untuk memperbaiki sistem remunerasi tenaga kesehatan. Budi mengakui tidak seluruh kewenangan berada di tangan Kemenkes karena sebagian berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah dan kementerian lain.

Meski demikian, ia menilai ketimpangan pendapatan yang terlalu besar perlu dibenahi agar distribusi tenaga kesehatan menjadi lebih merata dan dokter-dokter muda memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh akses kerja.

“Nah ketimpangan-ketimpangan ini juga kita amati. Dan ini yang pelan-pelan harus kita tata,” tutur Budi.

Baca juga artikel terkait GAJI DOKTER atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah