tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.943 pada perdagangan hari ini, Kamis (25/6/2026). Rupiah menguat 9 poin atau 0,05 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.952.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut, menguatnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal menguatnya rupiah, pemerintah telah melakukan berbagai skenario analisis dampak perang untuk rentang waktu 5 bulan, 6 bulan, hingga 10 bulan.
Ketergantungan impor minyak Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah disebut berada di level 20 persen. Langkah diversifikasi pasokan diklaim telah dilakukan dengan menyasar negara-negara Afrika, seperti Nigeria dan Gabon.
"Selain itu, pemenuhan energi juga ditopang oleh komitmen pembelian dari AS dan Venezuela melalui skema agreement on reciprocal tariff (ART). Oleh karena itu, pemerintah meyakini kondisi perekonomian Indonesia 2026 masih terjaga dengan baik," sebut Ibrahim dalam keterangannya, Kamis.
Ia menyatakan, kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 5,61 persen. Angka ini dinilai berada di atas rata-rata negara G20 maupun pertumbuhan ekonomi global.
Menurut dia, ketahanan makro juga tercermin dari posisi cadangan devisa yang bertengger di level USD144,9 miliar per akhir Mei 2026, realisasi investasi yang mencapai angka Rp498,8 triliun pada kuartal I tahun 2026, serta Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang masih tertahan di zona ekspansi marjinal pada level 50.
"Di balik capaian tersebut, ada catatan khusus terkait kinerja neraca perdagangan. Meski berhasil mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut, tren surplus tersebut kian menyusut," tuturnya.
"Dengan kondisi yang semakin menipis, pemerintah terus menggenjot sektor-sektor yang bisa menghasilkan devisa. Salah satunya adalah pariwisata yang menjadi low hanging fruit," lanjut Ibrahim.
Ia menyatakan, faktor eksternal menguatnya rupiah, kesepakatan awal untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran memungkinkan lalu lintas melalui selat untuk dimulai kembali. Hal ini berpotensi meredakan kekhawatiran pasokan yang membuat harga minyak mentah dunia merosot tajam.
Di satu sisi, kesepakatan tersebut menetapkan periode negosiasi selama 60 hari untuk menangani isu-isu yang lebih sulit termasuk program nuklir Iran. Minyak disebut akan terus mengalir melalui selat, meskipun kesepakatan tersebut tidak berlaku dan Iran tidak akan dapat menutupnya lagi.
Ibrahim melanjutkan, Oman membuka rute sementara untuk mempermudah keberangkatan kapal tanker dari Selat Hormuz, dengan Organisasi Maritim Internasional dan otoritas Oman mengoordinasikan pergerakan tersebut.
Namun, Ibrahim menyampaikan, penurunan harga minyak belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve. Sebab, bank sentral AS menunjukkan perpecahan di dewan dengan delapan dari 19 anggota, memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir 2026.
Sementara, mayoritas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil. Kemudian, fokus pasar adalah rilis ukuran inflasi pilihan Fed, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama tahun 2026 dan klaim pengangguran mingguan.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































